belajar android

Bangkit dari Keterpurukan dengan Belajar Android

Bangkit dari Keterpurukan dengan Belajar Android

Pernahkah kamu terpuruk di suatu titik? Serasa hidup penuh cobaan dan sulit bangkit? Pengalaman ini sempat dirasakan oleh Fiorent Nicholas Yehardi, developer muda asal Serang, Banten. Semula hidup mapan enak-enakan, dunia Fiorent serasa runtuh saat ayahnya terkena PHK. Sontak ia harus jadi tulang punggung keluarga.

Seperti apa kisahnya? Bagaimana belajar Android di Dicoding membantunya bangkit dari cobaan? Kita simak kisahnya berikut ini. 

Hobi Nge-game Tak Kenal Waktu

Di bangku kuliah dulu Fiorent (22 tahun) seperti mahasiswa kebanyakan. Hobinya, nge-game tak kenal waktu. “Saya bisa gaming hampir seharian penuh,” kenangnya. 

Tenggelam dalam dunia game tak bertepi, kuliahnya di jurusan Teknik Informatika, Universitas Serang Raya sempat tak sungguh-sungguh dijalaninya. Buatnya, hadir di kelas atau mengerjakan tugas, sudah bagus. Nyaris tidak ada motivasi lain dalam hidupnya. Ia menganggap “status berkuliah” itu cukup.

Momen Titik Balik yang Mengubah Hidup 

Menginjak semester 2,  Fiorent dan keluarganya diguncang cobaan cukup berat. Sang Ayah yang menyandang posisi mapan di sebuah perusahaan, mendadak terkena PHK massal. Padahal saat itu sang ayahlah satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Beliau tak pernah absen membiayai semua kebutuhan, termasuk ongkos kuliah dan keperluan Fiorent sehari-hari. Apa imbasnya?

Fiorent tak pernah membayangkan gaya hidupnya akan berubah 180 derajat. Semula hidup serba berlebihan, berubah  jadi serba kekurangan. Dulu ia bersama orang tua dan kedua saudaranya menempati rumah perusahaan berfasilitas lengkap. Namun pasca PHK sang ayah, mau tak mau mereka mengungsi ke kontrakan yang sederhana. Boro-boro main game atau jalan-jalan di mall, buat kehidupan sehari-hari pun, sulit.

Dari peristiwa ini, Fiorent merasa dampak terbesarnya ada di masa depannya. Setiap hari ia memutar otak bagaimana bantu perekonomian keluarga dan membiayai kuliah. Namun malang, meski beberapa kali melamar kerja, ia tak pernah dipanggil wawancara. Kenapa yah?

“Saya sadar saya nggak punya skill.  Jadi harus fokus buat gali skill biar bisa cari kerja dan bantu keluarga. Bisa dibilang, saya tulang punggung keluarga.” (Fiorent) 

Belajar Android di Dicoding dan Jadi Asisten Lab 

Awalnya emoh melirik profesi asisten lab, Fiorent berubah pikiran. Ia melihat posisi asisten Lab sebagai jalannya mendapat skill dan beasiswa kuliah. Beruntung dosennya Bapak Haris Trioni Sigit, memperkenalkannya pada Dicoding. Fiorent masih ingat apa yang sang dosen sampaikan hari itu: 

“Nih kalau mau lebih ilmu programming-nya, baca-baca di sini aja (Dicoding). Nanti bapak bimbing”
(Haris Triono Sigit,  M. KOM, Dosen Universitas Serang Raya)

Fiorent pun mengikuti saran beliau. Semenjak tahu Dicoding, waktu untuk belajar semakin banyak. “Nggak main game lagi!” tegasnya.

Serius menekuni passion-nya belajar android ini, ia mendaftar Google Developer Kejar 2019 lalu meraih  beasiswa hingga kelas Android Expert. Ia lanjut mendaftar IDCamp yang memberikannya beasiswa kelas Kotlin Android Developer Expert dari Indosat Ooredoo. 

Ia mengaku “Setiap hari pusing ngoding tapi seneng aja.” Lantas bagaimana jika ia tak serius belajar programming di Dicoding? “Mungkin kerja saya jadi karyawan pas pasan,” pungkasnya. 

Bagaimana kualitas pengajaran di Dicoding menurut Fiorent?

“Jauh banget dibanding yang diajarkan di kampus. Ngandelin kuliah, nggak cukup. Dicoding mengajarkan ilmu berorientasi kerja.” (Fiorent)

Bangkit dari Cobaan dan Jadi Tulang Punggung Keluarga

Setelah tuntas beasiswa GDK dan IDCamp, Fiorent mulai melamar pekerjaan. Bermodalkan skill dan 2 sertifikat belajar programming level expert, dalam satu minggu ia diterima wawancara di keempat  perusahaan yang ia lamar. 

Salah satu di antara lamaran kerjanya adalah kantornya kini, sebuah startup dengan client sekolah-sekolah di Jabodetabek. Tak perlu menunggu lulus kuliah Desember 2019 lalu, Fiorent sudah mulai memulai karir sebagai Android Engineer di sana. “Kawan Edu” namanya. Selesai sidang skripsi, ia langsung bekerja di  perusahaan penyedia aplikasi pendamping kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut. 

Di waktu luang Fiorent pun menyambi kerjakan proyek sampingan sembari meluaskan jejaringnya. Apa hikmah yang ia petik setelah masuk tahun ke-3 belajar Android di Dicoding?

“Dengan Dicoding, saya jadi kenal dunia belajar Android yang ternyata menyenangkan.”  Fiorent)

Desember lalu saat wisuda kampusnya, tak hanya ijasah S1 saja yang ia tenteng. Fiorent juga menyandang sertifikasi kelas Android Expert dan Kotlin Android Developer Expert. Kini di kantornya, tulang punggung kebanggaan keluarga ini sehari-harinya mempraktikkan ilmu mobile app development dari Dicoding dalam membuat aplikasi Android. 

belajar android

Fiorent sudah membuktikan ia bisa bangkit dari cobaan dan jadi tulang punggung keluarga. Awalnya sulit, tapi BISA! 

Kalau kamu masih penasaran kisah-kisah developer lainnya kala belajar programming, simak tulisan berikut: 

  1. Justin Ananda Kusnadi: Wujudkan Cita-cita Programmer Sejak Usia 14 tahun
  2. Digital Talents Scholarships Buka Peluang Karirku Di Unicorn

Bangkit dari Keterpurukan dengan Belajar Android – end

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding