Bangkit untuk Berlari: Cerita Developer yang Terkena PHK saat Pandemi

Bangkit untuk Berlari: Cerita Developer yang Terkena PHK saat Pandemi

Terimbas pandemi corona, lebih dari 2 juta pekerja dirumahkan dan di-PHK (data Kemenaker, 20 April 2020)

Cerita developer asal Semarang ini, sama. Ong Axel Belamy Sugiarto (23 tahun) adalah bagian dari  2.084.593 pekerja dari 116.370 perusahaan se-Indonesia yang mata pencahariannya pupus karena Covid-19. Bagaimana PHK ini jadi titik balik dalam hidupnya? Bagaimana Axel bangkit untuk berlari mengubah nasibnya? Kita simak 

Cerita Developer yang Terimbas Pandemi 

Sejak 2019 Axel bekerja di sebuah software house di kota Semarang. Lulusan S1 Teknik informatika Unika Soegijapranata ini dipercaya sebagai developer.  Namun pekerjaannya sehari- hari terkendala karena “Kurang paham standar dan logikanya,” ujar Axel. Saat awal 2020 Corona berhembus . Client berkurang drastis. Pendapatan perusahaan surut. Kantornya mengambil langkah darurat. Alhasil, Axel menerima pil pahit pemutusan hubungan kerja.

Tak hanya pekerjaan utamanya yang terdampak Covid-19. Pekerjaan sampingan Axel pun demikian. Dulu sebagai pianis, setiap akhir pekan axel terima job bermain piano di acara pernikahan. Kini sumber pendapatan tersebut berhenti total. Sejak pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) April lalu, acara-acara publik seperti perayaan dengan undangan massal, jelas dilarang. 

Terpukul, sudah pasti. Axel pun getol mencari-cari lowongan di internet. Namanya terdaftar sebagai pencari kerja di portal sistem tenaga kerja Disnaker Semarang. Tapi tak kunjung ia temukan posisi yang pas untuk dilamar. Selain karena langka jumlah lokernya, tinggi pula kebutuhan skill dan pengalaman yang disyaratkan. Ia jelas tak punya. 

Sebagai lulusan IT tahun 2019 dengan pengalaman kerja kurang dari setahun, faktor “pengalaman” memang baru sedikit. Tapi bagaimana dengan skill? Apakah 4 tahun kuliah belum cukup memberi bekal tepat sesuai dengan kebutuhan industri? Nyatanya tidak cukup. Axel mulai introspeksi diri bahwa ada poin utama yang kurang dalam dirinya: skill. 

 “Dulu kemampuan saya sebagai developer kurang karena basic pemrograman kurang kuat,” akunya. 

Menemukan Dicoding lewat Program Prakerja 

Kegalauan Axel tentang skill-nya mewakili problem utama dalam SDM Digital di Indonesia.  Apa itu? Mismatch alias tidak nyambung-nya antara kurikulum pendidikan IT dengan kebutuhan industri. Seperti dilansir dari CNN, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara mengatakan:  

“Kualitas pendidikan bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia menempati peringkat ke-8 di Asia Tenggara. Dampaknya, kita kekurangan kebutuhan tenaga kompeten industri ”

Axel kian sadar. Untuk jadi SDM Digital kompeten, ijazah S1-nya saja, ternyata tidak cukup. Ia perlu solusi belajar untuk memperkuat dasar-dasar programming-nya hingga ke level expert.

Hingga akhirnya Axel temukan program Dicoding yang menjadi salah satu vendor program kartu prakerja dari pemerintah. Karena tertarik dengan pengembangan web, ia mengambil kelas Belajar Dasar Pemrograman Web. Durasi belajar maksimal 30 hari. Ini merupakan kelas langkah pertama dalam alur belajar front-end web development di Dicoding. Kelas ini adalah kelas nomor paling populer dengan jumlah peserta terbanyak di bulan Mei 2020. 

Di kelas tersebut Axel mengaku kembali belajar Javascript. Dulu di kampus ia pernah belajar, namun hanya  kulitnya saja.

“Di kampus dulu saya merasa belajar ngoding, ngambang alias gak dalam. Di Dicoding lengkap. Semua yang saya perlu untuk bangun front end web, seperti html, css, js, ada.” 

Tidak Gengsi: Modal Utama untuk Bangkit dari PHK 

Lulusan S1 IT kok belajar kelas programming level dasar? Agak kontras, bukan?

Ya. Tapi itu bukan masalah buat Axel. Ia tidak peduli. Pertama, ia buang jauh rasa gengsi. Ia hanya ingin bangkit berlari. Pemuda ulet ini hanya ingin meraih kesempatan karir yang lebih baik di tengah pandemi sekalipun. Tidak ada kata terlambat selama ada niat kuat. 

Axel punya target. Ia ingin kelas Web Dasar yang dipelajarinya jadi langkah awalnya menuju front-end web developer expert. Tekad kuatnya terbukti. Ia serius mengerjakan modul demi modul. Di ujung materi ia berhasil membuat web dan lulus dari program prakerja. Tanpa perlu waktu lama dan kurang dari 30 hari, bisa! 

Gak apa-apa saya back to basic. Belajar dari dasar lagi, gak usah gengsi. Yang penting skill diri. Modal utama saya buat bangkit. Buat berlari.”  (Axel)

Harapan Baru di Kantor Baru

Dengan ilmu dari kelas Web Dasar, Axel lebih percaya diri untuk lari menjemput harapan baru. Cerita developer yang satu ini berlanjut. Sertifikasi dasar dari Dicoding kini membantu menambah wawasan dalam profesi anyarnya sebagai Junior IT Staff di SMA Marsudirini Sedes Sapientiae Kota Semarang. Kini Axel masih dalam tahap percobaan. Sehari-hari bekerja paruh waktu di lab server SMA tersebut. Kita doakan agar ia lekas diterima ya teman-teman! 

Tak berhenti di kelas Web Dasar, kini Axel lanjut ke kelas Fundamental Front End Web. Di masa yang akan datang pemuda ramah ini berharap bisa berbagi skill-nya kepada adik-adik kelasnya yang kerap bertanya tentang programming

Jika sedang down, Ia percaya bahwa Tuhan membantunya untuk bangkit berjuang di bidang yang ia suka ini. “Gak boleh malas-malasan,” ujarnya bersemangat menutup pembicaraan.  

Mau juga bangkit berlari merubah nasib? Kamu bisa mulai mempelajari bidang programming masa depan di dicoding.com/learningpaths 

Bangkit untuk Berlari: Cerita Developer yang Terkena PHK saat Pandemi -end

Simak juga cerita-cerita lulusan Dicoding lainnya yang bangkit merubah nasibnya:  

  1. Bangkit dari Keterpurukan dengan Belajar Android
  2. Profil Developer Kediri yang Giat Membangun Desa: Saifulloh Azhar
  3. Ahmad Hanafi: Developer yang Tangguh Belajar Pemrograman, Tak Kenal Rintangan  

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor at Dicoding Indonesia