Awalnya Hanya Ingin Konversi SKS, Ternyata Asah Juga Memperkuat Karier sebagai Software Engineer

Cerita Raihan Rizki Alfareza, Lulusan Program Asah led by Dicoding

Awalnya, Raihan Rizki Alfareza (22) mengikuti program Asah hanya untuk mengonversi SKS semester lima. Tak disangka, keputusan yang bermula dari kebutuhan akademik itu justru membawanya lebih dekat dengan dunia industri. Melalui alur Front-End & Back-End with AI, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya ini memperdalam pengembangan aplikasi secara end-to-end, mulai dari front-end, back-end, hingga penerapan AI. Bekal tersebut kini turut ia gunakan dalam pekerjaannya sebagai Software Engineer di PT Restu Bumi Makmur.Β 

Ketertarikan pada Coding Dimulai Sejak SMP

Raihan lahir dan tumbuh di Kota Mojokerto sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Ibunya menjalankan usaha perdagangan sembako grosir dan eceran, sedangkan ayahnya bekerja di bidang jasa travel dan penyewaan mobil.

πŸ’» Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Dari keluarganya, Raihan belajar bekerja secara cerdas dan efisien, disiplin, serta mengatur waktu dengan baik. Prinsip tersebut semakin terasa manfaatnya ketika ia harus menjalani pendidikan tinggi bersamaan dengan pekerjaan profesional.

Orang tuanya pun selalu mengingatkan Raihan untuk menikmati setiap proses yang dipilihnya, tetap fokus pada tujuan, menjaga ibadah, dan mensyukuri apa pun hasil yang diperoleh. Mereka juga berharap Raihan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ketertarikan Raihan terhadap teknologi mulai tumbuh sejak SMP. Ia kagum melihat bagaimana baris kode dapat digunakan untuk memecahkan masalah dan menciptakan solusi yang aplikatif. Rasa penasaran tersebut kemudian membawanya masuk ke jurusan Rekayasa Perangkat Lunak di SMK Telkom Malang dan berlanjut ke jurusan Teknik Informatika di Universitas Negeri Surabaya.

β€œSaya kagum melihat bagaimana baris kode bisa memecahkan masalah dan menciptakan solusi aplikatif bagi masalah sehari-hari,” ucap Raihan.

Awalnya Hanya Ingin Mengonversi SKS lewat Asah

Raihan mengetahui program Asah melalui dosennya. Pada awalnya, motivasinya mengikuti program ini hanya untuk mengonversi SKS semester lima sekaligus membantu mempercepat studinya.

Namun, setelah menjalani proses pembelajaran, Raihan justru menemukan hal lain yang menurutnya tidak kalah berharga. Ia mendapatkan kesempatan belajar langsung dari praktisi industri dan mengenal berbagai pendekatan yang belum banyak ditemuinya dalam perkuliahan reguler.

β€œAwalnya saya hanya berniat mengonversi SKS mata kuliah semester 5 untuk mempercepat kelulusan, ternyata di dalamnya banyak sekali ilmu yang diberikan oleh praktisi-praktisi industri.” ujar Raihan.

Raihan memilih alur belajar Front-End & Back-End with AI di program Asah. Menurutnya, kurikulum yang disediakan mengikuti perkembangan teknologi sehingga membantunya memahami integrasi berbagai komponen pengembangan aplikasi dengan lebih utuh.

Materi yang kompleks, mulai dari front-end, back-end, hingga penerapan AI, dipelajari melalui pendekatan yang menurut Raihan lebih mudah dipahami dan langsung dipraktikkan. Pengalaman itu semakin terasa ketika ia mengerjakan capstone project. Raihan dapat melihat bagaimana berbagai materi yang sebelumnya dipelajari secara terpisah akhirnya bekerja sebagai satu sistem.

Memahami Pengembangan Aplikasi secara End-to-End

Bagi Raihan, salah satu bagian terbaik dari program Asah adalah kesempatan mempelajari proses pengembangan aplikasi secara end-to-end. Ia tidak hanya belajar membuat tampilan atau menangani sisi back-end, tetapi juga memahami penyusunan API, manipulasi data pada front-end, proses deployment, hingga penerapan AI dalam aplikasi.

β€œProgram Asah menggunakan pendekatan belajar berbasis proyek, membuat saya tidak hanya memahami konsep teori, tetapi juga percaya diri membangun arsitektur aplikasi yang utuh dan siap pakai di industri,” ujar Raihan.

Proses tersebut juga melatih kemampuan lain yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Melalui capstone project, Raihan memperoleh pengalaman dalam manajemen proyek, bekerja bersama anggota tim dengan keahlian berbeda, serta membangun pola pikir yang lebih terbuka dan adaptif ketika menyelesaikan masalah.

Dalam menjalani pembelajaran, Raihan relatif tidak mengalami kendala besar. Kebiasaan mengatur waktu membuatnya dapat menyelesaikan materi, melakukan daily check-in, dan mengumpulkan tugas sesuai jadwal. Cara tersebut membantunya menjaga proses belajar tetap teratur sekaligus memanfaatkan dukungan yang tersedia di program.

Membawa Bekal Ilmu dari Program Asah ke Pekerjaan Software Engineer

Berbeda dari beberapa peserta yang baru mencari pekerjaan setelah program selesai, Raihan sudah bekerja ketika mengikuti program Asah. Karena itu, dampak program terhadap perjalanan kariernya tidak berhenti pada proses mendapatkan pekerjaan baru.

Sebagai Software Engineer Full-Stack Developer di PT Restu Bumi Makmur, Raihan bertanggung jawab merancang dan mengembangkan aplikasi berbasis web serta sistem internal perusahaan bersama tim, dari sisi front-end hingga back-end. Materi Back-End Developer dan Penerapan AI dari Asah menjadi beberapa pembelajaran yang paling ia rasakan manfaatnya dalam pekerjaan.

Pemahaman mengenai arsitektur API, pengelolaan basis data, dan integrasi AI ia gunakan ketika mengembangkan sistem manajemen operasional perusahaan berupa Custom POS & ERP. Menurut Raihan, kemampuan tersebut membantunya membangun fitur untuk melacak proses produksi dan operasional secara lebih efisien serta mengurangi potensi kendala teknis ketika sistem digunakan.

β€œPortofolio dari capstone project berbasis AI dan pemahaman arsitektur end-to-end yang saya dapatkan di Asah menjadi nilai tambah saya sebagai pekerja.” ucap Raihan.

Raihan masih memiliki sejumlah tujuan yang ingin dicapai. Dalam waktu dekat, ia ingin menyelesaikan studi Teknik Informatika dengan penelitian mengenai arsitektur sistem berbasis event-driven dan microservices.

Ia juga ingin terus memperdalam sistem terdistribusi, AI agent workflow, serta Retrieval-Augmented Generation (RAG). Dalam jangka panjang, Raihan berharap dapat mengembangkan produk digital yang menyelesaikan masalah operasional di sektor riil dan UMKM sekaligus melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

β€œJangan terpaku pada teori. Fondasi terbaik dibangun lewat praktik langsung dan keberanian menyelesaikan masalah nyata di lapangan.” tutup Raihan.

Jika kamu juga ingin memperkuat skill digital melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan praktik dan kebutuhan dunia kerja, program Asah dapat menjadi ruang untuk memperluas kemampuanmu. Mulai perjalanan belajarmu bersama program intensif Dicoding: Asah! Lihat materi dan syarat pendaftarannya di dicoding.com/asah.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.