Cerita Kalvin Angelito Ang, Lulusan Program Asah led by Dicoding
Dua kali gagal masuk jurusan kedokteran sempat menjauhkan Kalvin Angelito Ang dari rencana awalnya. Namun, kegagalan itu justru membawanya menemukan bidang yang kini menjadi arah kariernya. Setelah diterima di Teknologi Informasi Universitas Udayana, Kalvin mulai mendalami dunia teknologi komputer dan menemukan ketertarikan pada pengembangan web.
Ia kemudian mengikuti program Asah untuk memperkuat kemampuan tersebut. Dua bulan setelah menyelesaikan program, Kalvin mendapatkan pekerjaan baru dan kini berkarier sebagai Fullstack Web Developer di PT Hanoman Jaya Abadi. Kalau kamu sedang merasa hilang arah atau mengalami kegagalan dalam menentukan karier, mari simak kisah Kalvin berikut ini!
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar Sekarang
Dari Teknologi Kesehatan ke Kedokteran, hingga Berakhir di Teknologi Seutuhnya
Kalvin lahir di Surabaya sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai tour guide berbahasa Mandarin, sedangkan ibunya merupakan karyawan swasta di bidang jasa. Sejak kecil, Kalvin melihat kedua orang tuanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan kedua adiknya.
Dari keluarganya, Kalvin memegang dua nilai penting. Pertama, “Ora et Labora” atau berdoa dan bekerja. Kedua, keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk mencapai sesuatu selama berusaha dan tidak bermalas-malasan.
Semangat tersebut ikut menemani Kalvin ketika menentukan pendidikan dan masa depannya. Sejak SD, ia sebenarnya sudah tertarik pada teknologi, terutama teknologi kesehatan. Baginya, teknologi yang dapat membantu menyelamatkan nyawa memiliki peran penting bagi kehidupan.
Ketertarikan itu membuat Kalvin berusaha masuk jurusan kedokteran. Namun, setelah dua kali mencoba, jalannya justru membawanya ke pilihan lain. Pada percobaan kedua masuk perguruan tinggi negeri, ia diterima di jurusan Teknologi Informasi di Universitas Udayana.
Di sana, Kalvin mulai mengenal teknologi komputer lebih dalam. Ia melihat bahwa teknologi memberikan ruang yang sangat luas untuk menciptakan sesuatu dan menyelesaikan berbagai permasalahan.
“Teknologi bisa jadi ujung tombak penciptaan. Ada berjuta-juta ide yang bisa kita capai hanya dengan mengetikkan baris kode dan memasukkan ide kita ke dalam kode tersebut,” ujar Kalvin.
Dari pengalaman tersebut, kegagalan masuk jurusan kedokteran perlahan berubah menjadi pintu menuju bidang yang akhirnya ingin Kalvin tekuni secara profesional.

Dari Belajar Autodidak Beralih ke Program Asah
Ketika memasuki dunia perkuliahan, Kalvin semakin tergerak mendalami Fullstack Web Development. Di tengah proses tersebut, Universitas Udayana menawarkan program Asah led by Dicoding yang menyediakan pembelajaran teknologi dengan konversi hingga 20 SKS.
Kesempatan itu langsung menarik perhatiannya. Selain dapat mempelajari teknologi lebih dalam, Kalvin melihat adanya kesempatan memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Ia kemudian memilih alur Front-End Web & Back-End with AI karena sesuai dengan bidang Full-stack Web Development yang sedang ia pelajari.
Sebelum mengikuti Asah, proses belajar Kalvin banyak mengandalkan tutorial dari YouTube. Cara tersebut membantunya mengenal coding, tetapi ia merasa belum memahami berbagai istilah teknis maupun proses kerja yang digunakan dalam lingkungan developer secara lebih menyeluruh. Namun kini, Program Asah memberikan pengalaman berbeda.
“Saya merasa benar-benar bisa fokus belajar ketika mengikuti Program Asah, bukan sekadar buka laptop, duduk, dan nonton. Karena materinya terstruktur dan ada target yang harus diselesaikan,” kata Kalvin.
Melalui program Asah, Kalvin tidak hanya mempelajari materi. Ia jadi terbiasa membaca dokumentasi, mencoba kode secara langsung, mengerjakan proyek, hingga menerima review atas hasil pekerjaannya.
Bahkan ketika merasa sudah memahami sebuah topik, Kalvin tetap menemukan pengetahuan baru dari kelas yang ia ikuti. Baginya, proses ini membantu mengubah cara belajarnya dari sekadar mengikuti tutorial menjadi memahami bagaimana seorang developer bekerja.

