Cerita Lisa, Lulusan Coding Camp powered by DBS Foundation
Tak setiap orang punya kesempatan untuk mewujudkan cita-cita masa kecil mereka dan Lisa (22) adalah salah satunya. Sempat punya mimpi untuk menjadi dokter, ia banting setir ke dunia teknologi karena tak ingin merepotkan kedua orang tua dengan biaya kuliah yang mahal.
Namun, siapa sangka jika keputusan Lisa untuk berkuliah teknologi justru membuatnya bisa berkarier secara purnawaktu bahkan sebelum ia lulus berkuliah. Dalam perjalanannya, Lisa pun belajar dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation untuk menjadi seorang IT developer yang serba bisa.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangMari kita ikuti perjalanan cerita Lisa sebagai salah satu lulusan terbaik Coding Camp powered by DBS Foundation berikut!
Mulanya Ingin Menjadi Dokter
Mulanya, menjadi seorang IT developer tidak pernah ada dalam rencana hidup Lisa. Alasannya, ia bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Mimpi ini didukung oleh kedua orang tuanya yang berharap agar ia dapat menjadi perempuan yang mandiri, berpendidikan tinggi, dan bermanfaat bagi banyak orang.
“Namun, saya tahu bahwa kuliah kedokteran itu mahal. Uang kuliah tunggal (UKT)-nya tinggi. Makanya, saya cari program studi alternatif lain yang prospek masa depannya tak kalah menjanjikan,” kenang Lisa.
Saat itulah Lisa melihat teknologi sebagai pilihan yang paling tepat karena bidang ini dirasa akan terus berkembang di masa depan. Bagi Lisa, dunia kedokteran dan teknologi sebenarnya setara.
“Bedanya hanya pada apa yang ‘diobati.’ Jika dokter mendiagnosa dan merawat manusia, IT developer merawat sistem dan memberikan solusi digital untuk membantu manusia. Itulah alasan yang membuat saya akhirnya mantap memilih bidang teknologi,” ujarnya.
Belajar dalam Coding Camp powered by DBS Foundation karena Ingin Menjadi Developer Serba Bisa

Memutuskan untuk mendalami teknologi, akhirnya, Lisa melanjutkan studi Sistem Informasi di Universitas Mikroskil. Di kampus, wawasan Lisa mengenai teknologi jadi lebih terbuka. Hal itu mengantarkannya untuk berhasil diterima sebagai seorang full-time IT staff di PT Yorgo Anugerah Nusantara, sebuah perusahaan agribisnis asal Medan, Sumatra Utara.
Sebagai seorang IT staff, Lisa bertanggung jawab untuk mengembangkan dan memelihara sistem informasi internal perusahaan, termasuk pengembangan fitur pada aplikasi operasional berbasis mobile.
Meski sudah bekerja secara purnawaktu dan sehari-hari berkutat dengan pengembangan aplikasi mobile, ia masih merasa perlu melengkapi kemampuannya di dunia front-end web dan back-end development.
“Saat mendapatkan informasi program Coding Camp powered by DBS Foundation dari kampus dan media sosial Dicoding, saya tertarik untuk ikut serta. Alasannya, saya ingin jadi developer serba bisa. Di kampus, saya belajar fundamental. Di kantor, saya praktik mobile development. Di Coding Camp, saya ingin mendalami web development agar punya pemahaman utuh tentang ekosistem software,” ungkap Lisa.
Motivasi itu kemudian mengantarkan Lisa untuk diterima dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation. Ia merasa belajar dalam Coding Camp sangat intensif dan membuka wawasan. Kurikulumnya terstruktur dengan baik dan sangat relevan dengan standar industri terkini.
“Belajar dalam Coding Camp berbeda dengan belajar autodidak yang kadang arahnya kurang jelas. Mentor-mentornya juga praktisi yang sangat membantu memberikan perspektif dunia kerja nyata,” tambahnya.
Meski Menantang, Lisa Sanggup Belajar dalam Coding Camp Sambil Bekerja dan Jadi Salah Satu Lulusan Terbaik

Belajar dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation sembari bekerja bukan hal yang mudah bagi Lisa. Ia harus menjaga stamina dan fokusnya bagi kedua tanggung jawab besar ini. Beruntung, Universitas Mikroskil mendukung penuh proses belajar Lisa dalam program Coding Camp sehingga ia tidak perlu menghadiri kelas reguler di kampus.
“Saya mengatasi kegiatan yang padat ini dengan manajemen prioritas dan istirahat yang cukup. Hal itu membuat saya bisa memfokuskan energi pada Coding Camp, khususnya saat mengerjakan capstone project. Proyek akhir ini adalah bagian terbaik dalam program ini,” ujar Lisa.
Perjuangan belajar Lisa dalam program Coding Camp berbuah manis saat ia berhasil lulus dan mendapatkan predikat graduate with distinction. Lisa masuk golongan sepuluh persen lulusan teratas dengan performa akademik yang baik dalam program ini.
“Lulus dari Coding Camp, saya jadi lebih pede buat bangun aplikasi berbasis web. Selain itu, saya juga jadi lebih ngerti gimana data diproses dan dikirim via API ke aplikasi mobile yang saya tangani di kantor,” ucapnya.
Saat ditanya apa motivasi yang ingin ia bagikan kepada sesama talenta digital perempuan yang ingin mengikuti jejaknya, Lisa menekankan bahwa perempuan tidak boleh takut untuk mulai dan merasa terintimidasi hanya karena kebanyakan IT developer adalah laki-laki. Menurutnya, perempuan pun punya tempat di industri ini.
“Selain itu, merasa lelah dalam belajar itu wajar karena itu adalah tanda bahwa kita sedang bertumbuh. Setiap kali kita lelah dan hampir menyerah, selalu ingat kembali alasan awal mengapa kita memulai perjalanan kita saat ini,” tutup Lisa.
