Cerita Muhammad Hifni Lulusan Program Intensif Dicoding
Menjadi satu-satunya sarjana di keluarga bukan cuma perkara gelar. Bagi Muhammad Hifni (27), ini menjadi penanda bahwa dia adalah orang pertama di keluarga yang membuka pintu baru tentang mimpi, pilihan kerja, dan masa depan.
Kedua orang tua Hifni adalah pekerja rumahan yang menghidupi keluarga lewat berbagai usaha: menjahit baju, membuat buket bunga, katering, hingga membuat kue.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangKarena usaha keras kedua orang tuanyalah Hifni berhasil melangkah sampai bangku kuliah dan kini sukses bekerja sebagai QA Engineer di PT Cipta Sedaya Digital Indonesia, atau dikenal dengan nama Berijalan, sebuah perusahaan di bawah Astra Group yang bergerak dalam bidang pengembangan layanan digital bagi perusahaan penyedia jasa kredit.
Bagi kamu yang punya mimpi ingin bekerja seperti Hifni, simak ceritanya di bawah ini!
Hifni: “Keluarga Tak Pernah Membatasi Mimpi Saya”
Hifni lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Di rumah, ia melihat langsung bahwa orang tuanya bekerja dengan gigih untuk membesarkan keempat anaknya.
Bagi Hifni, etos kerja kedua orang tuanya yang menjadi pemandangan sehari-hari pada akhirnya membentuk mental Hifni untuk konsisten dalam belajar dan bekerja. Terlebih kedua orang tuanya tidak pernah membatasi mimpinya.
“Orang tua saya adalah role model. Saya belajar etos kerja dari mereka,” ujar Hifni.

Dibesarkan dalam didikan keluarga yang penuh etika dan sopan santun juga membuat Hifni terbiasa menghargai pendapat orang lain dan bersikap respect terhadap perbedaan keputusan.
Ternyata, dua hal ini menjadi fondasi soft skill yang selalu dia jadikan pedoman di tempat kerja, ketika tugasnya sebagai QA Engineer harus berkolaborasi dengan developer, UI/UX designer, project manager, tapi juga tetap mengedepankan critical thinking dan empati terhadap kesulitan yang mungkin akan dialami user ke depannya.
Jadi Tech Enthusiast karena Mendiang Ayah
Ketertarikan Hifni pada teknologi muncul sejak SD. Pemicunya karena sosok Ayah di rumah yang selalu mengikuti perkembangan teknologi.
Dari mulai era ponsel touchscreen, modem internet portabel, jaringan 3G yang baru masuk daerah, hingga Facebook yang baru naik daun saat itu pun dipantau dan dicoba oleh sang Ayah.
“Ayah menginspirasi saya. Bahkan menjelang akhir hayatnya, Ayah masih mengikuti berita tentang AI.” Begitu cerita Hifni.

Dari sosok lelaki itulah, Hifni merasakan teknologi dekat dengan nadinya. Meski tinggal di luar pulau jawa, Ayah Hifni memperlihatkan bahwa teknologi bukanlah barang mahal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia bisa dipelajari dan dipahami bahkan oleh Hifni kecil saat itu.
Dengan ketertarikan yang besar tersebut, selepas lulus dari SMA Negeri 1 Kandangan, Hifni pun melanjutkan kuliah di STMIK El Rahma Yogyakarta.
Pola Pikir Dibentuk di Kampus, Skill Diasah sesuai Kebutuhan Industri
Mencicipi bangku perkuliahan, Hifni mengenal banyak teori yang membentuk pola pikir fundamentalnya sebagai developer. Namun, dia menyadari bahwa dia perlu lebih banyak perbekalan skill teknis untuk terjun langsung ke dunia kerja, yakni saat dia bisa merasakan meng-Asah skill sesuai standar industri.
Dia pun melakukan riset kecil-kecilan, mencari program belajar intensif yang bisa mengajarkan materi teknis secara lengkap. Hingga akhirnya dia bertemu dengan program intensif Dicoding serta mantap memilih alur belajar Pengembang Front-End Web dan Back-End.
Selama berbulan-bulan mengikuti pembelajaran online ini, dia merasakan pengalaman belajar yang seru. Selain mendapatkan materi, dia juga punya kesempatan memperbanyak relasi berkenalan dengan teman-teman lain dari berbagai kampus dan daerah. Bahkan, setelah lulus bertahun-tahun lalu dari program intensif Dicoding pun, Hifni masih berkomunikasi dengan beberapa temannya hingga sekarang.
Meski perjalanan belajarnya terdengar tanpa hambatan, Hifni tetap pernah merasakan kesulitan. Ini dia rasakan dari internal dirinya sendiri. Terkadang dia merasa harus mengulang materi berkali-kali untuk membayangkan secara konkret materi yang sedang dia baca.
Untungnya, modul dalam program intensif Dicoding berbentuk text book dan dilengkapi video penjelasan yang dibawakan oleh instruktur sehingga Hifni bisa memutar-mutar ulang serta membaca kembali materi tersebut sesuai pace belajarnya sendiri.
Bagian terbaiknya lagi, Hifni juga mendapat mentor yang mendengarkan serta memberikan solusi ketika dia merasakan kesulitan saat belajar dalam program intensif Dicoding dan khawatir menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti.
“Dalam program intensif Dicoding, saya diberikan mentor yang membantu proses belajar dan memberikan insight seputar dunia kerja supaya saya tidak kaget setelah lulus kuliah,” ucap Hifni.

