Cerita Muhammad Rofiif Taqiyyudin Nabiil, Lulusan Asah led by Dicoding
Perkenalan Muhammad Rofiif Taqiyyudin Nabiil (21) dengan teknologi bermula dari sebuah ponsel Android berspesifikasi terbatas. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, pemilik nama panggilan Ropip ini justru penasaran mencari cara agar perangkat tersebut dapat menjalankan berbagai game yang ia inginkan. Rasa ingin tahu sederhana tentang “bagaimana teknologi bekerja” itu kelak membawanya menempuh pendidikan Sistem Informasi di Universitas Mulawarman.
Namun, perjalanan Ropip bukan hanya tentang teknologi. Di Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, ia tumbuh menyaksikan perjuangan sang ayah yang pernah menjadi guru honorer sekaligus kuli bangunan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kini, meski telah menjadi guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS), sang ayah masih mengambil pekerjaan sampingan sebagai kuli bangunan.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangPerjuangan tersebut menumbuhkan keinginan Ropip untuk terus belajar, meraih kesuksesan, dan suatu hari membahagiakan kedua orang tuanya. Semangat itu pula yang kemudian membawanya menjadi salah satu lulusan terbaik Asah led by Dicoding dan membuka jalan menuju dunia profesional.
Ropip Merasa Pembelajaran Tak Boleh Berhenti di Ruang Kuliah

Ketika hendak berkuliah, Ropip sempat mempertimbangkan Keperawatan dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Namun, ketertarikannya terhadap teknologi sejak kecil membuatnya berani mengambil jalan berbeda.
Ia memilih Sistem Informasi Universitas Mulawarman sebagai satu-satunya pilihan dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Belum berhasil, Ropip kembali mempertahankan pilihan yang sama dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Kali ini, perjuangannya berbuah manis: ia diterima.
Meski sudah mempelajari IT di kampus, Ropip merasa pembelajaran tak boleh berhenti di ruang kuliah. Ketika program Asah led by Dicoding hadir, ia melihat kesempatan untuk memperdalam React & back-end with AI sekaligus memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.
“Bagi saya, mengikuti Asah led by Dicoding bukan karena saya merasa kurang belajar di kampus, tetapi karena saya ingin memperluas kemampuan dan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan industri,” ungkap Ropip.
Memegang Teguh Prinsip Jatuh, Evaluasi, dan Bangkit

Perjalanan Ropip dalam program Asah led by Dicoding bahkan sudah menghadirkan tantangan sejak tahap seleksi. Hasil learning path test-nya sempat tidak terbaca dan memperoleh nilai nol. Meski khawatir, ia tetap mengikuti proses hingga akhirnya berhasil diterima.
Selama program, Ropip memegang prinsip yang ia sebut JEB: Jatuh, Evaluasi, Bangkit. Setiap kegagalan tidak ingin sekadar dilewati, tetapi dievaluasi untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki. Prinsip tersebut membantunya menghadapi ritme pembelajaran intensif hingga akhirnya meraih predikat lulusan terbaik Asah led by Dicoding.
“Bagi saya, Asah led by Dicoding bukan hanya tentang belajar teknologi, tetapi juga tentang bagaimana membangun disiplin, konsistensi, kemampuan beradaptasi, dan mental untuk terus berkembang,” ujarnya.
Menurut Ropip, pengalaman tersebut juga melatihnya dalam manajemen waktu, kerja sama tim, komunikasi, dan penyelesaian masalah. Materi React dan back-end with AI pun dipelajari melalui praktik sehingga ia dapat memahami bagaimana teknologi diterapkan dalam sebuah proyek.
Berproses dari Menjadi Seorang Intern, Full-Time Employee, dan Akhirnya Project Manager

Salah satu hasil belajar yang paling membanggakan bagi Ropip adalah capstone project Predictive Maintenance Copilot. Proyek tersebut menggabungkan dua learning path menjadi sebuah produk dan kemudian menjadi bagian penting dalam portofolionya ketika mulai memasuki dunia profesional.
“Bagi saya, Asah led by Dicoding bukan hanya tempat belajar, tetapi juga menjadi salah satu jembatan yang membantu saya membangun portofolio dan membuka peluang karier,” jelasnya.
Bekal tersebut membantu Ropip mendapatkan kesempatan sebagai software developer intern di PT Barqun Digital Teknologi, perusahaan penyedia jasa konsultasi IT, pengembang software, dan infrastruktur jaringan yang berbasis di Samarinda, Kalimantan Timur. Setelah menjalani masa magang selama empat bulan, ia dipercaya untuk melanjutkan karier sebagai full-time software developer.
Perkembangannya bahkan tidak berhenti di sana. Ropip kemudian memperoleh kesempatan menjalankan peran sebagai project manager sekaligus quality assurance. Pengalaman mengelola proyek, presentasi, komunikasi, manajemen waktu, hingga kebiasaan mengevaluasi pekerjaan yang ia bangun selama Asah turut membantunya menjalankan tanggung jawab tersebut.
Terus Berkembang di Luar Dunia Profesional dan Membawa Manfaat ke Lingkungan Sekitar

Ropip juga mengambil kesempatan sebagai part-time social media & web specialist di CendekiaPharma. Menurutnya, pengalaman dari Asah memberinya kepercayaan diri untuk mengambil peluang tersebut sekaligus memperluas portofolio di bidang web dan media. Ia pun mengaku bahwa kelas manajemen waktu sangat membantunya dalam berkegiatan.
“Salah satu contoh penerapan kemampuan manajemen waktu yang saya dapatkan dari program Asah led by Dicoding adalah ketika menjalani KKN. Di tengah padatnya kegiatan KKN, saya tetap harus menjalankan tanggung jawab bersama PT Barqun Digital Teknologi dan mengikuti kegiatan CendekiaPharma. Dengan kemampuan manajemen waktu tersebut, saya dapat menentukan prioritas dan menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan baik. Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa manajemen waktu sangat penting agar berbagai kegiatan dapat berjalan secara seimbang,” ujar Rofiif.
Ilmu teknologi yang diperolehnya pun terus diterapkan. Kelas Belajar Membuat Aplikasi Web dengan React menjadi salah satu yang paling relevan dengan pekerjaannya karena dapat langsung digunakan dalam pengembangan aplikasi web. Selepas Asah, ia juga terlibat dalam pengembangan learning management system (LMS) di tempat kerja, situs CendekiaPharma, hingga situs untuk membantu memantau kegiatan azan anak-anak di masjid lingkungan rumahnya.
Dari seorang anak yang penasaran mengutak-atik ponsel hingga menjadi profesional yang dipercaya menjalankan berbagai peran, perjalanan Ropip terus digerakkan oleh keberanian mencoba dan kemauan mengevaluasi diri.
“Jangan takut gagal untuk mencoba. Menurut saya, lebih baik gagal karena sudah berani mencoba daripada tidak mencoba sama sekali dan akhirnya tidak pernah tahu sejauh apa kemampuan kita,” tutup Ropip.