Cerita Dandi Irwanto, Lulusan Program Intensif Dicoding
Apa yang terjadi ketika rasa penasaran kecil terhadap teknologi tumbuh menjadi jalan karier yang mengubah hidup? Itulah perjalanan Dandi Irwanto (25), anak kedua dari dua bersaudara asal Rembang yang kini bekerja sebagai back-end developer di Bank CIMB Niaga.
Dandi tumbuh dalam keluarga sederhana dengan orang tua yang berprofesi sebagai petani, lalu kehilangan ayahnya saat masih duduk di bangku SMA kelas 11. Dari pengalaman hidup itu, ia belajar tentang kerja keras, disiplin, dan pantang menyerah.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangNamun, perjalanan Dandi menjadi bukti bahwa rasa keingintahuan yang di-Asah dengan bimbingan sempurna bisa menuntunmu menggapai karier yang diimpikan.
Untuk kamu yang saat ini masih bingung bagaimana cara meng-Asah skills dengan baik, cerita Dandi bisa kamu jadikan tolak ukur. Simak ceritanya di bawah ini!

Berawal dari Sebuah Notebook Hadiah Pemberian Ayah dan Ibu
Ketertarikan Dandi pada teknologi muncul sejak kelas lima SD. Saat itu, ia mendapat hadiah sebuah notebook dari orang tuanya karena berhasil menjadi juara kelas. Bagi Dandi kecil, notebook itu bukan sekadar hadiah, melainkan pintu pertama untuk mengenal dunia teknologi.
Ia mulai mengutak-atik sistem operasi, mencoba berbagai tools open source, hingga pernah mengalami notebook terkena hack. Pengalaman itu tidak membuatnya takut. Sebaliknya, rasa ingin tahunya justru semakin besar.
“Saya sering mengutak-atik sistem operasi pada notebook, mencoba berbagai tools open source tanpa benar-benar memahami sumber dan risikonya, hingga pernah mengalami notebook terkena hack,” kenang Dandi.
Saat SMA, tepatnya kelas 12 pada tahun 2019, Dandi mulai serius mengikuti perkembangan teknologi. Ia kemudian memutuskan melanjutkan kuliah di jurusan Informatika di Universitas Teknologi Digital Indonesia. Keputusan itu tidak mudah karena ia harus merantau tanpa koneksi maupun relasi. Namun, Dandi ingin membuktikan bahwa ia bisa berkembang dengan usahanya sendiri.
Di awal kuliah, targetnya sederhana: mengikuti perkuliahan dengan baik dan mendapat nilai bagus. Namun, saat memasuki semester 3, ia menyadari bahwa teori saja tidak cukup. Ia membutuhkan kemampuan praktik yang lebih kuat agar dapat benar-benar siap untuk masuk ke dunia kerja teknologi.

Nekat Merantau Tanpa Relasi, Belajar dari Dasar
Kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan praktik membawa Dandi pada pencarian pelatihan coding di internet. Dari situlah ia menemukan salah satu program Dicoding. Pengalaman pertamanya bersama Dicoding menjadi titik awal yang mempertemukannya dengan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Dandi sempat mengikuti program tersebut dengan penuh semangat dan berhasil lolos ke tahap berikutnya. Namun, di tengah perjalanan, ia menghadapi masalah personal yang mengganggu fokus belajarnya. Langkahnya sempat terhenti di tahap kedua.
Meski begitu, pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia justru semakin yakin bahwa dunia teknologi adalah bidang yang ingin terus ia tekuni.
“Walaupun begitu, pengalaman tersebut tidak membuat saya menyerah. Saya justru semakin sadar bahwa saya ingin terus berkembang di bidang teknologi,” ujar Dandi.
Pada semester 4, Dandi mengetahui bahwa Dicoding mengeluarkan program yang lebih intensif, yakni membekali siswa materi secara end-to-end dan dilengkapi sesi belajar terbimbing dengan format instructor-led training (ILT) sebagai pembeda dari program lainnya.
Ia pun kembali memilih Dicoding karena sudah merasa cocok dengan metode pembelajarannya. Kali ini, ia memilih learning path front-end dan back-end developer karena ingin memahami bagaimana aplikasi dibangun, baik dari sisi tampilan maupun sistem di belakangnya.
Tantangan yang ia hadapi tidak kecil. Dandi berasal dari jurusan IPA saat SMA, tidak mengambil studi di SMK dengan jurusan yang berkaitan dengan komputer. Hal itu membuat Dandi harus belajar banyak hal dari dasar ketika mulai memahami coding dan konsep pengembangan aplikasi. Ia juga sering menghadapi error saat praktik. Namun, perlahan ia belajar bahwa error bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses menjadi lebih baik.

