Cerita Muhammad Ravi Habibillah Lulusan Program Intensif Dicoding
Haruskah kita khawatir jika belum tahu mau jadi apa selepas lulus nanti? Sebenarnya tidak perlu khawatir karena kita bisa curi start untuk mendalami role yang diinginkan sebelum lulus nanti.
Tentunya hal itu agar kita lebih siap dan punya portofolio yang cukup untuk bersaing memperebutkan role tersebut di bursa kerja.
đź’» Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangSeperti halnya Muhammad Ravi Habibillah (26). Dia sadar bahwa mahasiswa informatika punya pilihan yang luas setelah lulus nanti. Kita bisa bekerja di bidang web, mobile, data, cloud, bahkan cyber security. Namun, sayangnya, beberapa mahasiswa banyak yang ragu melangkah dan portofolionya jadi ikut tidak terarah.
Tak ingin seperti itu, Ravi pun melabuhkan hatinya pada mobile developer sejak kuliah dan memilih program intensif Dicoding untuk membentuk kesiapan skill teknis dan portofolionya.
Usahanya pun berjalan mulus. Ravi berhasil diterima bekerja menjadi mobile developer tepat delapan bulan setelah lulus dari program intensif Dicoding.
Kini, dua tahun setelah lulus dari program intensif Dicoding, Ravi membagikan resep rahasianya dari mahasiswa hingga bisa menjadi mobile developer.Â
Simak ceritanya di bawah ini!

Didikan Minang Sedari Kecil: Jadilah Mandiri, tapi Tidak Memaksakan Diri
Ravi adalah anak tunggal. Ayahnya bekerja di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, mengelola manifest kapal laut. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang punya usaha sampingan berdagang makanan.
Meski menjadi anak tunggal, kedua orang tuanya tidak pernah membebani Ravi dengan ekspektasi yang memberatkan. Ayah dan ibu merasa cukup dengan melihat Ravi tumbuh jadi anak yang bertanggung jawab, bijak, dan mandiri.
Bahkan, kedua orang tua Ravi membebaskannya memilih pilihan hidup sendiri ingin menjadi apa saat dewasa nanti. Kedua orang tuanya selalu menekankan bahwa menjadi mandiri itu penting, namun tetap mengukur kapasitas diri, agar kita tahu kapan waktunya untuk mencari bantuan orang lain.
“Ayah-ibu berpesan kalau mentok, jangan memaksakan diri, mintalah bantuan. Begitu pun sebaliknya, karena dari situ, kita belajar empati peduli dengan sekitar,” ucap Ravi.
Hal ini pun terbawa hingga Ravi besar memilih kuliah di UPN Veteran Yogyakarta, jurusan Teknik Informatika. Selama menjadi mahasiswa, Ravi senang sekali memecahkan bug sendiri tanpa bantuan orang lain.
Namun, tibalah saat dia mulai menggeluti dunia mobile development, di situlah dia mulai mencari bantuan para instruktur ahli dari program intensif Dicoding.

Dari Warnet Sampai Ketagihan Bug Fixing
Ketertarikan Ravi pada teknologi muncul sejak SMP, dari kebiasaan main komputer di warnet. Awalnya sederhana, dia hanya ingin eksplor dunia teknologi lewat bilik kecil itu.
Ketika masuk kuliah Teknik Informatika, Ravi yang punya jiwa mandiri sangat menikmati momen-momen saat dia berhadapan dengan bug sendirian. Proses mencari akar masalah, mencoba beberapa pendekatan, sampai akhirnya berhasil memperbaiki bug tersebut baginya sangat rewarding.
Hingga akhirnya dia masuk ke bidang yang lebih mengerucut yaitu mobile developer, di situlah dia merasa perlu bimbingan ahli. Dia pun mencari berbagai program yang ditawarkan Kampus Merdeka, dan pilihannya jatuh ke program intensif Dicoding yang saat itu menawarkan alur belajar Multi-Platform Development.
Pas sekali, saat itu Ravi memang ingin tahu bagaimana cara membuat satu codebase agar bisa terpakai di berbagai platform dan program intensif Dicoding berhasil mengajarinya secara terstruktur dan mendalam mengenai pengembangan aplikasi.
“Materi program intensif Dicoding itu aplikatif. Saya dapat tugas dan project yang bisa menguji kemampuan praktik saya,” ujar Ravi.

