[[BLOG]] [3 Juni 2024] Banner Blog - Moh Fatchurrohman, Lulusan Program Lintasarta Cloudeka 2023 (1)

Bekerja sebagai Guru sambil Belajar, Bukan Hal yang Mustahil

Cerita Moh Fatchurrohman, Guru Berusia 38 Tahun yang Bekerja sambil Belajar Coding di Lintasarta Cloudeka Digischool 2023

Di balik langkah pasti dan senyum tulus seorang guru, tersembunyi kisah perjuangan yang menginspirasi. Bekerja sebagai guru matematika di Madrasah Aliyah Miftahul Huda Tayu, Pati, Jawa Tengah, Moh Fatchurrohman (38) adalah salah satu sosok inspiratif tersebut.

Lahir dan besar di Pati, guru yang akrab dipanggil Pak Fathur ini memulai kiprahnya di dunia pendidikan sejak tahun 2008. Selama lebih dari lima belas tahun mengajar, ada banyak lika-liku yang dilewatinya. Salah satunya adalah peristiwa yang mengubah hidup Pak Fathur, ketika kakinya harus diamputasi dan membuatnya melangkah menggunakan kaki palsu.

đź’» Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

“Saat itu, saya tidak bisa jalan dan dokter mendiagnosisnya dengan penyempitan pembuluh darah. Kaki kanan saya pun membusuk dan harus diamputasi pada tahun 2012,” kenangnya.

Meski begitu, semangatnya tak pernah redup. Pada tahun 2021, ketika beliau sedang membimbing murid-muridnya di Samsung Innovation Campus, Pak Fathur menemukan gairah lamanya kembali. Sempat menekuni teknologi di masa SMA membuat Pak Fathur kepincut ketika melihat Python. Dari situ, beliau termotivasi untuk belajar bahasa pemrograman kembali.

Untuk memperdalam ilmunya, beliau mengikuti Lintasarta Cloudeka Digischool 2023. Program tersebut menyalakan semangat Pak Fathur untuk menjadi teladan bagi generasi muda. Inilah kisah Pak Fathur yang berhasil melewati berbagai tantangan untuk menjadi guru sekaligus talenta digital andal menginspirasi!

Putra Petani yang Sempat Gagal Lanjutkan Pendidikan dalam Bidang Teknologi

Putra Petani yang Sempat Gagal Lanjutkan Pendidikan dalam Bidang Teknologi

Sebagai guru matematika yang berdedikasi, Pak Fathur tak hanya melihat pekerjaannya sebagai tugas harian, tetapi juga sebagai panggilan jiwa yang memberi arti dan tujuan dalam hidupnya. Ketika ditanya mengenai pengalamannya, Pak Fathur dengan bangga mengatakan bahwa beliau telah mengabdikan dirinya dalam pendidikan selama lebih dari satu dekade.

“Saya telah mengajar matematika di tingkat Madrasah Aliyah (MA) atau SMA selama lebih dari 15 tahun kepada para siswa di kelas 12 dengan dedikasi penuh.”

Pak Fathur sendiri lahir dan besar di Pati dari keluarga sederhana. Beliau adalah anak sulung dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang petani tambak yang dulu menjadi guru SD, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Kedua orang tua Pak Fathur berharap beliau bisa mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi seorang pendidik.

“Dulu, saya memiliki minat yang besar terhadap komputer dan teknologi. Namun, cita-cita saya untuk mengambil jurusan Teknik Komputer di universitas terkemuka tidak bisa terwujud karena gagal di beberapa tes masuk,” begitu ceritanya.

Meski kecewa, Pak Fathur tak pernah menyerah pada impiannya. Sampai akhirnya, beliau memutuskan untuk berkuliah di Universitas Islam Malang dan memilih jurusan Pendidikan Matematika. Kecintaannya terhadap teknologi membuatnya mendalami ilmu terapan matematika, lalu mengambil peramalan forecasting untuk tugas akhirnya.

Tak lama setelah lulus, Pak Fathur pun langsung bekerja sebagai guru matematika di tempat kelahirannya. Dari situ, setiap ada kesempatan, beliau selalu mengembangkan keterampilan dalam bidang yang dicintainya sembari mengabdi pada masa depan bangsa.

Kehilangan Salah Satu Kaki, tetapi Menemukan Semangat Baru

Kehilangan Salah Satu Kaki, tetapi Menemukan Semangat Baru

Pada satu hari yang cerah, Pak Fathur tak menyangka bahwa hidupnya akan berubah selamanya. Ketika akan jogging bersama murid-murid pramuka yang sedang berkemah, beliau tak bisa merasakan kakinya. Vonis dokter menyebutkan bahwa ada penyempitan pembuluh darah yang membuat kaki kanannya membusuk dan harus diamputasi.

“Bagian bawah kaki kanan saya diamputasi tapi tidak sembuh sepenuhnya. Saya pun harus menjalani amputasi kedua pada tahun 2018,” ujarnya.

