Cerita Rodiah Hasan Alaydrus, Lulusan Asah 2025
Masih banyak yang menganggap dunia IT, apalagi yang berhubungan dengan coding dan data, adalah “wilayah” laki-laki. Namun, Rodiah Hasan Alaydrus (21) santai saja mematahkan stereotip itu. Baginya, menjadi perempuan di industri teknologi bukan soal adu otot, tapi soal ketelitian, logika, dan kemauan untuk terus belajar.
Ketertarikan Rodiah pada teknologi sebenarnya berawal dari hal yang cukup unik. Dulu, saat SMA, dia adalah siswa jurusan IPS yang bercita-cita jadi psikolog. Namun, setelah membaca kisah Hedy Lamarr, seorang aktris sekaligus penemu teknologi dasar Wi-Fi, Rodiah jadi penasaran dan banting setir ke jurusan Informatika di Universitas Pancasila.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangMotivasi “Naik Kelas” Lewat Program Asah

Meski sudah kuliah di jurusan IT, Rodiah merasa belajar di kampus saja tidak cukup untuk menghadapi standar industri yang tinggi. Dia ingin punya bekal yang lebih solid agar bisa bersaing secara profesional. Inilah yang membawanya mendaftar di program Asah.
Motivasinya sederhana. Dia ingin fokus mendalami satu bidang, yaitu machine learning, dan mengasah soft skills yang sempat membuatnya beberapa kali gagal saat melamar magang. Dia butuh kurikulum yang relevan agar portofolionya tidak cuma berisi tugas kuliah yang teoritis, tapi benar-benar mencerminkan kasus nyata di industri.
Belajar dalam Program Asah: Seru Meski Menantang

Pengalaman Rodiah di Asah benar-benar membuka matanya. Meski harus pintar-pintar mengatur waktu karena sistem belajarnya mandiri atau self-paced, dia merasa lingkungan di sana sangat suportif.
Baginya, bagian paling berkesan adalah saat mengerjakan capstone project bersama timnya di Jakarta, yang membuat proses belajar yang berat jadi terasa jauh lebih menyenangkan. Rodiah juga sangat mengapresiasi kualitas bimbingan yang ia terima selama program.
“Program Asah memberikan saya lebih dari sekadar materi teknis. Mereka membentuk mentalitas profesional saya melalui kurikulum yang sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” ungkap Rodiah.
Mentor dan instruktur di sana juga punya peran besar dalam membantu Rodiah memahami konsep-konsep rumit dengan cara yang lebih sederhana.
“Instruktur dan mentor di Asah benar-benar memastikan setiap konsep tersampaikan dengan jelas, sehingga tantangan teknis yang awalnya terlihat mustahil menjadi masuk akal untuk dipecahkan,” tambahnya.
Berkarier di Bank Mandiri Taspen setelah Lulusan dari Program Asah

Hasil dari kerja kerasnya di program Asah terbayar lunas. Saat ini, Rodiah berhasil menempati posisi sebagai Data Analyst Intern di Bank Mandiri Taspen. Di sana, dia membantu tim Enterprise Data Management untuk mengolah dan memvisualisasikan data menggunakan Python dan Tableau.
Menariknya, saat sesi interview user di Mandiri Taspen, Rodiah menggunakan proyek-proyek yang ia kerjakan di Asah sebagai portofolio utamanya. Bekal ilmu Machine Learning yang ia dapatkan membuatnya punya nilai lebih dibandingkan kandidat lain, karena ia bisa mengolah data dengan pendekatan yang lebih canggih, seperti Natural Language Processing (NLP).
“Bergabung dengan program Asah adalah investasi terbaik bagi saya karena lingkungan belajarnya mendorong saya untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pencipta solusi yang andal,” tutupnya.
Kisah Rodiah adalah pengingat buat kita semua, terutama para mahasiswi IT, bahwa satu-satunya orang yang bisa menentukan batas kemampuan kita adalah diri kita sendiri. Dengan rasa percaya diri yang kuat seperti tokoh favoritnya, Elle Woods, Rodiah membuktikan bahwa latar belakang IPS pun bukan halangan untuk sukses menjadi talenta digital di institusi besar seperti Mandiri Taspen.
