Belajar di Tengah Banyak Peran, Berkarya untuk Masa Depan

Cerita Nur Aidah K. S., Lulusan Program IDCamp

Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk fokus pada satu peran dalam hidup. Ada yang setiap harinya harus menyeimbangkan tanggung jawab sebagai aparatur sipil negara, ibu, sekaligus mahasiswi. Itulah yang dialami oleh Nur Aidah K. S. (28).

Namun, bagi Nur Aidah, banyaknya peran bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Justru di tengah kesibukan itulah ia menemukan keyakinan bahwa teknologi mampu membantunya memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pekerjaannya dan menjadi teladan bagi anaknya.

đź’» Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Berbekal semangat untuk terus bertumbuh, Nur Aidah memilih melanjutkan pendidikan S1 Sistem Informasi secara jarak jauh, sembari menjalankan tugas sebagai pegawai di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Atambua dan mengurus keluarga. Di tengah perjalanan tersebut, ia menemukan IDCamp sebagai ruang belajar yang melengkapi pengetahuan akademiknya dengan keterampilan praktis yang dibutuhkan industri.

Belajar di IDCamp demi Menghadirkan Inovasi bagi Pelayanan Publik

Lulusan PKN STAN ini mengawali karier sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Dalam kesehariannya, Nur Aidah bertugas memberikan pelayanan kepada wajib pajak sekaligus melakukan pengawasan kepatuhan perpajakan. Semakin lama bekerja, ia menyadari bahwa tantangan institusinya tidak lagi hanya berkaitan dengan regulasi, melainkan juga dengan kemampuan mengelola data perpajakan yang sangat besar dan kompleks.

Kesadaran tersebut mendorongnya untuk mengambil studi S1 Sistem Informasi di Universitas Siber Asia. Melalui pembelajaran jarak jauh, ia ingin menggabungkan pengetahuan perpajakan yang telah dimiliki dengan kemampuan di bidang data science dan artificial intelligence agar mampu menghadirkan solusi yang lebih inovatif bagi instansinya.

Di tengah perkuliahan itulah Nur Aidah mengenal IDCamp melalui rekomendasi rekan kerja dan jejaring profesional di LinkedIn. Setelah mempelajari silabusnya, ia mantap memilih learning path Data Scientist.

“Jika di bangku kuliah saya mempelajari fondasi Sistem Informasi secara komprehensif, melalui IDCamp, saya mendapatkan keterampilan teknis hands-on dan best practice industri yang bisa langsung dieksekusi. Saya melihat IDCamp sebagai katalisator terbaik untuk mewujudkan mimpi membangun asisten virtual perpajakan berbasis artificial intelligence,” ungkapnya.

Bagi Nur Aidah, mengikuti IDCamp bukan sekadar menambah sertifikat. Ia ingin memiliki kemampuan yang benar-benar dapat diterapkan untuk memanfaatkan big data perpajakan secara lebih efektif dan membantu meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Menaklukkan Tantangan dengan Dukungan Ekosistem Belajar

Menjalankan tiga peran sekaligus tentu bukan perkara mudah. Siang hari dihabiskan untuk bekerja, sementara malam hari menjadi waktu untuk mengurus keluarga sekaligus belajar. Sering kali, Nur Aidah baru dapat membuka modul IDCamp setelah anaknya tertidur.

“Tantangan terbesar saya adalah manajemen waktu. Saya menjadikan waktu larut malam sebagai jam fokus utama untuk belajar dan mengerjakan proyek IDCamp. Pengorbanan jam tidur ini saya anggap sebagai investasi untuk masa depan,” tuturnya.

Selain persoalan waktu, Nur Aidah juga menghadapi tantangan teknis ketika mempelajari data science. Debugging model machine learning, menyesuaikan berbagai library Python, hingga melakukan deployment dashboard interaktif menjadi pengalaman baru yang tidak selalu mudah dijalani.

Namun, setiap kesulitan tersebut justru menjadi kesempatan untuk berkembang. Ia aktif berdiskusi di forum, bertukar pikiran dengan peserta lain, dan meminta arahan kepada mentor ketika menemui kebuntuan. Menurutnya, salah satu kekuatan terbesar IDCamp terletak pada ekosistem pembelajarannya.

“Pengalaman belajar saya sungguh seru dan di luar ekspektasi. Mentor memberikan bimbingan yang sangat membantu ketika saya menghadapi berbagai kendala teknis. Selain itu, teman-teman di IDCamp juga sangat suportif. Kami saling berbagi insight, berdiskusi ketika menemukan error, dan saling menyemangati selama proses belajar,” ujarnya.

Hal lain yang paling membekas baginya adalah sistem review proyek yang diterapkan IDCamp.

“Bahkan ketika submission saya ditolak, saya justru merasa senang karena feedback dari reviewer sangat komprehensif dan tepat sasaran. Standar tinggi seperti ini membuat saya terus memperbaiki kualitas analisis dan tidak cepat puas hanya karena program sudah berhasil dijalankan,” katanya.

Baginya, proses belajar yang sesungguhnya justru terjadi ketika seseorang bersedia menerima masukan dan terus memperbaiki hasil kerjanya.

Belajar dalam Program IDCamp Membantu Nur Aidah Berinovasi dan Berprestasi

Bekal yang diperoleh dari IDCamp segera memberikan dampak nyata dalam kehidupan profesional Nur Aidah. Jika sebelumnya proses rekonsiliasi berbagai data perpajakan dilakukan secara manual menggunakan spreadsheet, kini ia mampu memanfaatkan Python untuk mengotomatisasi proses tersebut.

Script yang ia bangun dapat membersihkan, menggabungkan, dan menganalisis data e-Faktur, Bukti Potong, hingga pelaporan SPT dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Selain itu, ia juga berhasil membangun dashboard monitoring penerimaan pajak secara mandiri sehingga proses analisis menjadi lebih efisien.

Tidak berhenti sampai di sana, Nur Aidah juga tengah merintis purwarupa asisten virtual perpajakan berbasis natural language processing (NLP) yang diharapkan mampu membantu pencarian dan interpretasi regulasi perpajakan secara lebih cepat.

Kemampuan yang diperoleh selama mengikuti IDCamp juga membawanya menorehkan prestasi di luar lingkungan kerja. Ia berhasil meraih Juara 2 kategori Data Science pada IT Bootcamp Universitas Siber Asia serta lolos sebagai finalis kompetisi AIEdu yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementerian Keuangan.

Bagi Nur Aidah, seluruh pencapaian tersebut tidak akan berarti apabila tidak dibarengi dengan keberanian untuk terus belajar. Ia ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak perlu memilih antara keluarga, pekerjaan, dan pendidikan.

“Perempuan itu tangguh. Kita tidak harus selalu mengorbankan salah satu peran. Dengan ketekunan, manajemen waktu, dan dikelilingi support system yang tepat, kita bisa menjadi ibu yang hebat, pekerja yang berdedikasi, sekaligus inovator di bidang teknologi,” tutup Nur Aidah.

Perjalanan Nur Aidah menunjukkan bahwa belajar tidak mengenal batas usia maupun peran. Dengan tujuan yang kuat, lingkungan belajar yang suportif, dan kemauan untuk terus berkembang, ia membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk menghadirkan inovasi sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.