Cerita Fachrul Rozi Hamonangan Harahap, Lulusan Program Intensif Dicoding
Merasa tech skills-mu tertinggal dibanding orang-orang? Jangan khawatir, setiap orang pasti punya progres yang berbeda. Jadi, jika saat ini kamu merasa tertinggal, teruslah melaju seperti Fachrul Rozi Hamonangan Harahap (26), pemuda asal Batam yang baru bisa memahami dunia teknologi setelah memilih kuliah di jurusan Sistem Informasi.
Sebelum terjun ke dunia teknologi, Fachrul merupakan siswa IPS di SMA Negeri 2 Tanjungpinang. Namun, mimpinya untuk menjadi talenta digital mendorongnya untuk berkuliah di bidang yang sesuai dan beradaptasi dengan banyak konsep baru di dunia IT.
Perjalanan itu tidak mudah karena ia sempat merasa pemahamannya tertinggal dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Namun, kini Fachrul berhasil bersaing dan bekerja sebagai software developer di PT Mega Homan Indonesia.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangSimak cerita lengkap perjalanan Fachrul bertransisi dari bidang sosial humaniora ke dunia teknologi hingga menjadi seorang software developer!

Berawal dari Rasa Ingin Tahu pada Teknologi
Tidak seperti mahasiswa teknologi pada umumnya, Fachrul tidak berasal dari SMA berjurusan IPA. Saat mengenakan seragam putih abu-abu, ia memilih jurusan IPS. Setelah lulus, ia “menyeberang” dengan melanjutkan kuliah di jurusan Sistem Informasi (SI), Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan.
Keputusan itu muncul dari rasa ingin tahu yang besar terhadap cara kerja teknologi. Saat menyadari pilihannya untuk masuk perguruan tinggi negeri terkendala jurusan, Fachrul tetap mencari jalan lain dengan memilih kampus swasta dan mengambil Sistem Informasi.
“Sebesar itu keinginan saya mengetahui cara teknologi bekerja di balik layar, sampai saya menyebrang kuliah ke jurusan SI meski berasal dari lulusan IPS,” kenang Fachrul.
Perjalanan Fachrul memperlihatkan bahwa belajar IT tidak selalu harus dimulai dari latar belakang yang selaras. Rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan konsistensi dapat menjadi pintu masuk bagi siapa pun yang ingin berkembang di bidang teknologi.

Berawal Dari Kelas Gratis, Berujung Ikut Program Lengkap dengan Konversi SKS
Memasuki masa perkuliahan, Fachrul berkeinginan untuk mencoba kelas gratis untuk menambah ilmunya di luar perkuliahan. Di situlah dia bertemu dengan Dicoding. Pada salah satu kelas gratis dari Dicoding itu, Fachrul merasakan pengalaman belajar praktik sekaligus mendapatkan sertifikat sebagai bukti kemampuan dirinya menyelesaikan materi tersebut.
Hingga akhirnya, dia melihat Dicoding membuka program intensif dengan kurikulum yang tersusun sistematis sesuai alur spesialisasi belajar yang diinginkan, dia pun mendaftar. Terlebih program intensif Dicoding yang dia incar ini juga menawarkan konversi SKS.
Ia pun menyelesaikan pendaftarannya dan berhasil diterima di learning path front-end developer. Namun, pengalaman belajar itu justru membuka matanya terhadap realita dunia teknologi.
“Dalam program intensif di Dicoding, saya benar-benar belajar hal baru dan bisa membandingkan kemampuan diri saya serta bertukar knowledge dengan para siswa yang ada di sini,” ungkap Fachrul.
Dari pertemuannya dengan para siswa lain di program intensif Dicoding, ia sadar ternyata banyak peserta sudah menguasai hal-hal yang belum ia pahami. Fachrul mengakui bahwa ketika melihat siswa lain mengajukan pertanyaan yang belum ia pahami, ia merasa gap pemahamannya cukup jauh.
Meski begitu, ia tidak menyerah. Ia membuka kembali materi-materi dari program intensif Dicoding yang aksesnya terus terbuka selama program berlangsung. Dia mencoba mengulik kembali, mempraktikkannya dalam tugas submission, dan berdiskusi dengan mentor dalam program intensif Dicoding.