Belajar Menyelesaikan Masalah Bersama Tim Berkat Capstone Project
Meski semua terasa lancar, proses belajar Kalvin di Asah tentu ada tantangan tersendiri. Tantangan terbesarnya muncul ketika mengerjakan capstone project, terutama dalam mengatur waktu dan koordinasi tim untuk menyelesaikan project akhir ini.
Pada awalnya, pengerjaan project berjalan lancar. Namun, di pertengahan proses, timnya menemukan bug dan masalah yang tidak masuk dalam perencanaan. Situasi tersebut sempat membuat mereka panik.
Alih-alih menghindari masalah, Kalvin dan timnya memilih memperbaiki cara bekerja. Mereka membagi jadwal, mengerjakan proyek melalui Google Meet, memantau progres bersama, dan mendiskusikan masalah ketika muncul.
“Kami sadar bahwa panik dan kabur dari project gak akan mengubah situasi. Capstone project ini benar-benar melatih saya bekerja secara tim, persis seperti dunia kerja,” ucap Kalvin.
Pengalaman tersebut akhirnya memberikan pelajaran yang melampaui kemampuan menulis kode. Kalvin belajar mengelola pekerjaan bersama tim, menjelaskan ide, berkomunikasi ketika menghadapi masalah, dan mencari solusi bersama.
Sesi tanya jawab juga menjadi salah satu bagian terbaik dari proses belajar baginya. Kesempatan bertanya langsung kepada mentor membuat Kalvin dapat memperoleh penjelasan dan contoh yang membantunya memahami materi lebih cepat.
Setelah lulus dari program Asah, Kalvin merasa tidak hanya memperoleh tech skill. Ia juga membawa pulang soft skill, koneksi, teman baru, dan pengalaman yang mendukung persiapannya memasuki lingkungan profesional.

Dua Bulan Lulus dari Program Asah Berhasil Menjadi Full-stack Developer
Dampak pengalaman belajar dari program Asah semakin terasa saat Kalvin mulai mengikuti proses rekrutmen. Menurutnya, sebelum ikut program Asah, ia memahami pengembangan aplikasi secara sederhana: menulis kode, menjalankannya, melakukan pengujian, kemudian selesai.
Setelah mengikuti program Asah, ia mulai memahami istilah teknis, lingkungan kerja developer, cara menjelaskan sebuah ide, hingga cara mempresentasikan dirinya kepada orang lain.
“Saya jadi percaya diri mempresentasikan diri dan project saya di depan pewawancara dan bisa menjawab pertanyaan interview secara terstruktur berkat program Asah,” ujar Kalvin.
Kemampuan tersebut membantunya saat menjalani wawancara pekerjaan. Dua bulan setelah menyelesaikan program Asah, Kalvin berhasil mendapatkan pekerjaan baru.

Kini, ia bekerja sebagai Full-stack Web Developer di PT Hanoman Jaya Abadi. Dalam pekerjaannya, Kalvin bertanggung jawab membangun sekaligus melakukan maintenance website.
Ilmu dari program Asah pun tetap ia gunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Menurut Kalvin, manfaatnya tidak hanya berupa kemampuan teknis seperti menulis kode yang lebih mudah dibaca dan efisien. Ia juga belajar menjelaskan kode kepada rekan satu tim, memberikan gambaran mengenai sistem yang akan dibangun, serta mempresentasikan hasil pekerjaan kepada atasan dengan lebih terstruktur.
Ke depan, Kalvin ingin memperluas kemampuannya ke bidang data science dan machine learning melalui pendidikan S2. Ia juga memiliki mimpi membangun free and open source software yang dapat digunakan serta memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Don’t be a know-it-all, be a learn-it-all,” tutup Kalvin.
Baginya, teknologi akan terus berkembang. Karena itu, yang terpenting bukan sekadar mengetahui banyak teknologi, tetapi terus belajar hingga benar-benar memahami bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk merealisasikan sebuah ide.

Untuk kamu yang ingin mengembangkan skills digital melalui pembelajaran yang lebih terarah dan dekat dengan kebutuhan dunia kerja, program Asah dapat menjadi ruang untuk memperkuat kemampuan melalui materi, praktik, dan proyek. Lanjutkan perjalanan belajarmu bersama program intensif Dicoding: Asah! Lihat detail materi dan syarat pendaftarannya di dicoding.com/asah.