Strategi Mencari Kerja di Bidang Tech: Terus Shifting Skills agar Tetap Relevan

Cerita Sarah Larasati, Lulusan Program Intensif Dicoding

Tertarik kerja di bidang teknologi, tetapi masih ragu bisa mengikuti persaingan di dalamnya? Sarah Larasati (23) pernah berada di fase itu. Ia tertarik pada dunia IT karena melihat peluang kerja yang menjanjikan. Namun, ia juga menyadari bahwa persaingan di industri teknologi tidak mudah dan proses belajarnya menuntut ketekunan. 

Sarah yang pada saat itu merasa perlu menambah skills praktiknya akhirnya mencari materi belajar di luar perkuliahan. Dia memilih mengikuti program intensif di Dicoding. Kini, Sarah pun sukses bekerja sebagai QA Engineer di Bank CIMB Niaga.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Kuliah Informatika supaya Punya Prospek Kerja yang Luas

Sarah adalah bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang pensiunan yang telah mengabdi bertahun-tahun di salah satu badan usaha milik negara (BUMN), Angkasa Pura Indonesia, sebagai ahli di bidang teknis kelistrikan bandara. Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.

Dari ayahnya, Sarah memegang nilai bahwa bekerja harus didasari dengan niat tulus dan keinginan untuk menjadi berkat bagi sesama. Ibunya juga berpesan agar dia tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, jujur, dan berintegritas dalam apa pun yang ia kerjakan.

Nilai-nilai itu membentuk cara pandang Sarah terhadap masa depan. Setelah lulus dari SMAN 15 Kota Tangerang jurusan MIPA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Kristen Satya Wacana dengan mengambil S1 Teknik Informatika.

Ketertarikannya pada teknologi muncul setelah lulus SMA. Awalnya, Sarah melihat bidang IT sebagai ruang dengan peluang kerja yang luas dan menjanjikan. Namun, semakin ia menjalaninya, Sarah memahami bahwa membangun karier di bidang teknologi membutuhkan daya tahan untuk terus belajar.

“Ternyata persaingan di industri IT enggak mudah. Namun, saya bertahan karena yakin bidang ini adalah tempat terbaik bagi saya untuk membangun karier,” pungkas Sarah.

Di sinilah Sarah mengerti bahwa meskipun peluang kerjanya luas, dia tetap harus tekun untuk mengantisipasi perubahan dan persaingan di industri ini.

Antisipasi Persaingan dan Perubahan di Industri Tech dengan Belajar Berbasis Praktik

Menyadari ketatnya persaingan di bidang IT, Sarah mencoba menambah ilmunya dengan mencari ilmu di luar perkuliahan. Di saat itulah dia bertemu dengan salah satu program intensif di Dicoding dari informasi di kampus. Ia tertarik mengikuti program tersebut karena ingin mempelajari hal baru di bidang front-end dan back-end sekaligus mencari program belajar yang mengedepankan praktik.

Dalam salah satu program intensif di Dicoding, Sarah merasakan pengalaman belajar yang berbeda dari aktivitas kuliah sehari-hari. Ia tak hanya belajar materi teknis, tetapi juga belajar mengatur waktu dan bekerja dalam tim. Rasanya seperti trial memasuki dunia kerja nanti.

Secara keseluruhan, Sarah menggambarkan pengalaman belajarnya sebagai proses yang seru. Ia bisa belajar pengembangan web, mengasah soft skills, komunikasi, dan manajemen waktu yang kerap kali menjadi tantangan baginya.

“Tantangan terbesar saya adalah membagi waktu antara kuliah dan belajar di program intensif Dicoding. Namun, program ini come in the whole package. Ternyata, saya juga diajarkan cara me-manage waktu dan menentukan prioritas,” ujar Sarah.

Dari proses ini, Sarah menyadari bahwa program intensif di Dicoding tidak hanya membantunya memahami materi. Sistem belajar di dalamnya juga membentuk Sarah jadi pribadi yang lebih disiplin dan mahir berkolaborasi dengan banyak individu.

