Dosen masa kini

Mengenal Sosok Dosen Masa Kini di Dunia IT

Mengenal Sosok Dosen Masa Kini di Dunia IT


Indra Azimi, representasi dosen masa kini di dunia IT. Pak Indra -begitu ia disapa- aktif mendorong para mahasiswa untuk belajar tanpa batas. Pada anak didiknya, beliau selalu berpesan: 

“Agar sukses (meniti karir), “belajar jangan hanya di kampus saja!” 

Terdengar seperti falsafah “Merdeka Belajar” yang sejak 2019 lalu digaungkan oleh Mendikbud RI? Yup, tapi menariknya, dosen Telkom University ini telah lama menanamkan semangat di dalam  diri siswa. Tepatnya beberapa waktu setelah ia mulai jadi dosen  tahun 2014 silam.

Penasaran seperti apa perjalanan dan pesan beliau untuk mahasiswa era revolusi industri 4.0 ini? Simak ceritanya: 

Dosen Masa Kini: Beri Contoh Lewat Sertifikasi Diri

Pak Indra mengampu di program studi D3 Rekayasa Perangkat Lunak Aplikasi (RPLA), Telkom University. Saat mengajar, beliau kadang menemui siswa yang terdemotivasi saat kuliah. Siswa tanpa rona semangat dalam dirinya. “Sering mahasiswa bingung dengan yang mau dicapai setelah kuliah. Nggak ada visi, nggak ada rencana setelah kuliah mau jadi apa.”

Menemui situasi seperti ini, tentu menantang baginya untuk sekadar menyuruh siswa belajar ini dan itu. Mahasiswa perlu lebih dari sekadar asupan materi. Mereka perlu inspirasi. 

Untuk itulah beliau ingin menumbuhkan semangat siswa dengan memulainya dari dirinya sendiri. Apakah itu, caranya? Sertifikasi. Meski sudah berprofesi sebagai seorang dosen sekalipun, hingga kini ia tetap giat mengambil sertifikasi di bidang programming. Ia berharap siswa mengikuti jejaknya dalam  menimba ilmu dengan cara-cara yang lebih kreatif, tak terbatas di kampus saja. Dengan demikian, mereka jadi lebih termotivasi belajar dan tumbuh minat. Salah satunya karena belajar di luar kampus itu penuh dengan kesempatan personal growth menarik.  

Untuk Pak Indra sendiri, kesempatan menarik tersebut hadir saat ia dipercaya sebagai Fasilitator pada program Indonesia Android Kejar oleh Google tahun 2016 lalu. Tak berhenti sampai di situ, beliau lanjut tekuni alur belajar Android Developer di Dicoding. Ia serius belajar berjenjang dari kelas  perdana yakni Memulai Pemrograman dengan Kotlin hingga kelas Menjadi Android Developer Expert yang berlevel profesional. Jika dijumlahkan, ia telah mempelajari Mobile Programming berstandar Google selama 415 jam di platform Dicoding. 

Lewat perjuangan membagi waktu antara Dicoding – kampus dan keluarga, semua sertifikat kompetensi tersebut, berhasil diraihnya. Di tahun 2018 ia menjadi salah satu peserta terbaik dalam Program Google Developer Kejar. Ini membawanya diundang hadir pada acara Google for Indonesia di Jakarta.   Ia juga berhasil meraih sertifikasi internasional dari Google yaitu Associate Android Developer yang terkenal sulit dan prestisius.

dosen masa kini

Pak Indra ketika menghadiri G4ID, perhelatan tahunan dari Google.

Berangkat dari sertifikasi dan pengalaman berkesannya belajar di Dicoding, langkah konkrit apa yang lantas Pak Indra lakukan demi  pengembangan diri mahasiswa? Mari kita simak.  

Menerapkan Prinsip Merdeka Belajar di Program Studi 

Indra, sosok dosen masa kini. Faktanya, beliau selalu memotivasi mahasiswa agar mereka belajar di Dicoding. Hal ini mendapat dukungan yang luar biasa dari Kaprodi. Hasilnya, pada tahun 2019 sekitar 200 mahasiswanya mendaftar kelas Belajar Membuat Aplikasi Android Pemula di Dicoding. Di akhir program sebanyak 96% di antaranya mendapatkan sertifikat Dicoding Academy. Wow! 

Saat siswa mendapatkan sertifikat Dicoding, itu berarti kemampuan mereka telah diakui sesuai standar industri. Karena itu, di mata kuliah Pemrograman untuk Perangkat Bergerak 1, beliau dan dan rekan dosen lainnya membuat kebijakan di mana beberapa penugasan yang sesuai dengan materi Dicoding boleh di-skip atau tidak dikerjakan oleh mahasiswa lulusan Android Pemula. Kebijakan ini membuat mahasiswa sangat senang. Tidak hanya sampai di situ. Mahasiswa yang telah lulus kelas Android Pemula tadi, selanjutnya dimotivasi kembali agar mengikuti kelas dengan level lebih tinggi. 

Berkaca pada kesuksesan tersebut, dan guna meluaskan jumlah mahasiswa penerima manfaat,  prodi tempat beliau mengajar (D3 – RPLA di Tel-U) juga menginisiasi kerja sama pembelian token belajar dengan harga bersahabat dengan Dicoding. Bermula pada Maret 2020, alhasil, kini output belajar di Dicoding, masuk menjadi komponen penilaian mahasiswa. 

Ada 2 (dua) mata kuliah di prodi D3-DPLA yang ketika mahasiswa punya sertifikat Dicoding, mereka bisa langsung dapat nilai A setelah interview dengan dosen. Pertama, mata kuliah Pemrograman untuk Perangkat Bergerak 1 mensyaratkan lulus kelas BFAA. Kedua, mata kuliah Pemrograman untuk Perangkat Bergerak 2 mensyaratkan lulus kelas Belajar Android Jetpack Pro dan Menjadi Android Developer Expert. 

Kenapa Dicoding?? Jawabannya:   

“Pengalaman belajar di Dicoding waktu itu sangat mengesankan. Materinya relevan karena Dicoding adalah  Google Authorized Training Partner. Semua modulnya telah diverifikasi langsung oleh Google. Apalagi, penyampaian materi juga luwes dalam bahasa Indonesia.” (Indra Azimi). 

Dibalik dorongan terus menerus pada siswa agar belajar di luar materi kampus, tersimpan sebuah harapan tulus. Beliau semata-mata ingin anak-anak didiknya sukses mengarungi karir di dunia digital.

Faktanya, pasca belajar Dicoding, beberapa mahasiswanya terbukti jadi aktif mengikuti proyek bersama senior dan dosen. Selain pengalaman, kesempatan ini tentu saja menghasilkan uang saku tambahan bagi siswa bersangkutan.  Lebih lanjut, sebagian di antara mahasiswanya yang lain juga dipercaya jadi Fasilitator di program  Baparekraf Digital Talent 2021. 

Sebagian siswa lainnya juga bercerita tentang  motivasi yang didapat setelah menuntaskan kelas-kelas di Dicoding. Karena tugas-tugasnya menantang, mereka lebih semangat untuk belajar. 

Para mahasiwanya tersebut sangat termotivasi tinggi untuk berkarir programmer. Menurut Pak Indra, ada beberapa kesamaan karakter di antara mereka, yakni: 

  • Selalu haus akan ilmu

Saat dipantik dengan sebuah ide, siswa tersebut akan terus mengulik materinya sampai benar-benar paham  

  • Mampu belajar mandiri

Tak perlu ada campur tangan dari dosen / lainnya saat belajar. Siswa mampu mengidentifikasi apa dan solusi bagi kesulitannya sendiri

  • Pandai mengatur waktu

Semua dari kita punya 24 jam yang sama, yang membedakan adalah cara mengaturnya. Sudahkah menempatkan aktivitias berorientasi jangka panjang / berdampak luas sebagai prioritas #1 sehari-hari?

Menutup pembicaraan sore itu, Pak Indra kembali mengingatkan tentang pentingnya untuk memerdekakan diri dalam belajar. “Belajar jangan hanya di kampus,” ulangnya. Sudah siap?

Mengenal Sosok Dosen Masa Kini di Dunia IT – end

Simak kisah lainnya dari para sosok pengajar di dunia programming di Indonesia:

  1. Cerita Pendidik: Menumbuhkan Cinta Programming di Kalangan Mahasiswa
  2. Dosen Penerima Beasiswa Google FDP ini Diundang hadir di Google I/O

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Content Editor at Dicoding Indonesia