Skill Pro

3 Skill Pro untuk Karir Unicorn

Cerita Mantan Gamer yang Kini Developer Traveloka: 3 Skill Pro untuk Karir Unicorn

Chandra Ari Gunawan (25 thn), software engineer di Traveloka, dulunya seorang gamer tak kenal waktu. Sibuk gaming bersama teman-teman gamer-nya hingga dini hari, sudah biasa. Hingga di satu titik ia lelah dan sadar bahwa ada prioritas yang lebih hakiki dibanding gaming semata. Prioritas itu adalah menyiapkan skill profesional untuk karir. Seperti apa Skill Pro yang ia maksud? Bagaimana Chandra bisa melabuhkan karirnya di Unicorn berpelat biru tersebut? Mari kita simak.

IPK Tinggi tidak Cukup

Meski waktunya banyak terpakai untuk main game, Chandra -begitu ia disapa- tak merasa kuliahnya terganggu. Saat dulu menempuh pendidikan S1 Ilmu Komputer dari Universitas Kristen Maranatha, Bandung ia rutin menyabet IPK nyaris sempurna tiap semester. Tak heran, di akhir kuliahnya pemuda asal Jakarta ini menggondol prestasi “Cum Laude” dengan IPK 3.97. Wow!

Keahlian mengatur waktu antara kuliah dan main game, tak membuatnya puas. “IPK tinggi tidak cukup,” ujarnya. Meski menilai akademis itu penting, Chandra yakin itu bukanlah faktor utama untuk berkarir profesional. Cita-citanya, jadi seorang developer di perusahaan bergengsi. Oleh karena itu, pria asal Jakarta ini perlahan berusaha menghentikan kebiasaan gaming online tak bertepi. Awalnya memang sulit. Tapi menjelang lulus kuliah, alih-alih lanjut push rank, Chandra mulai menyiapkan skill pro yang ia butuhkan demi karir developer.  

3 Skill Pro yang Developer Perlukan untuk Karir Unicorn

Dalam kurun waktu beberapa tahun Chandra menempa dirinya. Dengan meninggalkan gaming, ia lantas punya waktu lebih untuk membangun portofolio yang menawan. Ia semakin giat multi-tasking sebagai asisten dosen, staff lab, freelancer, hingga karyawan paruh waktu di sebuah perusahaan IT & services di Bandung. “Meski capek, saya jalani. Pengalaman kerja di luar ruang kelas itu penting,” ujarnya. 

Memupuk portfolio sedari kuliah ternyata benar bermanfaat. Melewati persaingan ketat, ia diterima sebagai IT Trainee di Bank Centra Asia. Khusus menangani software, Chandra kembali belajar mengenai Mobile, Java, Spring Framework, Weblogic Server, Design Pattern, dan Oracle Database. Saat mentas dari BCA tahun 2019, posisi terakhirnya adalah Senior IT Specialist. Ia berhasil membangun fitur keyboard dan fasilitas buka rekening di aplikasi mobile perusahaan, sebuah breakthrough di dunia mobile banking kala itu. 

Dengan pengalamannya, di tahun yang sama pria gigih ini dipercaya Traveloka sebagai Software Engineer. Tentu ini bukan perkara mudah. Dari ribuan kandidat yang mendaftar perusahaan bergengsi ini, hanya segelintir yang lolos seleksi, termasuk dirinya. Sebagai Back End Developer – Experience Product kini, sehari-harinya ia akrab dengan framework Scrum untuk mengelola sisi back-end proyek-proyek perusahaan. “Pekerjaan ini sangat menyenangkan dan sesuai dengan minat saya,” ujarnya menyeringai. 

Menurut member Dicoding sejak 2017 ini, ada 3 kunci Skill Pro yang membantunya mendarat dan berkembang di karirnya saat ini. Mari simak. 

#1  Aktif Belajar

Karakter ini mengalahkan faktor ijazah sekalipun. Buktinya, tim IT di kantornya tak melulu lulusan S1 berpengalaman seperti dirinya. Pun tak ada syarat ijazah S1! Di antara koleganya ada yang lulusan SMK dan ada pula yang dari background non-IT. 

Meski berbeda-beda, semuanya memiliki karakter yang sama: aktif belajar. Inilah kriteria utama yang hampir ada di semua developer pro. Kunjungi LinkedIn Chandra dan temukan banyak sertifikasinya di bidang mobile development, cloud, scrum, dan security. Di Dicoding sendiri ia telah lulus pada 3 kelas di alur belajar Android Development sampai level menengah. Ia mengaku:

“Saat saya interview di Traveloka, saya bawa dan tunjukkan sertifikasi Dicoding saya, termasuk portofolio saya untuk submission akhir. Mereka tertarik. Dicoding jadi satu poin plus saya sehingga diterima.” (Chandra, peraih beasiswa IDCamp 2019)

Belajar tak hanya terbatas kursus di platform pendidikan saja, melainkan juga lewat kerja freelance. Sembari bekerja full time, Chandra tetap menerima pesanan proyek pembuatan point of sales dari beberapa merchant. Lewat membangun hasil karya, ia dituntut untuk terus belajar. Kenapa aktif belajar itu penting meskipun sudah bekerja? Kita simak jawaban Chandra:

“Bedanya kalau di kantor saya (Traveloka) developer sangat dituntut untuk beradaptasi menggunakan teknologi baru. Kita harus selalu eksplorasi apa saja framework, tools baru di luar sana yang relevan dan bikin kerja jadi lebih efisien. Tentu teknologi yang juga bantu perusahaan cut cost ya. Hanya orang yang suka belajar yang mampu penuhi requirement ini. Makanya saya aktif belajar.”

#2 Sikap Proaktif 

Jadi developer harus punya mindset proaktif. Lihatlah sistem kerja sebagai satu kesatuan. Jika ada problem di tempat kita, tentu divisi lain akan terpengaruh. Begitu juga saat melihat masalah di tim yang lain. Impact pada tim sendiri, tentu ada. Maka dari itu, sikap proaktif mutlak perlu. 

Jika ingin bekerja di perusahaan besar, Chandra berpesan agar kita membuang jauh karakter cuek alias fokus pada pekerjaan atau tim sendiri saja. Alih-alih, di perusahaan yang tinggi kompleksitas kerjanya, sikap proaktif ini sangat diapresiasi. Inilah salah satu penilaian penting yang membuka peluangmu untuk promosi karir. 

#3 Self Discipline 

Atur waktu dengan disiplin terutama saat kerja dari rumah. Memang pandemi menumbuhsuburkan budaya kerja fleksibel. Untuk mereka dengan self discipline yang kurang, sesedikit apapun atau sebanyak apapun pekerjaan, akan sulit untuk produktif. Sebaliknya, jika menanamkan disiplin diri yang baik, kita tak hanya mampu kerja produktif, melainkan juga punya waktu luang untuk hobi dan aktivitas lainnya di luar pekerjaan. Mau kan?

Disiplin ini terkait erat dengan rasa tanggung jawab. Miliki sense of responsibility itu agar selalu berkarya dalam konteks kerja fleksibel selama WFH. Bagi Chandra, ini pun sesuatu yang masih ia asah setiap hari. Solusinya, agar hobinya tak ganggu pekerjaan, ia rutin menyisipkan tanggal dan waktu tersendiri untuk bermain game. Pria yang hobi travelling ini pun menuliskan agenda tersebut di Google Calendar-nya dengan rapi. “Semua harus terjadwal,” imbuhnya. 

Menutup pembicaraan sore itu, ia mengenang kembali sosoknya yang dulu candu game online. Tanpa hijrah dan menyiapkan ketiga skill di atas, ia sulit membayangkan dirinya mampu mencapai karirnya kini. Untuk itu, terakhir ia berpesan 


“Jangan keseringan main game. Sehari cukup sejam atau 2 jam. Nanti kamu akan ketinggalan jauh sama orang yang rajin belajar.” 

Cerita Mantan Gamer yang Kini Developer Traveloka: 3 Skill Pro untuk Karir Unicorn

Simak cerita lainnya dari lulusan Dicoding yang kini bekerja di Unicorn:

  1. 3 Tips dari Anak Desa: agar dapat Tawaran Kerja di Unicorn saat Masih Kuliah (Gojek)
  2. Digital Talents Scholarships Buka Peluang Karirku Di Unicorn (Tokopedia)
  3. 4 Tips jadi Developer Percaya Diri (Tokopedia)
  4. 3 Tips Belajar Developer Proaktif agar Siap Kerja di Unicorn (Tokopedia)
  5. Masih Kuliah, Sudah Diterima Kerja Di Unicorn: Kok Bisa? (Tokopedia)

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Content Editor at Dicoding Indonesia