Cerita David Yappeter, Lulusan Program Intensif Dicoding
Pernahkah kamu merasa tertarik pada teknologi, tetapi masih bertanya-tanya apakah proses belajar yang tepat bisa benar-benar membantu kariermu berkembang? David Yappeter (24), pemuda asal Medan yang kini berdomisili di Jakarta, mulanya memiliki pertanyaan yang sama.
Ia mulai mengenal pemrograman sejak SMA. Ketertarikannya pada web development tumbuh dari pelajaran yang dia dapat di lab komputer yang memperkenalkannya pada dasar pemrograman.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangKetertarikan itulah yang membuat David berhasil mengembangkan skills lebih luas hingga diterima bekerja sebagai software development engineer di GDP Labs.
Simak bagaimana strategi David mengembangkan skills untuk memperluas peluang kerjanya di bawah ini!

Minat Teknologi yang Tumbuh dari Bangku Sekolah
Ketertarikan David pada dunia teknologi tidak muncul secara tiba-tiba. Saat berada di tahun terakhir SMA, ia mulai merasa bahwa teknologi adalah bidang yang menarik untuk dipelajari lebih dalam. Pengalaman belajar di lab komputer menjadi titik awal yang mempertemukannya dengan dasar pemrograman.
“Awalnya karena belajar di lab komputer saat SMA. Dari situ, saya punya ketertarikan terhadap teknologi, khususnya web development,” cerita David.
Setelah lulus dari SMA Sutomo 2, David melanjutkan pendidikan di Universitas Mikroskil dengan mengambil jurusan Teknik Informatika. Pilihan ini menjadi langkah yang selaras dengan minatnya terhadap pengembangan web dan dunia teknologi.
Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, David dikenal sebagai pribadi yang punya keinginan teguh. Di balik keinginannya mengejar passion, ia tetap memegang nasihat sederhana dari kedua orang tuanya: “Kalau belum mampu menjadi sebaik yang diharapkan, paling tidak jangan sampai merugikan orang lain,” ungkap David.
Nasihat itu membentuk David menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Ia belajar bahwa mengejar impian bukan hanya soal ambisi, tetapi juga tentang menjaga agar pilihannya tidak merugikan orang lain.

Memilah Program Belajar Dari Materi dan Lingkungan Belajarnya
Memasuki masa perkuliahan, David mulai mendorong passion-nya lebih jauh dengan mencari program belajar berbasis praktik di luar kampus. Di situlah dia bertemu dengan program intensif di Dicoding yang dia kenal dari Kampus Merdeka.
Tertarik dengan kurikulum yang ditawarkan serta lingkungan belajarnya yang dikenal suportif, David pun mendaftarkan dirinya dan memilih alur pembelajaran Pengembang Front-End Web dan Back-End. Keputusan ini ia ambil karena mendengar testimoni kualitas pembelajaran Dicoding.
“Saya melihat program Dicoding sebagai salah satu program terbaik di Kampus Merdeka, karena kualitas materi, rangkaian pembelajaran yang sistematis, serta lingkungan yang mendukung kerja sama antarpeserta,” ungkap David.
Tentu, jika kamu juga sedang mempertimbangkan untuk mencari program belajar di luar kampus, aspek materi yang sistematis juga harus dipertimbangkan dengan matang, agar progres belajarmu tidak terhenti di tengah jalan dan kamu bisa menerapkan materi yang didapat secara hands-on supaya memahami praktiknya nanti di dunia kerja.

Mengasah Tech Skills & Soft Skills Lewat Capstone Project
Selama mengikuti program intensif Dicoding, David merasa pengalaman belajarnya menyenangkan. Ia menikmati materi yang diberikan, merasa penjelasannya mudah dipahami, dan bertemu dengan teman-teman baru. Namun, pengalaman paling berdampak baginya hadir saat mengerjakan capstone project bersama tim.
“Tugas akhir pengerjaan capstone project bersama tim menjadi pengalaman pertama saya dalam memimpin dan mendelegasikan tugas-tugas dengan baik,” jelas David.
Dalam proyek tersebut, David menghadapi tantangan baru, yaitu memimpin tim kecil dalam proses pengembangan. Ia belajar melakukan brainstorming, membagi tugas, serta menyusun rencana penyelesaian proyek dengan lebih baik. Tantangan ini membantunya memahami bahwa kemampuan di bidang teknologi tidak hanya berkaitan dengan coding, tetapi juga kolaborasi dan manajemen kerja.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk dunia profesional. Setelah program selesai, David merasa memperoleh pengalaman project management dalam skala kecil. Ia bahkan tetap mencantumkan pengalaman belajarnya di Dicoding ke dalam CV hingga kini karena progres belajar yang dia rasakan di Dicoding menarik untuk diceritakan saat interview sebagai legitimasi kemampuan praktik yang dia punya.

Dampak Belajar yang Terasa dalam Pekerjaan Profesional
Kini setelah lulus dari program intensif Dicoding, David berhasil bekerja sebagai software development engineer di GDP Labs, sebuah software house yang melayani pembuatan produk digital untuk klien di seluruh Indonesia.
Sebagai software engineer, David juga menjalankan peran sebagai back-end developer untuk produk internal perusahaan berupa RAG Chatbot. Selain itu, keahlian profesional yang sudah dia miliki sekarang juga membuatnya ditempatkan sebagai penanggung jawab sistem coding test untuk kandidat karyawan baru di GDP Labs.
Baginya, materi tech skills dan soft skills dari program intensif Dicoding memiliki dampak besar terhadap pekerjaannya saat ini. Salah satunya adalah kemampuan manajerial dan pemahamannya mengenai ilmu pemrograman.
“Pengalaman membuat proyek di program intensif Dicoding membantu saya lebih terlatih saat terjun di dunia kerja. Hingga kini setelah bekerja, saya didapuk menjadi mentor untuk karyawan baru di kantor,” kata David.

Menanggapi David yang kini didapuk menjadi mentor untuk karyawan baru di kantor, David juga menyampaikan pesan bagi talenta digital yang akan memasuki dunia kerja. Dia berharap para mahasiswa tetap bijak menggunakan AI agar tidak kehilangan kemampuan problem solving yang menjadi core skills dari seorang programmer, seperti halnya yang telah diajarkan program intensif Dicoding kepadanya.
“Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan diri. Tetap seimbangkan kemampuan produktifmu sebagai programmer,” tutup David.

Perjalanan David membuktikan bahwa minat pada teknologi dapat berkembang lebih jauh ketika didukung pembelajaran yang tepat, proyek yang menantang, dan lingkungan belajar yang kolaboratif.
Untuk kamu yang ingin mengembangkan kemampuan teknologi secara lebih terarah, ayo daftarkan dirimu di program intensif Dicoding: Asah 2026!
Program ini terbuka untuk mahasiswa aktif dari jurusan apa pun. Kamu berkesempatan untuk mendapatkan program belajar senilai Rp14.000.000 hanya dengan membayar biaya registrasi sebesar Rp250.000,-.
✅Tidak ada biaya apa pun selain biaya registrasi.
✅Jika lulus tes → mendapatkan program belajar senilai Rp14.000.000 + kelas bonus dari Dicoding.
✅Jika gagal tes → mendapatkan kelas bonus dari Dicoding.
Daftarkan dirimu sekarang sebelum 6 Agustus 2026 di dicoding.com/asah.
