Cerita Cinthya Lulusan Program Intensif Dicoding
Tidak semua mahasiswa tech punya lingkungan yang bisa jadi tempat bertanya soal karier IT. Beberapa bahkan bingung ketika ditanya keluarga akan menjadi apa setelah lulus dari jurusan Informatika.
Memang terlambat disadari. Sebagian mahasiswa tidak mempersiapkan skill dengan matang karena tidak adanya figur mentor yang dekat dan bisa diajak berkonsultasi mengenai kehidupan di industri pekerjaan nanti.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangNamun, berbeda dengan Cinthya (24). Dia memulai langkahnya dengan cara yang mandiri, tapi tetap terarah. Berkat tekadnya, dia bisa menentukan spesialisasi tech yang ingin ia tekuni, lalu mencari program belajar yang benar-benar memperkuat skill-nya.
Akhirnya, kini dia sukses bekerja sebagai Android Developer di Mirai Technologies dan menjadi tech talent pertama di lingkungan keluarganya.
Apakah kamu berada di kondisi yang sama seperti Cinthya? Jika iya, artikel ini akan menjadi kisah inspiratif yang bisa membantumu menentukan strategi dengan cermat agar mampu bersaing di industri pekerjaan seperti Cinthya. Simak di bawah ini, ya!

Cinthya: “Tidak Ada Satu pun Tech Role Model di Keluarga, Saya Hanya Berbekal Dukungan Orang Tua Saja.”
Cinthya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Di rumah, tidak ada figur yang berkarier di IT. Ayahnya seorang pengusaha, ibunya seorang ibu rumah tangga, dan kakak perempuannya juga tidak berasal dari latar belakang pendidikan di dunia tech.
Meski begitu, kedua orang tuanya tetap berusaha menjadi fondasi bagi Cinthya. Mereka tidak melarang jalur pembelajaran apa pun selama Cinthya berminat dan bisa menyelesaikannya. Orang tuanya bahkan berpesan agar ia belajar sebanyak mungkin, mencoba minat saat masih muda, dan tetap menjadi pribadi yang baik.
Dengan bekal otonomi penuh dari kedua orang tuanya untuk menentukan pilihan hidup sendiri, Cinthya akhirnya memilih untuk kuliah di jurusan Informatika di Universitas Multimedia Nusantara. Keputusannya ini didasari oleh ketertarikannya bermain game dalam handphone Android saat kecil.
“Semua saya tentukan sendiri, tidak ada role model. Saya satu-satunya sarjana dari bidang tech di keluarga,” ujar Cinthya.
Tak Seperti yang Dibayangkan, Kuliah Tech Ternyata Bikin Ingin Menyerah
Sebenarnya, bertemu dengan pemrograman di dunia kuliah bukanlah hal baru bagi Cinthya. Jauh sejak masih bersekolah di bangku SMP, Cinthya sudah paham dasar-dasar mengenai kemampuan teknis ini.
Mulai dari formula Excel, HTML, CSS sederhana, hingga Microsoft Visual Basic. Nilai rapornya untuk pelajaran komputer pun termasuk bagus. Bisa dikatakan, dia bersinar di antara teman sekelasnya.
Hingga tiba saat dia dihadapkan dengan mata kuliah yang dirasa tidak cocok. Ternyata, semakin mendalami bidang pemrograman, Cinthya menemukan bahwa tidak semua bahasa pemrograman bisa dipahami dengan mudah. Bahkan, ada yang sampai membuatnya ingin menyerah kuliah di jurusan informatika.
Namun, dia kembali teringat pesan kedua orang tuanya untuk menyelesaikan hal yang telah dia mulai. Di situlah awal Cinthya menyadari bahwa dia tidak harus jago dalam segala bidang. Dia harus punya spesialisasi dan menjadi mahir dalam bidang itu. Itulah alasan awal Cinthya akhirnya bertemu dengan program intensif Dicoding.
“Sempat struggle mengikuti perkuliahan. Di situ saya sadar, saya perlu spesialisasi, tidak perlu jago di semua bidang, dan saya pilih Android,” ucap Cinthya.

