Anak Sulung Keluarga Sederhana yang Menjadi Tumpuan Harapan

Cerita Nathan Alvino Fam, Lulusan Program IDCamp

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk fokus mengejar impian tanpa memikirkan kondisi keluarga. Bagi Nathan Alvino Fam (22), hidup justru mengajarkannya bahwa mimpi dan tanggung jawab sering kali datang bersamaan.

Ketika sang ayah kehilangan pekerjaan dan didiagnosis mengidap Parkinson, Nathan harus mengubur sementara mimpinya berkuliah di kampus impian demi membantu perekonomian keluarga. Namun, ia percaya bahwa masa depan yang lebih baik tidak ditentukan oleh seberapa berat keadaan hari ini, melainkan oleh keberanian untuk terus belajar di tengah segala keterbatasan.

đź’» Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Nathan memikul harapan besar kedua orang tuanya. Di sela kesibukannya bekerja penuh waktu sebagai staf administrasi produksi dan melanjutkan kuliah di Universitas Utpadaka Swastika, ia tetap menyisihkan waktu untuk memperdalam artificial intelligence (AI) melalui program IDCamp. Baginya, belajar bukan lagi sekadar menambah pengetahuan, melainkan jalan untuk mengubah kehidupan keluarganya.

Menjadikan Keterbatasan sebagai Alasan untuk Terus Bertumbuh

Nathan tumbuh dalam keluarga sederhana di Kota Tangerang. Sejak pandemi COVID-19 pada 2020, ayahnya kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja. Tidak lama kemudian, sang ayah didiagnosis mengidap Parkinson yang membatasi mobilitasnya sehingga semakin sulit memperoleh pekerjaan baru.

Sementara itu, ibunya berusaha menopang kebutuhan keluarga dengan membuat kue tradisional untuk dititipkan ke toko-toko sekitar. Ketika dagangan tidak habis, sang ayah tetap berkeliling menjajakannya kepada tetangga dan kenalan lama.

Situasi tersebut membuat Nathan harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Setelah sempat berkuliah di Universitas Bina Nusantara dengan beasiswa uang pangkal, ia terpaksa mengundurkan diri karena keluarganya tidak lagi mampu membayar biaya kuliah setiap semester. Selama hampir satu tahun, Nathan memusatkan perhatian untuk mencari pekerjaan agar dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Usahanya membuahkan hasil ketika ia diterima sebagai staf administrasi di PT Perdana Megajaya. Meski penghasilannya belum besar, pekerjaan tersebut menjadi titik balik yang memungkinkan Nathan kembali melanjutkan pendidikan, kali ini di Universitas Utpadaka Swastika dengan biaya yang lebih terjangkau.

Di tengah kesibukannya bekerja dan kuliah, Nathan tidak pernah kehilangan rasa ingin tahunya terhadap teknologi. Sejak kecil, ia tertarik melihat bagaimana sebuah perangkat kecil seperti laptop atau telepon genggam mampu melakukan begitu banyak hal. Ketertarikan tersebut berkembang menjadi minat yang serius terhadap artificial intelligence dan machine learning.

Keinginan untuk mendalami bidang tersebut membawanya mencari berbagai kesempatan belajar. Saat mencari rekomendasi beasiswa teknologi, ia menemukan program IDCamp.

“Saya mencari beasiswa gratis untuk belajar AI dan machine learning karena ingin memahami bagaimana teknologi itu bekerja. Ketika menemukan IDCamp, saya sangat bersyukur karena program ini memberikan kesempatan belajar berkualitas sekaligus sertifikat yang sangat bermanfaat untuk pengembangan karier saya,” ungkap Nathan.

Menyeimbangkan Pekerjaan, Kuliah, dan IDCamp

Mengikuti IDCamp bukan perkara mudah bagi Nathan. Setiap hari, ia harus membagi waktu antara pekerjaan penuh waktu, perkuliahan, dan proses belajar yang intensif.

Baginya, tantangan terbesar bukanlah materi AI yang kompleks, melainkan bagaimana menjaga konsistensi di tengah energi yang semakin terbatas.

“Tantangan terbesar saya adalah manajemen waktu dan energi. Saya biasanya mencicil membaca materi saat ada waktu luang di kantor atau ketika dalam perjalanan, lalu malam harinya fokus mengerjakan proyek machine learning. Kalau ada materi yang sulit seperti deep learning, saya mengulanginya beberapa kali sampai benar-benar paham,” tuturnya.

Meski harus belajar hingga larut malam, Nathan mengaku pengalaman belajarnya di IDCamp jauh melampaui ekspektasinya. Menurutnya, alur pembelajaran yang sistematis membuat konsep AI yang semula terasa rumit menjadi jauh lebih mudah dipahami.

“Pengalaman belajar di IDCamp luar biasa dan sangat terstruktur. Alur pembelajarannya jelas dan bertahap sehingga benar-benar membuka wawasan saya mengenai AI dan machine learning, mulai dari fundamental hingga implementasinya,” ujarnya.

Hal yang paling berkesan baginya adalah pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Tidak hanya mempelajari teori, peserta juga ditantang untuk membangun solusi nyata melalui submission yang memperoleh umpan balik langsung dari reviewer.

“Bagian terbaiknya adalah kami tidak hanya belajar teori, tetapi benar-benar harus membangun submission project. Feedback dari para code reviewer sangat komprehensif sehingga saya tahu letak kekurangan dan bisa terus memperbaiki logika kode saya,” jelas Nathan.

Pengalaman tersebut bahkan menginspirasinya untuk suatu hari nanti menjadi code reviewer agar dapat membantu peserta lain berkembang sebagaimana dirinya pernah dibimbing.

Membangun Masa Depan yang Lebih Layak bagi Keluarga

Ilmu yang Nathan peroleh selama mengikuti IDCamp tidak berhenti pada sertifikat semata. Program ini memberinya fondasi teknis yang jauh lebih kuat dalam bidang AI dan machine learning sekaligus memperjelas arah karier yang ingin ia tempuh.

Saat ini, materi machine learning dan deep learning dari IDCamp menjadi bekal penting dalam penyusunan proposal skripsinya yang mengangkat topik behavioral biometric authentication menggunakan federated learning dan algoritma gradient boosting. Ia juga tengah mengembangkan proyek pribadi berupa aplikasi ekosistem multiplatform untuk manajemen tugas harian serta aktif mengampanyekan literasi dan etika AI di lingkungan kampus.

Nathan berharap seluruh proses belajar yang ia jalani dapat membawanya berkarier sebagai AI engineer atau praktisi data sehingga mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kedua orang tuanya sekaligus menjadi teladan bagi kedua adiknya.

Ia percaya bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah alasan untuk berhenti mengejar masa depan.

“Buat teman-teman yang harus membagi waktu antara kerja, kuliah, dan belajar, selalu ingat alasan terbesar kenapa kalian memulai semua ini. Situasi kita saat ini mungkin belum ideal, tetapi ilmu, gelar, dan skills yang sedang kita bangun hari ini adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih layak,” pesannya.

Perjalanan Nathan menunjukkan bahwa menjadi tulang punggung keluarga tidak harus mengubur mimpi. Dengan konsistensi, keberanian untuk terus belajar, dan kesempatan yang tepat melalui IDCamp, ia membuktikan bahwa setiap pengorbanan hari ini dapat menjadi fondasi menuju masa depan yang lebih baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi seluruh keluarganya.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.