Cerita Muhammad Alif Aditya, Lulusan Program Asah led by Dicoding
Banyak mahasiswa sudah belajar teknologi, tetapi tetap merasa khawatir akan sulit mendapatkan pekerjaan selepas lulus nanti. Apakah kamu salah satunya? Keresahan itu wajar, apalagi ketika industri teknologi terus berkembang dan menuntut kandidat untuk punya skills yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Namun, perjalanan Muhammad Alif Aditya (22) menunjukkan bahwa proses belajar yang terarah bisa membuka peluang kerja lebih cepat dari yang dibayangkan. Setelah mengikuti program Asah, Alif berhasil mendapatkan pekerjaan kurang dari satu bulan setelah lulus dari program tersebut. Kini, talenta asal Nganjuk yang menempuh pendidikan di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ini bekerja sebagai AI engineer di PT Sinergi Dimensi Informatika.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangPenasaran bagaimana Alif memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti program ini hingga mendapat tawaran magang dalam waktu singkat? Mari kita simak di bawah ini!

Didikan Orang Tua yang Berprofesi sebagai Guru Membentuk Alif Jadi Pribadi Gigih
Alif lahir di Nganjuk sebagai sulung dari tiga bersaudara. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru dan mengajar di salah satu SD di kota tempatnya lahir. Sebagai anak pertama, Alif tumbuh dengan keinginan kuat untuk membuat orang tuanya bangga serta menjadi contoh bagi adik-adiknya.
Dari keluarganya, Alif belajar untuk disiplin, mengembangkan growth mindset, mencari solusi, tetap tenang dalam situasi sulit, beradaptasi, dan menetapkan tujuan yang jelas dalam setiap hal yang ia kerjakan.
Begitu pun saat memilih arah karier. Sebelum mendalami teknologi, Alif lebih dulu tertarik pada ilmu pasti seperti Fisika dan juga kegiatan riset. Rasa ingin tahunya yang tinggi saat itu membuatnya senang mencari tahu hal-hal baru.
Saat beranjak dewasa, ia mulai tertarik untuk kuliah di bidang teknologi informasi (TI). Ia menemukan bahwa data science dan machine learning menjadi ilmu yang selalu memancing rasa penasarannya ketika belajar.
“Saat masuk kuliah IT, saya sangat tertarik untuk belajar data science dan machine learning. Selalu ada rasa penasaran setiap mempelajarinya,” ujar Alif.
Dari titik itu, Alif mulai melihat teknologi sebagai bidang yang sesuai dengan cara berpikir dan minatnya. Bidang ini sesuai dengan minatnya bukan hanya karena terus berkembang, tetapi juga karena memberinya ruang untuk belajar, bereksperimen, dan membangun solusi.

Belajar Terstruktur Melalui Asah
Menginjak dunia perkuliahan, Alif merasa perlu ruang yang lebih besar untuk belajar, bereksperimen, dan melatih kemampuan logical thinking-nya untuk membangun solusi dari permasalahan di sekitarnya. Di tengah keinginannya untuk belajar praktik, Alif dipertemukan dengan program Asah led by Dicoding.
Ia langsung tertarik mengikuti program ini karena melihat Dicoding sebagai platform belajar yang sudah dikenalnya. Terlebih, saat itu program Asah led by Dicoding sedang membuat learning path yang sangat sesuai dengan minatnya, yaitu Machine Learning.
Alif pun mendaftar program beasiswa Asah dan dinyatakan lolos seleksi. Alif merasakan pengalaman belajar yang sangat memuaskan. Ia merasa terbantu karena program ini memberinya alur belajar yang jelas. Di awal program, ia dapat fokus mempelajari ilmu-ilmu fundamental dari learning path yang dipilih dan soft skills yang dibutuhkan sebelum kemudian masuk ke pembelajaran berbasis tim dan use case.
Bagi Alif, program Asah ini terasa relevan karena use case yang diberikan dekat dengan kebutuhan industri. Ia juga merasa terbantu oleh mentor dan struktur program yang mendukung proses belajarnya.
“Banyak yang membantuku untuk berprogres di sini. Mentor yang aku dapatkan sangat helpful dan programnya sendiri sangat terstruktur,” ujar Alif.
Meski begitu, Alif tetap kesulitan mengatur waktu. Saat mengikuti Asah, ia juga masih menjalani perannya sebagai mahasiswa. Untuk mengatasinya, Alif menyusun prioritas berdasarkan deadline dan tingkat urgensi. Cara ini membantunya menjaga keseimbangan antara program dan kewajiban kuliah.