Program Intensif Dicoding Mengubah Cara Belajarnya
Di balik perjuangan Fachrul mengejar ketertinggalannya, cara pandangnya mengenai progres belajar pun berubah. Berkat program intensif Dicoding, dia melihat bahwa dunia teknologi memang menuntut tekad belajar yang serius. Ia memahami bahwa untuk bisa bertahan di bidang ini, seseorang perlu belajar dengan fokus dan mendalam.
“Saya melihat realita bahwa berada di dunia teknologi rupanya tidak mudah,” jelasnya. Ia juga menyadari bahwa teknologi terus berubah, sehingga proses belajar tidak bisa dilakukan setengah hati.
Salah satu perubahan penting yang ia rasakan terjadi pada cara belajarnya. Sebelum mengikuti program, Fachrul mencoba mempelajari banyak teknologi sekaligus. Namun, dari sesi instructor-led training (ILT) bersama expert yang dia ikuti dalam program intensif Dicoding, ia mendapatkan arahan yang mengubah pendekatannya.
“Fokus saja dulu untuk mempelajari dan mendalami satu teknologi. Nanti, belajar teknologi lain akan terasa jauh lebih mudah,” kenangnya.
Dari sana, Fachrul mulai mengubah strategi belajar. Ia memilih fokus mendalami teknologi .NET dari Microsoft.
Ini menjadi pengingat penting bahwa program belajar yang bagus bukan hanya membantu kita memahami materi, tetapi juga harus membantu kita menemukan arah belajar yang lebih jelas.

Fachrul: “Curiosity Membawaku Jadi Software Developer”
Setelah lulus dari program intensif Dicoding dan menyelesaikan studinya, Fachrul kini bekerja sebagai software developer di PT Mega Homan Indonesia. Dalam pekerjaannya, Fachrul menangani pengembangan aplikasi internal, pengelolaan database, pembuatan laporan, serta pemecahan masalah sistem dan perangkat yang digunakan perusahaan.
Dalam keseharian pekerjaannya itu, ia masih merasakan manfaat dari materi tech skills dan soft skills yang dia dapat dari program intensif Dicoding. Salah satunya adalah cara membagi tugas di tempat kerja berdasarkan skala prioritas. Dari program intensif Dicoding, dia belajar bahwa pekerjaan penting perlu ditangani sendiri, sementara pekerjaan lain dapat didelegasikan.

Ke depannya, Fachrul ingin fokus pada karier yang sedang dia bangun dan menelurkan lebih banyak proyek untuk meningkatkan nilai jual skills-nya. Dia berpesan kepada talenta digital di luar sana untuk mengedepankan kemampuan problem solving dan logika pemrograman dibandingkan berlomba-lomba menguasai tools atau bahasa pemrograman tertentu. Menurutnya, kedua hal tersebut menjadi modal besar yang akan terus terpakai sepanjang berkembangnya teknologi baru.
“Peliharalah rasa keingintahuan dalam dirimu. Karena ketika itu hilang, sudah pasti kamu akan tertinggal,” tutup Fachrul.
Perjalanan Fachrul menunjukkan bahwa latar belakang yang tidak selaras bukan penghalang untuk masuk ke bidang teknologi. Dengan rasa ingin tahu, proses belajar yang terarah, dan keberanian untuk terus mencoba, ia mampu bertumbuh hingga bekerja sebagai software developer.
Bagi kamu yang saat ini ingin memulai atau memperkuat skills-mu agar bisa berkarier di bidang IT setelah lulus nanti, ini saat yang tepat untuk mendaftarkan dirimu di program intensif Dicoding: Asah 2026!
Ikuti jejak Fachrul dan para lulusan Asah yang kini telah berhasil memiliki skills relevan sesuai kebutuhan industri dan portofolio proyek yang matang untuk turun ke dunia kerja. Program ini terbuka hanya untuk 2000 mahasiswa.
Cek syarat pendaftaran dan manfaat lengkapnya di dicoding.com/asah