Merasakan Perubahan Cara Pandang dalam Melihat Karier Setelah Mengikuti Program Intensif di Dicoding
Bagi Dandi, pengalaman belajar di program intensif di Dicoding menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya. Ia tidak hanya mendapatkan hard skills dalam pengembangan web, tetapi juga membangun kedisiplinan, mental belajar, dan cara berpikir yang lebih matang.
Materi yang diberikan membuatnya memahami bahwa dunia teknologi tidak hanya tentang kemampuan coding. Ada kemampuan komunikasi, kerja sama, berpikir kritis, dan problem solving yang sama pentingnya dalam dunia profesional.
Mentor dan lingkungan belajar juga menjadi bagian yang berkesan. Salah satu kalimat dari mentor bahkan masih membekas bagi Dandi hingga sekarang.
“Mentor saya bilang: 0.1% itu juga progress, jangan berkecil hati,” kenang Dandi.
Kalimat tersebut membantunya melihat proses belajar dari sudut pandang yang lebih sehat. Perkembangan tidak harus selalu besar dan cepat. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan terus bergerak, sekecil apa pun kemajuan tetap berarti.
Dandi juga membiasakan diri mencari solusi secara mandiri melalui dokumentasi, forum diskusi, dan referensi lain. Ketika belum menemukan jawaban, ia berdiskusi dengan mentor dan sesama peserta. Dari proses itu, ia belajar bahwa berkembang di bidang teknologi bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang konsisten mencoba.
Jika kamu saat ini masih khawatir dengan progres belajarmu, cerita Dandi menjawab satu kekhawatiran penting bahwa seseorang yang mulai dari dasar tetap bisa berkembang di bidang IT selama memiliki kemauan belajar.

Diterima Kerja sebagai Back-end Engineer dalam Enam Bulan
Setelah lulus dari program intensif Dicoding, Dandi merasakan dampak besar terhadap perjalanan kariernya. Ia memperoleh tech skills, soft skills, lingkungan positif, dan portofolio yang membantunya menghadapi proses seleksi kerja.
Dandi akhirnya mendapat pekerjaan baru enam bulan setelah lulus dari program intensif Dicoding. Kini, ia bekerja sebagai back-end engineer yang berfokus pada pengembangan dan maintenance product service di Bank CIMB Niaga. Ia juga menangani implementasi dan monitoring observability tools seperti Datadog, serta menerapkan clean code dan best practice agar aplikasi lebih stabil, scalable, dan mudah dikembangkan.
Materi belajar dari program intensif di Dicoding juga masih ia gunakan dalam pekerjaan sehari-hari, terutama materi pada learning path back-end developer dan kelas back-end expert. Dari kelas tersebut, ia belajar menulis kode yang clean, terstruktur, dan mudah dipelihara dalam jangka panjang.
“Program intensif di Dicoding juga membantu meningkatkan rasa percaya diri saya. Saya yang awalnya merasa biasa saja akhirnya mulai yakin bahwa saya juga mampu bersaing dan berkembang di industri teknologi meskipun memulai dari nol.”

Bagi Dandi, perjalanan ini belum selesai. Dalam jangka pendek, ia ingin terus meningkatkan skill teknis dan kemampuan problem solving-nya. Ia juga ingin lebih aktif membangun portofolio serta proyek mandiri yang dapat dipublikasikan di GitHub. Dalam jangka panjang, ketika kondisi finansial lebih stabil, ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 agar dapat memperdalam ilmu di bidang teknologi.
Satu hal yang pasti, Dandi berharap lebih banyak talenta digital yang bisa mengikuti jejaknya, yakni terus melaju meskipun menemukan tembok tinggi ketika sedang berprogres dan menggapai karier impian. Pesannya, rehatlah sejenak lalu kembali melaju.
“Bukan seberapa cepat kita berjalan, tetapi seberapa konsisten kita mau bangkit dan melanjutkan perjalanan,” tutup Dandi.

Kisah Dandi menunjukkan bahwa pembelajaran yang tepat dapat mengubah rasa ingin tahu menjadi kemampuan, kemampuan menjadi kepercayaan diri, dan kepercayaan diri menjadi peluang karier nyata.
Kalau kamu saat ini berada di titik awal yang sama seperti Dandi, ini adalah saat yang tepat bagimu untuk mulai membangun skills yang relevan dengan kebutuhan industri di program intensif Dicoding: Asah 2026!
Program ini terbuka untuk mahasiswa aktif dari jurusan apapun. Kamu berkesempatan untuk dapat program belajar senilai 14.000.000 rupiah hanya dengan membayar biaya registrasi sebesar Rp250.000,-.
✅Tidak ada biaya apa pun selain biaya registrasi.
✅Jika lulus tes → mendapatkan program belajar senilai 14.000.000 + kelas bonus dari Dicoding.
✅Jika gagal tes → mendapatkan kelas bonus dari Dicoding.
Daftarkan dirimu sekarang sebelum 6 Agustus 2026 di dicoding.com/asah.