Mengaplikasikan Skills yang Dipelajari Lewat Capstone Project
Di akhir program Asah, tibalah Alif pada bagian terbaik dari belajar tech skills di program ini. Program Asah memastikan proses pembelajaran Alif tidak berhenti hanya pada teori. Ia diarahkan untuk memahami bagaimana skills yang dia pelajari digunakan dalam use case yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.
Melalui program Asah ini, Alif membangun pemahamannya secara bertahap. Ia mulai dari dasar Python, deep learning, hingga membangun sistem machine learning sekaligus secara end-to-end.
“Materi yang saya pelajari di program Asah tidak berhenti di tahap ‘tahu’, tetapi mulai mengarah ke bagaimana cara saya mengimplementasikannya di dalam project.”
Setelah lulus dari program Asah, Alif merasa kemampuannya berkembang. Dari sisi pengalaman praktis, ia merasakan peningkatan kemampuan di bidang machine learning dan deep learning. Sedangkan dari sisi pengalaman praktis, ia belajar mengerjakan project secara lebih terstruktur dan bekerja dalam tim untuk menyelesaikan project tersebut. Persis seperti dunia kerja sesungguhnya.
Selain itu, Alif juga merasakan perkembangan dalam bidang soft skills, seperti komunikasi, project management, dan personal branding. Pengalaman ini membuat proses belajarnya terasa lebih menyeluruh, tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan untuk masuk ke dunia profesional.

Mendapat Tawaran Kerja Pertama
Selepas lulus dari program Asah, Alif mencari posisi magang sambil menyelesaikan semester terakhir kuliahnya. Ternyata, pengalaman belajar Alif di program Asah membuahkan hasil. Alif mendapatkan tawaran pertamanya sebagai Back-End Developer Intern di Mitra Informatika selama lima bulan.
Kini, Alif melanjutkan kariernya sebagai AI Engineer di PT Sinergi Dimensi Informatika atau dikenal dengan nama SINDIKA. Dalam pekerjaannya saat ini, ia berfokus pada riset pembuatan sistem arsitektur memory untuk AI, terutama Claude Code. Ia juga memformulasikan rumus untuk entry memory, menguji penggunaan token, dan menulis paper terkait proyek tersebut untuk dipublikasikan.
Salah satu kelas Asah yang paling relevan dengan pekerjaannya sebagai AI Engineer adalah Membangun Sistem Machine Learning. Saat mengerjakan Submission di kelas itu, ia melakukan pemantauan menggunakan Grafana. Dia tidak menyangka akan menemui kebutuhan serupa di kantor tempatnya bekerja saat ini.
Ke depan, Alif berencana melanjutkan studi S2 di bidang MSDS atau MSAI untuk memperdalam keahliannya. Bagi talenta digital yang masih merasa khawatir saat melamar kerja, Alif berpesan agar terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Teknologi terus berubah, tools terus berganti, yang terpenting adalah punya rasa ingin tahu dan berani mencoba hal yang belum kita kuasai.”

Untuk kamu yang ingin menyiapkan diri dengan skills digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, program Asah dapat menjadi ruang belajar yang lebih terarah. Di program ini, kamu akan dibekali kemampuan yang dibutuhkan untuk berkembang sebagai talenta digital masa kini dengan tech skills, soft skills, dan praktik membuat capstone project yang akan menjadi portofoliomu untuk mendaftar kerja.
Tertarik? Lihat materi dan syarat pendaftarannya di dicoding.com/asah.