Cerita Nabila Alawiyah, Lulusan Asah led by Dicoding
Tidak semua perjalanan menuju dunia teknologi dimulai dengan keberhasilan. Ada yang diawali oleh keterbatasan, keraguan, bahkan penolakan yang datang berulang kali. Namun, bagi Nabila Alawiyah (22), setiap kegagalan justru menjadi alasan untuk terus melangkah lebih jauh.
Saat banyak orang memilih menyerah setelah impian pertamanya tidak terwujud, Nabila memilih jalan berbeda. Ia terus belajar, membuka diri terhadap peluang baru, dan membuktikan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh satu kegagalan, tetapi oleh keberanian untuk terus bertumbuh.
đź’» Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangKeputusan itulah yang kemudian membawanya menjadi lulusan program Asah led by Dicoding, memperoleh kesempatan magang di FIFGROUP sebagai IT Operation Intern, hingga dipercaya berbicara di hadapan ratusan peserta dalam sebuah acara teknologi.
Bertumbuh di Tengah Keterbatasan dan Harapan Orang Tua

Nabila lahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara dalam keluarga sederhana. Ayahnya merupakan seorang pedagang yang kini sudah tidak lagi bekerja setelah menjalani operasi, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang juga membantu perekonomian keluarga dengan berdagang.Â
Meski hidup dalam kondisi yang tidak selalu mudah, kedua orang tuanya tidak pernah berhenti memberikan dukungan terhadap pendidikan anak-anaknya.
Sejak kecil, Nabila memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu cara terbaik untuk membuka peluang yang lebih besar di masa depan. Dukungan dan kepercayaan dari orang tua menjadi bahan bakar yang membuatnya terus berusaha mengejar impian.
Ketertarikannya terhadap teknologi mulai tumbuh saat duduk di bangku SMA. Kala itu, ia mengikuti ekstrakurikuler Information and Communication Technology (ICT) yang memperkenalkannya pada dunia teknologi informasi.Â
Meskipun kesempatan belajar yang diperoleh masih terbatas karena pandemi dan minimnya peserta perempuan dalam kegiatan tersebut, pengalaman itu cukup untuk menumbuhkan rasa penasaran yang besar terhadap dunia teknologi.
Nabila kemudian bercita-cita melanjutkan pendidikan Informatika di perguruan tinggi negeri. Namun, perjalanan tersebut tidak berjalan sesuai dengan harapan. Ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya belum berhasil lolos ke kampus impian.
Alih-alih terpuruk, Nabila memilih bangkit dan melanjutkan pendidikan dalam Program Studi Informatika Universitas Gunadarma. Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya untuk terus berkembang sebagai talenta digital.
Memilih Belajar Lebih dari yang Diajarkan Kampus

Bagi Nabila, kuliah bukanlah garis akhir pembelajaran. Justru semakin mempelajari teknologi, semakin ia menyadari bahwa dunia IT berkembang jauh lebih cepat daripada kurikulum formal.
Kesadaran itulah yang membuatnya tertarik mengikuti program Asah setelah mengetahui informasinya melalui media sosial Dicoding. Saat mendaftar, ia memilih learning path React & Back-End Development karena ingin memahami pengembangan web secara lebih mendalam, mulai dari perancangan arsitektur hingga penggunaan teknologi yang banyak diterapkan di industri saat ini.
“Meskipun saya berkuliah di program studi Informatika, saya ingin melengkapi materi yang diberikan di kampus karena dunia IT sangat luas dan terus berkembang. Oleh karena itu, saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk terus belajar dari berbagai sumber dan meningkatkan kemampuan saya di bidang teknologi,” ungkap Nabila.
Keputusan tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan profesionalnya.
Belajar Intensif dalam Program Asah led by Dicoding

Pengalaman belajar dalam Asah memberikan kesan yang berbeda bagi Nabila. Menurutnya, program ini tidak hanya menghadirkan materi teknis yang relevan dengan industri, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan interaktif.
“Sesinya sangat interaktif dan selalu responsif ketika saya menghadapi beberapa kendala selama program. Kami diberikan fasilitator yang membuat kami terus termotivasi untuk mencapai target belajar. Selain itu, ada juga sesi instructor-led training (ILT) bersama instruktur yang benar-benar ahli di bidangnya sehingga kami bisa bertanya langsung terkait implementasi ilmu tersebut di dunia kerja,” jelasnya.
Meski demikian, perjalanan belajarnya tidak selalu mudah. Pada saat mengikuti Asah, Nabila juga sedang menjalani program magang. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan, perkuliahan, tugas akhir, dan proses belajar yang cukup intensif.
Tantangan tersebut sempat membuatnya kewalahan. Namun, materi soft skills yang diberikan dalam program Asah justru membantunya mengatasi situasi tersebut.
“Berkat ILT soft skills yang salah satu materinya membahas manajemen waktu, saya jadi lebih bisa mengatur berbagai aktivitas. Salah satu yang paling membantu adalah membiasakan diri membuat penjadwalan menggunakan Google Calendar,” ujarnya.
Selain aspek soft skills, sesi demonstrasi pada ILT tech juga membantu Nabila memahami konsep-konsep teknis yang sebelumnya terasa sulit dipahami hanya melalui modul pembelajaran mandiri.
Capstone Project yang Mengubah Cara Berpikir