Meskipun menghadapi cobaan yang begitu berat, Pak Fathur tetap tegar. Selama enam tahun pasca operasi pertama, beliau mengandalkan tongkat kruk untuk bergerak dan melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang guru dengan semangat yang tak kenal lelah.

“Walau penuh dengan cobaan, saya bersyukur atas segala kekuatan yang diberikan kepada saya. Sekarang, saya sudah bisa memakai kaki palsu untuk aktivitas sehari-hari,” ucapnya.

Setelah menghadapi cobaan berat pasca kakinya diamputasi, Pak Fathur tidak menyerah pada keadaan. Beliau menemukan kembali gairahnya melalui bidang teknologi. 

Awalnya, ketertarikannya terhadap dunia teknologi hidup kembali saat beliau berpartisipasi dalam acara Samsung Innovation Campus sekitar tahun 2021. Pada kompetisi tersebut, beliau tidak hanya mendampingi murid-muridnya, tetapi juga memperdalam pengetahuannya tentang bahasa pemrograman, khususnya Python.

“Dari situ, saya menjadi lebih termotivasi untuk terus belajar, terutama dalam bidang coding. Bahkan, usia saya yang sudah tidak muda tak menghalangi semangat saya untuk terus berkembang di dunia IT,” ceritanya.

Minat pada Machine Learning Membawa Pak Fathur pada Program Lintasarta Cloudeka 2023

Keseharian Pak Fathur yang Bekerja sambil Belajar Coding di Sela Kegiatannya

Rasa ingin tahu Pak Fathur terhadap perkembangan teknologi membawanya pada Dicoding. Melalui Dicoding, beliau sempat mengikuti seleksi program beasiswa untuk disabilitas, tetapi sayangnya tidak berhasil lolos. Namun, ketertarikannya pada machine learning dan analisis data membawanya pada kesempatan baru, yaitu Lintasarta.

“Ketika saya menemukan program pelatihan gratis dari Lintasarta Cloudeka 2023 yang berkaitan dengan machine learning, saya pun langsung tertarik untuk bergabung. Program ini sejalan dengan minat dan latar belakang saya dalam bidang data,” begitu katanya.

Ikut program Lintasarta, mau tidak mau, Pak Fathur harus menyeimbangkan waktu antara mengajar dan belajar. Dengan jadwal yang padat, beliau mencari celah waktu di antara kewajibannya sebagai guru sekaligus kepala keluarga. Pagi hingga siang, beliau mengajar di sekolah; malamnya, beliau sering mengisi rapat-rapat di desa.

“Saya memanfaatkan sela-sela waktu di antara aktivitas saya untuk belajar, seperti di waktu istirahat mengajar. Terkadang, saya juga belajar hingga larut malam untuk menyelesaikan materi pembelajaran,” ungkapnya.

Ketika ditanya soal preferensi belajar, Pak Fathur mengaku bahwa dirinya lebih suka mempelajari materi dengan membaca, alih-alih menonton video. Oleh karena itu, platform Dicoding sangat cocok baginya karena memungkinkan untuk memahami materi secara mendalam melalui tulisan.

“Saya lebih suka membaca karena hal itu membuat saya bisa memahami materi secara personal. Kemudian, saya akan menonton video jika diperlukan. Menurut saya, platform Dicoding sangat pas bagi saya.”

Pilihan kelas favorit Pak Fathur adalah machine learning karena sesuai dengan minatnya pada bidang data science dan statistika. Kelas-kelas seperti “Belajar Pengembangan Machine Learning” dan “Belajar Dasar Data Science” pun sudah dikhatamkannya. 

“Teruslah Belajar, Lakukan, dan Bagikan Ilmunya”

Bekerja Sepenuh Hati demi Masa Depan Bangsa yang Lebih Baik

Setelah belajar dalam program Lintasarta Cloudeka 2023, Pak Fathur semakin bersemangat untuk membagi aspirasinya pada murid-muridnya. Beliau berusaha menginspirasi mereka untuk mengeksplorasi dunia statistika dengan menggunakan bahasa pemrograman, seperti Python. Baginya, ilmu statistika adalah ladang yang luas untuk dieksplorasi.

Ketika ditanya tentang motivasi atau tips untuk belajar teknologi, khususnya bagi para guru, Pak Fathur memberikan nasihat berharga. Baginya, semangat dan niat yang kuat adalah kunci utama. Usia bukanlah halangan untuk menimba ilmu karena sesungguhnya belajar itu tak kenal usia. Pak Fathur menyemangati para guru untuk bisa menjadi seorang long-life learner.

“Proses belajar sejatinya tidak boleh berhenti, bahkan setelah lulus dari sekolah atau universitas. Tantangan yang akan dihadapi mungkin berat, tapi, dengan niat yang teguh, pasti bisa diatasi.”

Beliau yakin bahwa ilmu yang dipelajarinya akan bermanfaat suatu hari nanti. Sebagai pesan terakhir, beliau pun memberikan pesan yang sederhana, tetapi membekas. “Teruslah belajar, lakukan, dan bagikan ilmu tersebut,” tutupnya.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.