cinta programming

Cerita Pendidik: Menumbuhkan Cinta Programming di Kalangan Mahasiswa

Cerita Pendidik: Menumbuhkan Cinta Programming di Kalangan Mahasiswa

Jika sudah cinta programming, maka belajar ngoding pun terasa lebih mudah dan enjoy. Hal inilah yang motivasi mengajar bagi Muhammad Khaidir Fahram, Dosen STIKOM Insan Unggul dan Poltek Piksi Input, Serang. Pak Khaidir -begitu ia disapa- telah tujuh (7) tahun mengemban amanah sebagai dosen. Sekian lama itu pula ia berusaha untuk menanamkan rasa cinta programming para ratusan mahasiswanya. Bagaimana beliau melakukannya? Mari kita simak

Awal Mula Menjadi Dosen

Pak Khaidir mulanya adalah salah satu lulusan terbaik STIKOM Insan Unggul. Dari pencapaian itu, ia dipercaya jadi seorang asisten pengajar. Pada suatu hari sang dosen berkata “Khaidir, kamu masuk kelas, saya yang ngajar.” Tapi di dalam kelas, alih-alih hanya duduk manis, lulusan Cum Laude ini malah ditodong mengajar tanpa persiapan.

Bermula dari momen tak disangka, ternyata menjadi suka. Sejak 2013 hingga saat ini, beliau lanjut mengajar di dua kampus sekaligus. Saat ini fokus beliau adalah mengajar mobile programming. Keahlian ini Pak Khaidir dapatkan salah satunya dari Training of Trainer untuk Google Developer Kejar, sebuah program training andalan dari Google sejak 2018. Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan oleh Dicoding sebagai Google Authorized Training Partner in Indonesia menggunakan kurikulum berstandar industri global.

Kini telah 5 kelas yang telah beliau tuntaskan di alur belajar Android di Dicoding Academy lewat 325 jam program belajar dari kelas level dasar (Memulai Pemrograman dengan Kotlin) hingga pro (Belajar Android Jetpack Pro). Dengan skill hingga level mahir, bagaimana Pak Khaidir merefleksikannya dalam perannya sebagai seorang dosen?

Mendidik dengan Memberi Contoh

“Sebagai pendidik sejak 2013,  saya ingin memotivasi mahasiswa agar cinta programming. Caranya, ya dengan menunjukkan saya programmer yang kapabel.” (Khaidir)

Yang utama, beliau ingin agar keahliannya bisa memotivasi siswa agar cinta programming. Niat ini terpantik saat ia masih duduk di bangku kuliah. Kala masih  berkuliah di STIKOM Insan Unggul, ia mengamati 2 tipe pendidik. Dosen tipe pertama hanya menyampakan materi. Tipe kedua, dosen yang menyampaikan materi dan menginspirasi siswanya untuk berhasil. “Saya ingin jadi dosen yang kedua, yang memotivasi,” kenangnya. Sosok pengajar asal Cilegon ini mengungkapkan bahwa yang dipelajari di kampus itu hanya kulitnya saja. Karena itulah penting bagi mahasiswa untuk punya dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk belajar jauh lebih tinggi. Caranya?

Agar siswa semangat, Pak Khaidir merasa perlu membuktikan bahwa jadi programmer itu, karir yang menjanjikan. Untuk itulah ia pun merangkap programmer freelance profesional yang kerap menggarap proyek client dari sektor swasta

Lebih lanjut, beliau menambahkan, “Dengan ini, mahasiswa tahu saya bisa garap proyek (freelancing). Saya pun jadi bisa ajak mereka untuk ikutan. Siswa jadi tahu bahwa dengan jadi programmer, mereka bisa dapat penghidupan yang baik. Semoga mahasiswa saya jadi terdorong untuk maju, jauh daripada saya,
tutupnya penuh harap.

Tantangan jadi Pendidik di Era Digital: Kurikulum

Pak Khaidir adalah sosok yang progresif. Targetnya pada tahun ini adalah lulus sertifikasi Google Associate Android Developer yang terkenal sulit. Ia ingin keahliannya diakui secara internasional sehingga mampu merambah client baru dan proyek-proyek freelance dari luar negeri.

Ia paham dunia profesional di luar sana bergerak sangat cepat sehingga terkadang antara talenta kebutuhan industri dengan talenta yang dihasilkan kampus, kerap tidak nyambung.  Ia sadari inilah tantangan terbesar bagi pendidik dan dunia kampus saat ini.   Untuk itulah menurutnya kerjasama berorientasi pengembangan talenta antara universitas dan industri, sangatlah penting.

Tantangan lainnya adalah kala menghadapi Mahasiswa yang curhat “salah jurusan.” Ia kerap menghadapi wajah-wajah bingung mahasiswa dengan senyum dan cerita tentang dirinya sendiri. Ia mencoba meyakinkan para mahasiswanyabahwa banyak sekali sumber belajar yang bisa dieksplorasi untuk menelisik di mana minat dan bakat kita. Termasuk dalam hal belajar programming, Pak Khaidir sangat merekomendasikan Dicoding pada para siswanya.

Lantas apa hal pertama untuk belajar Android bagi mahasiswa, terutama di Dicoding? “Belajar kelas Java di Dicoding!” serunya.  Lantas lanjut ke kelas Memulai Pemrograman dengan Kotlin. Untuk lebih membangkitkan gelora belajar, ia kerap berkata pada Mahasiswa bahwa dosen seperti dan seumur beliau saja, masih menempa diri. Tetaplah semangat dalam mempelajari ilmu yang baru.

Pencapaian sebagai Dosen

Menengok 7 tahun ke belakang, ia bertutur bahwa pencapaiannya yang sejati adalah saat melihat para mahasiswaya berhasil. Saat mengetahui mereka cinta programming, betapapun sulit mempelajarinya. Salah satunya adalah seorang siswanya di kelas karyawan. Rumahnya berpuluh kilometer jaraknya dari kampus, tapi ia tetap semangat belajar setelah kerja seharian. Mahasiswa tersebut lantas mendapat IPK terbaik dan lanjut S2. Saat mendengar penuturan bahwa sang mahasiswa ini ingin jadi dosen, ia bertambah sumringah. Itulah letak kebahagiaan seorang pendidik, menurutnya.

Selain itu, berkat sertifikasi Android dari Google Faculty Training di Dicoding, Pak Khaidir membantu kampusnya mendapatkan hibah pengadaan 1 Laboratorium Mobile Programming dari Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemendikbud RI. Ini kabar baik yang telah lama dinanti-nanti oleh pihak kampus.

Dengan fasilitas tersebut, tak lama lagi Politeknik Piksi Input, Serang akan memiliki 25 buah PCs berkapasitas tinggi untuk bantu mahasiswa belajar mobile development. Ia berharap, dengan infrastruktur yang semakin baik, lebih banyak lagi  mahasiswa yang semangat belajar dan cinta programming.

Cerita Pendidik: Menumbuhkan Cinta Programming di Kalangan Mahasiswa-end 

Simak kisah lainnya dari para pendidik Indonesia di dunia programming:

  1. Dosen Penerima Beasiswa Google FDP ini Diundang hadir di Google I/O

  2. Tantangan & Dedikasi Guru Bidang Programming

  3. Dari Kebumen ke San Francisco: Motivasi Seorang Dosen Fasilitator Google Developer Kejar 2018

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Content Editor at Dicoding Indonesia