peluang kerja

3 Cara Meningkatkan Peluang Kerja sejak Bangku Kuliah 

3 Cara Meningkatkan Peluang Kerja sejak Bangku Kuliah 

Masa pandemi sungguh menantang bagi angkatan kerja Indonesia, tak terkecuali bagi lulusan universitas. Faktanya, terdapat 29.12 juta penduduk usia kerja yang terdampak pandemi. Dan di saat yang sama, tercatat 7.35 % dari pengangguran terbuka  nasional (atau sebesar 718.095 orang) berasal dari lulusan universitas (BPS, Agustus 2020).

Salah satu penyebab problema tersebut adalah mismatch, apa itu? Sederhananya, tidak cocok atau tidak “nyambung”- nya ketersediaan pekerjaan dengan latar belakang pendidikan para sarjana. “Ini terjadi di hampir separuh dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia.” (Ananto Kusuma Seta, Staf Ahli Menteri Pendidikan, Feb 2019). 

Apa yang bisa kita pelajari dari fakta ini?

Untuk meningkatkan peluang kerja, persiapkan diri dengan lebih baik. Seperti cerita Christian Doxa Hamasiah, lulusan Dicoding asal Malang berikut ini. 

Mendapat Tawaran Kerja sejak Bangku Kuliah

Lulusan alur belajar Android Developer di Dicoding ini memang masih mahasiswa, tapi kesempatan kerja baginya, sudah di depan mata. Mahasiswa Bangkit ini meraih tawaran kerja di Bank Rakyat Indonesia (BRI). 

Awalnya ia menjuarai Hackathon yang diselenggarakan oleh BRI dan Google Cloud. Setelah itu, ia  terpilih mendapatkan beasiswa. Dengan beasiswa ini, kesempatan kerja lantas hadir lewat jalur karyawan berprestasi. “Belum menandatangani kontrak, tapi peluang kerja sudah di depan mata,” ujarnya. 

Sosok bersemangat ini memang selalu menyibukkan diri dengan upgrade kemampuan diri. Sehari-harinya Christian adalah mahasiswa Sistem Informasi di Universitas Brawijaya. Di tahun 2021 ia terpilih menjadi salah satu peserta Bangkit, program pendidikan kesiapan karir bergengsi yang  diselenggarakan oleh Google, dan didukung oleh Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. 

Selain itu, Christian juga merupakan bagian dari Core Team Google Developers Students Club di kampus Brawijaya yang mendedikasikan waktunya untuk berbagi materi hybrid dan native mobile development, juga web service menggunakan Android, Flutter, and Golang.

Sibuk? Tentu. Tapi itu semua dilakukannya demi satu tujuan utama: mempersiapkan diri jadi seorang Software Engineer yang andal. Semasa kuliah saat ini pun, ia telah bekerja full time di beberapa perusahaan. Proyek terakhirnya, menciptakan sistem pelacakan dan pemesanan untuk rumah sakit yang dikelola pemerintah Uni Emirat Arab di Dubai. Untuk menjalankan tugas tersebut, ia menggunakan aplikasi mobile yang hibrid, dengan tools API dari Google Vision dan Google Map. Sebagian ilmu untuk menjalankan tugas tersebut, didapatnya dari alur belajar Android Developer di Dicoding. 

Tentu kesempatan dan keahlian ini  bukanlah tanpa sebab. Ia lahir lewat proses menempa diri. Seperti apa? Simak 

Tingkatkan Peluang Kerja dengan 3 Cara ini  

 

  • Miliki Motivasi yang Tinggi

Motivasi adalah bahan bakar nomor satu untuk berkarya ataupun membuat suatu perubahan. Tanpa motivasi yang kuat, maka semangat akan mudah patah. Dorongan terbesar untuk Christian dalam berkarya adalah memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa Indonesia lewat peminatannya di bidang Cloud. Faktanya, saat ini Indonesia sangat kekurangan pool talenta di bidang Cloud, padahal keahlian di bidang ini, sangat diperlukan. 

 

  • Bersikap Persisten saat dalam Berlatih dan Menghadapi Tantangan 

“Persistensi menjadi kunci dalam keberhasilan yang telah saya raih.” Wajib baginya untuk berlatih coding setiap hari, sesibuk apapun dirinya di kuliah atau di tempat kerja. Sikap tahan banting ini juga perlu, terutama jika kita menghadapi kegagalan. Dulu, saat kalah di lomba-lomba yang ia ikuti, sempat Chris merasa “IT memang bukan bakat saya.” Lama ia coba memahami kenapa ia tak keluar sebagai pemenang. Lantas sadar bahwa sebenarnya yang terpenting adalah berlatih. Kalah adalah bagian dari upaya menempa diri. Itu pasti. 

 

  • Selalu Percaya Diri dan Mencari Apa Passion Kita

Member Dicoding sejak 2015 ini sangat percaya bahwa setiap kita terlahir dengan tujuan dan bakatnya masing-masing. Pada awalnya ia pun tak memahami apa sebenarnya bakat yang ia miliki. Namun setelah cukup lama membenamkan diri belajar otodidak, di kampus, dan mengikuti lomba-lomba programming, passion tersebut terlihat begitu jelas baginya. “Ini jati diri saya. Saya ingin jadi seorang software engineer,” tegasnya mantap. 

Di Dicoding sendiri, Christian telah memenangkan 3 Challenge. Points perolehannya telah ia tukar jadi HP dan TV Stick kebanggan. “Terus berkarya saja. Menang adalah bonus!”

Perihal lomba ini, Chris menyebutkan bahwa pengalaman tersebut sangatlah penting. Kompetisi memaksa kita untuk berada pada zona tak nyaman. Kita jadi bisa mengukur kemampuan diri. Bisa pula memahami sejauh mana “impact” alias pengaruh yang bisa kita berikan lewat solusi teknologi buatan kita untuk masyarakat. Lewat memupuk jiwa kompetitif,  dengan sendirinya kita terbiasa menantang diri di masa depan. Membangun startup, bekerja di perusahaan impian, ataupun jadi mahasiswa yang berprestasi, perlahan terwujud. Bukan lagi mimpi yang mustahil 

Sudah Berusaha? Saatnya Berserah Diri 

Cobalah berbincang lama dengan Christian. Meski  sangat high-achiever, sosok pemuda ini rendah hati. Kerap mengambil jeda saat menjawab pertanyaan. Serba hati-hati. Menurutnya, seberapa keras manusia berusaha, Tuhanlah Sang Penentu. Menutup pembicaraan malam itu, Christian berujar optimis:

“Jika sudah berusaha maksimal, saatnya berserah diri. Dengan sikap ikhlas ini, meski gagal sekalipun, tidak jadi soal. Pasti itu hal terbaik yang dipercayakan pada kita untuk saat ini.”

3 Cara Meningkatkan Peluang Kerja sejak Bangku Kuliah – end

 

Penasaran kisah lulusan Dicoding serupa lainnya? Simak berikut ini:

  1. Masih Kuliah, Sudah Diterima Kerja Di Unicorn: Kok Bisa?
  2. Kunci Agar Developer Dilamar Kerja saat Masih Kuliah
  3. Digital Talents Scholarships Buka Peluang Karirku Di Unicorn

 


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.