Skill Flutter Mantap dan Dapat Banyak Relasi
Selain memperdalam skill flutter-nya, Ravi ternyata juga menikmati lingkungan belajar yang ada di dalam program intensif Dicoding.
Lewat program ini, Ravi jadi mengenal siswa lainnya di seluruh Indonesia. Dia diharuskan untuk bekerja secara tim dalam pengerjaan tugas capstone project selama beberapa bulan. Hasilnya, kini dia terbiasa berkomunikasi dan berkolaborasi dengan anggota tim yang berbeda latar belakang.
Dari sisi soft skill, Ravi juga diajarkan materi mengenai manajemen waktu, personal branding, networking, dan critical thinking, yang kini dia rasakan manfaatnya setelah bekerja.
Meski perjalanannya selama belajar dalam program intensif Dicoding terasa mulus, Ravi tetap menemukan challenge pribadi.
Dengan program yang di-desain 100% online, tentu menuntut Ravi punya kontrol diri yang tinggi untuk bisa belajar mengikuti jadwal yang ditentukan, yang mana kadang rasa malas tersebut datang dan sulit diatur.
Namun beruntung, selama berada dalam program intensif Dicoding, Ravi memiliki mentor yang siap mendengarkan, memberi solusi, dan membimbing Ravi agar tetap on-track sesuai jadwal hingga lulus dari program ini.
“Meski online, program intensif Dicoding mendukung belajar berkelompok. Saya beneran ngerasain proses bikin aplikasi as a team,” ujar Ravi.

Paham Materi Esensial, Diterima Kerja Jadi Mobile Developer
Saat menyusun tugas akhirnya di program intensif Dicoding, Ravi dan tim memilih membuat proyek aplikasi pencatatan keuangan.Â
Di situ dia belajar brainstorming ide aplikasi berdasarkan kebutuhan industri, berbagi tugas dengan anggota tim, hingga menyelesaikan seluruh fitur dalam aplikasi mereka secara bersama-sama. Bila melihat kebelakang, pengalaman itulah yang kini membentuk Ravi menjadi developer yang siap di kantor.Â
Kini, Ravi sudah bekerja sebagai mobile developer di ENB Mobile Care, sebuah perusahaan teknologi yang menyediakan sistem dan layanan trade-in gadget untuk brand serta retail elektronik di Indonesia.
Sebagai mobile developer, tugas Ravi sehari-hari adalah melakukan maintenance aplikasi, bug-fixing, meningkatkan performa, dan membangun aplikasi baru sesuai kebutuhan perusahaan.
Meski sudah lulus sejak 2022 dari program intensif Dicoding, bagi Ravi ilmu dari kelas-kelasnya sangat membantu bahkan hingga saat ini dia sudah bekerja. Materi pemrograman Android, Multi-platform, Dart, dan Flutter membantu kesehariannya.
Bahkan dia masih menerapkan prinsip SOLID dalam coding yang diajarkan dalam program intensif Dicoding. Sehingga kode yang dia tulis lebih rapi, mudah dikembangkan, dan mudah di-maintain.
“4 tahun sudah saya lulus dari Dicoding, tapi sampai saat ini materi Android, Multi-platform, Dart, dan Flutter-nya tetap terpakai saat saya kerja,” ujar Ravi.

Ke depan, Ravi ingin memperbanyak proyek untuk menambah portofolio dan membuka peluang freelance, termasuk dengan klien luar negeri. Baginya belajar dalam dunia tech tidak ada selesainya.Â
Dia berharap para talenta digital lain juga merasakan yang sama dan mengutamakan proses dibanding hasil.
“Pahami proses dibanding mengejar hasil karena itulah kamu bisa berkembang,” tutup Ravi.

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu masih bingung ingin menjadi apa selepas lulus nanti? Kamu masih punya waktu yang cukup untuk curi start sebelum masuk bursa kerja.
Yuk! Temukan role developer yang kamu inginkan dan belajar dengan kurikulum yang sesuai standar industri di Dicoding.Nantikan pendaftaran program intensif Dicoding: Asah 2026 di dicoding.com
