Cerita Adhis Mauliyahsa Ashafaat, Lulusan Program Asah 2025
Siapa bilang kesuksesan karier di industri teknologi harus menunggu hadirnya selembar ijazah sarjana? Adhis Mauliyahsa Ashafaat (22) adalah bukti nyata bahwa talenta digital muda bisa masuk ke dunia kerja lebih awal asalkan memiliki keberanian untuk belajar lebih dari apa yang diajarkan di kampus.
Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, Adhis mendedikasikan malam-malamnya mendalami machine learning demi mengasah kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangMeski harus berjibaku membagi waktu antara tugas kuliah dan tanggung jawab profesional yang baru ia dapatkan, Adhis tidak pernah melihatnya sebagai beban. Baginya, setiap baris kode yang ia pelajari dalam program Asah adalah investasi untuk masa depan yang lebih cerah bagi diri dan keluarganya.
Penasaran dengan strategi Adhis menaklukkan tantangan manajemen waktu hingga berhasil diterima kerja? Mari kita baca cerita lengkapnya!
Berminat pada Dunia Teknologi karena Menonton Film

Lahir di Kabupaten Indramayu sebagai sulung dari empat bersaudara, keseriusan Adhis dalam mendalami bidang teknologi didukung penuh oleh kedua orang tuanya. Mereka ingin sang putra sulung konsisten di jalan yang telah dipilihnya.
Minat Adhis terhadap teknologi tumbuh saat ia masih mengenakan seragam putih-biru. Kala menonton film Who Am I (2014), ia bercita-cita bisa melakukan hacking. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk bersekolah di SMK Negeri 1 Krangkeng, jurusan Teknik Komputer Jaringan. Ingin semakin serius menjadi profesional dalam bidang teknologi, Adhis melanjutkan studi di Universitas Gunadarma yang dikenal memiliki program studi Informatika berakreditasi unggul.
Menyadari bahwa keberhasilan karier di dunia teknologi dapat diraih dengan tidak hanya belajar di kampus, Adhis tertarik untuk belajar dalam program Asah led by Dicoding. Program intensif yang diinisiasi oleh Dicoding ini Adhis kenali dari salah satu temannya yang pernah belajar dalam program intensif lainnya di Dicoding. Itulah awal mula perjalanan Adhis sebagai salah satu peserta program Asah.
Harus Pandai Membagi Waktu, Adhis Menikmati Proses Belajarnya dalam Program Asah

Kala belajar dalam program Asah, Adhis mengaku bahwa pengalamannya sangat berkesan. Ia sangat antusias mendalami machine learning dan AI. Meski begitu, tantangan hadir kala Adhis harus melakukan manajemen waktu.
“Sembari belajar dalam program Asah, saya masih harus datang ke kampus untuk menjalani perkuliahan sebanyak 5 SKS. Selain itu, di penghujung program Asah, saya juga sudah diterima kerja sehingga harus pandai membagi waktu,” kenangnya.
Alhasil, Adhis menggeser waktu belajarnya dalam program Asah ke malam hari. Meski harus belajar cukup larut, Adhis menikmati proses implementasi hasil belajarnya dalam proyek akhir bernama capstone project. Pada tahap tersebut, Adhis bekerja sama dengan dua peserta lainnya dan dibantu oleh seorang mentor.
“Materi yang diberikan dalam program Asah terasa eksklusif dan mentor yang mendampingi kami juga sangat membantu dalam proses belajar. Hal tersebut membuat saya memperoleh pandangan baru tentang dunia AI engineering yang belum pernah saya tahu,” ungkap Adhis.
Berhasil Kerja secara Purnawaktu sebelum Lulus Kuliah

Meski harus pandai membagi waktu karena di penghujung program Asah Adhis telah diterima kerja, ia merasa senang bisa memperoleh kesempatan tersebut. Adhis mengaku bahwa pengalaman belajar dalam program Asah membantunya memperoleh kesempatan kerja tersebut.
“Saat melamar kerja, saya menyertakan informasi keikutsertaan saya dalam program Asah di resume dan portofolio saya sehingga memberikan kesan bahwa saya memiliki latar belakang di bidang AI. Menariknya, saat itu, saya masih dalam tahap akhir program Asah sehingga pengalaman belajar itu langsung terpakai bersamaan dengan proses lamaran kerja,” ungkap Adhis.
Hasilnya, Adhis berhasil diterima sebagai Full-Stack Developer di OZIP, sebuah perusahaan pengembang teknologi berbasis AI di Jakarta, yang fokus pada web development, aplikasi mobile, ERP, dan solusi digital lainnya. Di kantor, Adhis bertugas untuk mengembangkan dan memelihara aplikasi web internal salah satu klien, yaitu Dompet Dhuafa.
“Kelas Membangun Sistem Machine Learning dalam program Asah sangat membantu saya di kantor. Dalam kelas tersebut, saya belajar cara menyiapkan model di lingkungan produksi, bukan hanya di notebook. Saya juga belajar tools seperti Docker, Grafana, dan Prometheus, yang sangat relevan dengan kebutuhan di dunia kerja nyata,” ujar Adhis.
Berhasil berkarier secara purnawaktu, bahkan sebelum menamatkan studi, Adhis optimis bahwa para calon talenta digital dapat mengikuti jejaknya. Kuncinya adalah jangan terjebak dalam zona nyaman.
“Meski kawan-kawan sudah belajar teknologi di kampus, ikut program pelatihan tambahan seperti Asah sangatlah perlu karena ilmu-ilmunya dapat dipakai di dunia kerja. Belajar di kampus dan di luar kampus secara berbarengan memang awalnya akan terasa berat. Namun, justru di saat itulah kamu sedang berkembang,” tutup Adhis.
Ikuti jejak Adhis dengan belajar dalam program Asah 2026 led by Dicoding. Daftarkan dirimu sekarang di dicoding.com/asah!