Punya Portofolio Keren Hingga Menyabet Penghargaan ‘Best Capstone Project’

Bagi Sarah, bagian yang paling tidak bisa dia lupakan dalam program intensif di Dicoding adalah saat dia mengerjakan proyek berkelompok. Proses tersebut jadi tombak akhir pengujian bagaimana dia bisa menerapkan materi yang telah dipelajari, menyusun ide, berkoordinasi, dan menyelesaikan pekerjaan bersama tim.

Proyek kelompok ini juga memberi Sarah ruang untuk mengalami dinamika yang lebih dekat dengan dunia kerja. Ia belajar bahwa membuat produk digital tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga komunikasi yang jelas, pembagian peran, dan kesediaan untuk mencari solusi bersama.

Pengalaman itu jadi semakin berkesan ketika proyek kelompok Sarah berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Capstone Project Terbaik. Momen ini juga menjadi legitimasi bahwa proyeknya sangat layak untuk dijadikan portofolio saat mencari kerja.

“Bagian terbaik bagi saya adalah saat mengerjakan proyek bersama kelompok dari nol dan berhasil mendapatkan penghargaan Capstone Project Terbaik,” kenang Sarah.

Setelah lulus dari program intensif di Dicoding, Sarah merasa pemahamannya tentang pengembangan web meningkat. Dari yang sebelumnya belum terlalu paham, ia akhirnya bisa mempraktikkan pengetahuan tersebut secara langsung.

Selain kemampuan teknis, Sarah juga merasakan peningkatan dalam soft skills. Ia menjadi lebih terlatih dalam mengatur waktu dan berkomunikasi, dua kemampuan yang kemudian ikut membantunya memasuki ritme kerja profesional.

Materi Teknis Dicoding jadi Bekal Bisa Bekerja sebagai Quality Assurance

Kini, Sarah bekerja sebagai Quality Assurance (QA) Engineer di Bank CIMB Niaga. Tugas utamanya adalah melakukan pengujian manual dan API untuk memastikan aplikasi berfungsi dan bebas dari kendala. Ia juga sempat didapuk untuk menangani automation testing dan performance test.

Meskipun fokus pekerjaannya saat ini berbeda dari alur pembelajaran yang ia ambil di program intensif Dicoding, Sarah merasa pengalaman belajarnya justru sangat membantu. Dasar-dasar teknis yang ia pelajari dalam program intensif Dicoding membantu pekerjaannya sebagai QA Engineer.

“Materi program intensif Dicoding melatih pemahaman saya sebagai QA Engineer mengenai cara kerja sistem/aplikasi, sehingga menjelaskan temuan bug dan menganalisis kendala aplikasi jadi lebih cepat,” tambah Sarah.

Ini menunjukkan bahwa belajar pemrograman tidak hanya berdampak secara linier pada satu jenis pekerjaan saja. Ilmu pemrograman yang disajikan dalam kurikulum program intensif Dicoding ternyata menjadi fondasi bagi berbagai peran di dunia teknologi.

Ke depan, Sarah ingin terus belajar dan mencoba berbagai tools pengujian terbaru, baik untuk manual maupun automation. Targetnya adalah meningkatkan kemampuan di bidang quality assurance agar tetap siap dan adaptif terhadap perkembangan teknologi baru.

Jangan takut shifting skills di dunia tech, karena setiap skills yang kamu pelajari pasti berguna untuk kariermu ke depannya,” tutup Sarah.

Bagaimana? Apakah kamu sudah yakin dengan spesialisasi yang ingin diambil di bidang tech? Kalau masih bingung, program intensif Dicoding: Asah 2026, menyediakan learning path dengan output role spesifik yang paling dicari recruiter tahun ini!

Tersedia tiga learning path untuk bisa kamu pilih:
– AI Full-Stack Developer

– Data Science Specialist
– Next-Gen AI Engineer

Kuota tersedia hanya untuk 2000 mahasiswa. Segera daftarkan dirimu sebelum 6 Agustus 2026 di dicoding.com/asah.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.