Mantap Memilih Android Jadi Pilihan Skripsi dan Karier
Saat berada pada semester 5 dan mendapat mata kuliah Pemrograman Aplikasi Android. Dia merasakan kecocokan dengan pengembangan dalam bidang ini, baik dari sisi back-end maupun front-end.
Ia melihat bidang ini juga realistis untuk ditekuni dalam jangka panjang. Dari situ, arah Cinthya jadi lebih spesifik: Android ia pilih untuk skripsi, magang, dan juga pekerjaan impian nanti.
Untuk mendukung itu, Cinthya aktif mencari program belajar khusus Android. Dia sempat mencoba kelas sertifikasi di Dicoding. Nyatanya, dia puas. Dia pun mantap memilih program intensif Dicoding dengan learning path Android agar skill–nya lebih maksimal sebelum lulus mencari kerja nanti.
Selama belajar dalam program intensif Dicoding, Cinthya menilai flow kelas dan timeline-nya tersusun jelas, kurikulumnya sesuai industri, serta disediakan mentor yang responsif membantu Cinthya saat dia mengalami kendala.
Ia juga mendapat sesi belajar soft skill untuk mempersiapkan kemampuannya lebih matang saat nanti terjun di dunia pekerjaan yang sesungguhnya.
Bagian yang paling ia suka adalah capstone project. Ini adalah fase ketika kemampuannya diuji setelah melewati berbulan-bulan belajar dalam program intensif Dicoding.
Dalam capstone project ini, Cinthya bersama tim membuat sebuah proyek yang bisa memecahkan masalah di lingkungan sekitar. Proyek ini pun menjadi portofolio yang sesuai dengan standar industri dan bekal bagi Cinthya saat melamar kerja.
“Capstone project adalah bagian terbaik dari program intensif Dicoding. Saya merasa ter-challenge karena bisa sekaligus membangun portofolio dari proyek ini,” ujar Cinthya.

Dari Java ke Kotlin, Cinthya Kini Resmi Jadi Android Developer
Setelah lulus program intensif Dicoding, Cinthya merasa skill programming-nya berkembang pesat.
Saat perkuliahan, dia hanya bisa menggunakan Java untuk mata kuliah Android. Namun kini, berkat program intensif Dicoding, dia terbiasa menggunakan Kotlin sebagai bahasa pemrograman Android. Ia juga mendapatkan pemahaman arsitektur pemrograman yang lebih baik serta memperkaya variasi skill untuk fitur dan struktur project.
Sertifikat dari kelas Dicoding menjadi bukti kompetensi yang mendukungnya saat proses rekrutmen. Ia berkata, penilaian interviewer meningkat karena ia punya pengalaman men-develop aplikasi dengan Kotlin yang lebih up to date dibanding Java, serta didukung sertifikat Dicoding yang diakui industri.
Kini, Cinthya bekerja sebagai Android Developer di Mirai Technologies. Tugasnya mengembangkan fitur dan aplikasi Android sesuai request perusahaan serta melakukan bug fix saat ditemukan bug selama testing.
Baginya, salah satu ilmu dari program intensif Dicoding yang paling membantu pekerjaannya saat ini adalah ilmu arsitektur MVV yang membantunya menyusun struktur proyek lebih rapi. Selain itu, ia juga jadi memahami threading dan eksekusi proses dalam work manager agar aplikasi berjalan lebih lancar.
Akhir kata, Cinthya berpesan kepada tech talent di luar sana agar jangan menyerah ketika menemukan kesulitan saat belajar. Terutama jika kondisi lingkungannya sama seperti Cinthya yang tidak memiliki mentor ataupun role model di awal masa perkuliahan. Tetap berusaha dan percayalah bahwa setiap masalah pasti ada solusinya.
“Jangan menyerah, rayakan setiap kemajuanmu bahkan jika itu langkah terkecilmu,” tutup Cinthya.

Bagaimana? Apakah kamu sama seperti Cinthya yang saat ini menjadi satu-satunya orang dalam keluarga yang berkuliah tech? Jika kamu merasa perlu bimbingan tambahan selain dari kampus, inilah saatnya kamu bergabung dalam program intensif Dicoding seperti Cinthya.
Daftarkan dirimu dalam program intensif Dicoding: Asah 2026!
Lihat detail kelas dan benefitnya di dicoding.com/asah.