Di antara seluruh rangkaian program Asah, bagian yang paling berkesan bagi Nabila adalah proses pengerjaan capstone project.Â
Dalam tahap ini, peserta ditantang untuk menyelesaikan studi kasus yang menyerupai kebutuhan nyata di industri. Mereka juga memperoleh kesempatan berkonsultasi langsung dengan advisor yang berpengalaman sebelum memasuki proses peer review.
“Bagian terbaiknya adalah ketika capstone project. Kami diberikan case study yang harus dipecahkan, lalu ada sesi mentoring bersama advisor expert. Advisor saya sangat membantu tim untuk membuat proyek yang jauh lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan studi kasus yang diberikan,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuat Nabila tidak hanya belajar membangun produk teknologi, tetapi juga memahami cara berpikir yang dibutuhkan ketika menghadapi permasalahan nyata dalam dunia kerja.
Memulai Karier di FIFGROUP

Dampak program Asah mulai terasa ketika Nabila mengikuti proses rekrutmen untuk posisi IT Operation Intern di FIFGROUP.Â
Persaingan yang dihadapinya tidaklah ringan. Ia harus bersaing dengan belasan ribu pelamar lain yang juga mengincar kesempatan serupa. Namun, pengalaman belajar yang diperolehnya dari Asah menjadi salah satu bekal penting dalam proses tersebut.
“Iya, pengalaman belajar di Asah cukup berpengaruh. Terutama ketika proses wawancara, saya mencoba menerapkan metode yang saya pelajari saat ILT soft skills. Selain itu, saya juga menambahkan portofolio proyek yang saya kerjakan selama mengikuti Asah, khususnya capstone project,” jelas Nabila.
Kini, Nabila menjalani peran sebagai IT Operation Intern di FIFGROUP. Dalam pekerjaannya, ia mempelajari alur bisnis dan aspek teknis berbagai aplikasi perusahaan agar mampu membantu menangani berbagai permasalahan yang muncul pada sistem.
Ia mengaku bahwa berbagai materi yang dipelajari dalam Asah masih sangat relevan dengan pekerjaannya hingga saat ini, terutama fondasi pemrograman, dokumentasi sistem, pemahaman kebutuhan pengguna, serta penggunaan API dan tools pendukung pengembangan perangkat lunak.
Menjadi Pembicara di Hadapan Lebih dari 300 Peserta

Perjalanan Nabila tidak berhenti pada keberhasilannya mendapatkan kesempatan magang di perusahaan besar. Seiring bertambahnya pengalaman dan kepercayaan diri, ia juga mulai aktif berbagi pengetahuan kepada orang lain.
Salah satu pengalaman yang paling membanggakan baginya adalah ketika dipercaya menjadi pembicara dalam sebuah acara luring yang diselenggarakan oleh komunitas Google Developer Group (GDG) on Campus Gunadarma University yang dihadiri lebih dari 300 peserta. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses belajar yang konsisten mampu membangun kepercayaan diri seseorang untuk tampil dan berbagi di depan publik.
Bagi Nabila, keberanian untuk berbicara di hadapan banyak orang bukanlah sesuatu yang datang secara instan. Kemampuan tersebut tumbuh melalui proses panjang belajar, berorganisasi, dan terus keluar dari zona nyaman.
Terus Bertumbuh, Sekecil Apa Pun Langkahnya
Jika ada satu hal yang ingin Nabila bagikan kepada talenta digital lainnya, khususnya perempuan yang sedang berjuang mengejar impian di dunia teknologi, itu adalah pentingnya untuk tidak menyerah pada keadaan.
Ia memahami betul rasanya menghadapi penolakan, meragukan diri sendiri, dan merasa tertinggal dibandingkan dengan orang lain. Namun, pengalaman hidup mengajarkannya bahwa setiap langkah kecil tetap merupakan sebuah kemajuan.
“Keep growing. Sekecil apa pun progres yang kita dapat tetaplah sebuah kemajuan. Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi keputusan dan tindakan kita hari ini dapat mengubah diri kita di masa depan,” tutup Nabila.
Perjalanan Nabila membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal. Kadang, ia berawal dari keberanian untuk mencoba sekali lagi setelah gagal, kemauan untuk terus belajar meski sudah kuliah dalam bidang yang sama, dan keyakinan bahwa proses yang dijalani hari ini akan membuka peluang yang lebih besar di masa depan.
