Cerita Azizah Salma Ayunisa Purnomo, Lulusan Asah led by Dicoding
Keberhasilan di masa depan adalah milik mereka yang tidak menyerah pada kegagalan yang dialami hari ini. Itulah semangat yang dibawa oleh Azizah Salma Ayunisa Purnomo (22), seorang lulusan Telkom University.
Sempat mengubur mimpi untuk berkuliah kedokteran dan harus menelan kenyataan pahit bahwa performa akademiknya di SMA tidak terlalu baik karena menempati ranking tiga terbawah, Azizah tak menyerah. Ia pun menekuni bidang teknologi meski awalnya sulit, belajar dalam program Asah, dan akhirnya bisa mendapatkan kesempatan magang di perusahaan sekelas Nestlé.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangBagaimana perjalanan lengkap Azizah bertransformasi menjadi mahasiswi dengan segudang prestasi? Mari kita baca cerita lengkapnya!
Memupuskan Impian untuk Menjadi Dokter

Azizah lahir dan besar di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dari kedua orang tua yang mendorongnya untuk tumbuh menjadi perempuan yang mandiri serta pantang menyerah. Hal itu tecermin saat ia masih mengenakan seragam putih abu-abu dan sempat bercita-cita untuk berkuliah kedokteran.
Sayangnya, nilai mata pelajaran biologi yang tak sesuai harapan membuat Azizah tidak bisa mengambil studi kedokteran. Ditambah lagi, di kelas, peringkat Azizah tak terlalu baik. Semula, ia menempati peringkat lima terbawah di kelasnya, lalu merosot menjadi tiga terbawah.
Menyerah? Tentu tidak. Azizah tetap bertekad untuk bisa berkuliah dengan memilih program studi yang lebih sesuai dengan kemampuannya. Ia menyadari bahwa matematika adalah mata pelajaran yang ia kuasai. Akhirnya, Azizah memutuskan untuk berkuliah informatika di Telkom University atas rekomendasi kedua orang tuanya.
Belajar dalam Program Asah karena Ingin Mengejar Ketertinggalan

Saat menjadi mahasiswi informatika di Telkom University, Azizah berkenalan dengan Dicoding melalui salah satu program intensifnya. Perkenalan Azizah dengan Dicoding membuatnya ingin kembali merasakan pengalaman program intensif tersebut melalui program Asah led by Dicoding.
“Saya ingin belajar dalam program Asah karena merasa ketinggalan dibandingkan teman-teman saya yang sudah menguasai pemrograman sejak SMK, bahkan ada yang sejak SD. Saya sendiri baru bisa pemrograman saat sebulan kuliah, dan itu pun sangat struggle,” ungkap Azizah.
Puas dengan pengalaman belajarnya di Dicoding dan ingin meningkatkan kapasitas dirinya, Azizah mantap untuk mendaftar Asah led by Dicoding. Ia berharap bisa belajar menggunakan studi kasus yang nyata dalam program tersebut.
Menyukai Program Asah yang Metode Belajarnya Berbasis Praktik

Berhasil diterima dalam program Asah led by Dicoding, tepatnya pada alur belajar machine learning, Azizah dituntut untuk bisa mengelola waktunya dengan baik. Pasalnya, saat menjalani program ini, Azizah mesti bekerja sebagai asisten praktikum di kampus serta magang di Telkom Indonesia.
“Meski aktivitas saya di kampus dan tempat magang sangat padat, saya tetap bisa menyeimbangkan tanggung jawab karena Asah menawarkan pengalaman belajar yang cukup fleksibel,” ungkap Azizah.
Walaupun Azizah dituntut untuk bisa mengelola waktu dengan baik, ia menikmati perjalanannya dalam program ini karena metode belajar Asah yang berbasis praktik. Azizah tak hanya belajar apa itu machine learning, tetapi juga cara mengimplementasikan teknologi ini ke dalam sebuah studi kasus nyata.
Hasil belajar Azizah dalam program Asah pun melekat karena ia memperoleh kesempatan untuk bekerja sama dengan sesama peserta untuk membangun proyek akhir yang bernama capstone project. Ia merasa mentornya sangat membantu melalui saran-saran yang diberikan saat mengembangkan proyek tersebut bersama rekannya.
“Soft skills juga hal lain yang saya dapatkan dari program Asah. Kemampuan ini sangat penting untuk karier saya,” tambahnya.
Diterima di Nestlé, Menerbitkan Publikasi Internasional, dan Lulus dengan IPK Hampir Sempurna

Benar apa yang Azizah katakan bahwa soft skills dan pengalaman belajarnya dalam program Asah penting untuk kariernya. Setelah lulus dari program, berbekal resume yang menuliskan keikutsertaannya dalam program Asah, Azizah berhasil diterima sebagai machine learning/data engineer intern di perusahaan sekelas Nestlé.
“Pengalaman belajar di Asah menjadi poin plus di mata rekruter. Alhamdulillah, saya sukses bersaing dengan lebih dari 11 ribu pelamar dan memperoleh kesempatan untuk belajar di Nestlé,” ucap Azizah.
Azizah bercerita bahwa kelas mengenai machine learning dan data dalam program Asah sangat membantunya menjalankan peran di kantor. Ia jadi mengetahui cara melakukan data cleaning yang tepat agar tidak bias saat machine learning atau model yang ia bangun berjalan.
Selain berhasil diterima magang di Nestlé, Azizah pun meraih sejumlah pencapaian setelah belajar dalam program Asah. Prestasi tersebut cukup beragam, dimulai dari menghasilkan produk hingga lulus dari Telkom University dengan IPK gemilang.
“Saya membuat multi-class acne detection sebagai riset bersama Humic Engineering, menerbitkan publikasi di IEEE International Conference on Industry 4.0, AI, & Communications Technology dengan indeks Scopus, serta berhasil lulus dari Telkom University dengan IPK 3.97/4.00,” tutur Azizah.
Merenungkan kembali perjalanan Azizah sebelum akhirnya ia meraih banyak hal, ia merasa bersyukur karena tak memilih untuk menyerah saat sempat menempati ranking tiga dari belakang saat SMA dan mesti mengubur mimpinya untuk berkuliah kedokteran. Azizah ingin menyemangati sesama calon talenta digital perempuan yang pernah menempuh jalan yang sama dengannya.
“Tetaplah berusaha walaupun hari ini kita masih belum melihat hasil dari usaha tersebut. Gagal bukan berarti mimpi kita berakhir. Berbaik sangkalah bahwa setelahnya akan ada sesuatu yang sangat lebih baik menanti kita. Terus tingkatkan diri dengan mengikuti berbagai course, seminar, dan proyek,” tutup Azizah.