Empat Bulan Lulus dari Dicoding Hifni Langsung Dapat Kerja
Tepat empat bulan setelah lulus dari program intensif Dicoding, Hifni mendapatkan pekerjaan pertamanya. Sertifikasi yang dia punya dari program intensif Dicoding ternyata menarik minat kakak tingkatnya untuk merekomendasikan Hifni bekerja di kantor yang sama.
Hingga kini, Hifni sudah berpindah-pindah dan sekarang menjadi QA Engineer di Berijalan (Astra Group). Meski sudah berpindah-pindah kantor, ia masih terus menggunakan ilmu yang dia dapat dari program intensif Dicoding.
Pekerjaan hariannya bertugas melakukan pengepakan dan menjaga kualitas aplikasi yang akan rilis. Ini menuntutnya untuk mendalami teknis dan error yang terjadi sebelum menyampaikannya kepada tim developer.
Dari kelas-kelas front-end dan back-end yang dipelajarinya dalam program intensif Dicoding, Hifni jadi tahu penyebab bug yang terjadi saat dia melakukan testing aplikasi.
Jadi, bukan sekadar menyampaikan info bug tersebut kepada developer. Lebih jauh, Hifni bahkan bisa memberikan solusi sekaligus membantu developer tracing agar bug dapat cepat teratasi. Ini tentu menjadi skill bernilai dan pembeda bagi Hifni dibanding QA Engineer lain di luar sana.
“Dari program intensif Dicoding, saya punya pengetahuan developer, dan itu membantu meski pekerjaan saya QA engineer. Saya jadi bisa tracing dan kasih solusi untuk tim developer,” ujar Hifni.

Ke depannya, Hifni bercita-cita membuat produk SaaS. Ia tertarik karena membangun SaaS akan mendorongnya belajar banyak hal sekaligus: manajemen server, cara berbisnis, hingga pemasaran aplikasi. Dia masih mencari ide produk SaaS yang menarik di mata industri.
Untuk itu, Hifni punya pesan sederhana bagi mahasiswa yang sedang mengejar karier dalam bidang tech. Dia harap ada lebih banyak calon talenta digital lainnya yang punya kesadaran untuk terus bersaing dengan diri sendiri setiap hari.
Karena bagi Hifni, sebaik-baiknya perkembangan ialah memastikan diri kita lebih baik dari hari kemarin.
“Tak perlu jadi lebih baik dari orang lain. Cukup jadi lebih baik dari hari kemarin,” tutup Hifni.
Penutup
Mari kita berefleksi hari ini. Dari cerita tadi, apakah kamu sudah merasa tech skill-mu sesuai dengan standar industri?
Jika belum, jangan khawatir. Kamu masih punya waktu untuk meng-Asah itu. Mulailah membiasakan diri mempraktikkan setiap materi yang kamu dapat di sekolah/kampus, sering-sering membaca info terbaru soal tech, dan berjejaring dengan banyak ahli.
Kalau kamu tidak mau ribet, program intensif Dicoding menyediakan itu semua!
Kamu akan mendapatkan materi dan praktik sesuai standar industri, terkoneksi dengan ribuan developer di seluruh Indonesia dalam program kelasmu, kesempatan untuk bekerja secara berkelompok, hingga sesi diskusi mingguan bersama expert.
Tertarik? Daftarkan dirimu dalam program intensif Dicoding: Asah 2026!
Lihat detail programnya di dicoding.com/asah
