Banting Setir Raih Karir Programmer saat Kepala 3: Terlambat? 

Banting Setir Raih Karir Programmer saat Kepala 3: Terlambat? 

Sudah berkepala 3, berkeluarga, dan bekerja di zona nyaman. Apakah itu definisi mapan? Ya, buat banyak orang. Tapi tidak untuk Akhirwan Novendi (34 tahun). Zona nyaman justru mengusiknya.

Setelah 8 tahun berkarir di waralaba hiburan bergengsi, Irwan (panggilan akrabnya) putuskan banting setir. Semula IT Support, Irwan saat ini meniti karir programmer di sebuah startup.

Mengapa member asal Bandung ini sedemikian berani? Apa yang melatarbelakanginya? Apa karir programmer, nyata menjanjikan setelah dijalani? Mari kita simak cerita Akhirwan

Bekerja Keras demi Menabung Biaya Kuliah

Akhirwan potret milenial yang gigih sedari dini. Keadaan yang memaksanya demikian. Sang ayah memasuki masa pensiun saat ia duduk di bangku SMA. Untuk kuliah, tak ada biaya. Harus cari dari keringat sendiri.  Ia pun gigih bekerja selama 5 tahun demi kumpulkan biaya kuliah.

Awalnya ia bekerja sebagai buruh kasar di tempat pemrosesan kayu. Tugasnya mengangkut dan memotong balok-balok kayu gelodongan. Setia bekerja namun akhirnya di-PHK. Lanjut jadi karyawan pabrik furniture dan pabrik garmen. Sehari-harinya hidup irit hingga bisa menabung dan bantu orang tua.

Usahanya berbuah manis. Ia mulai kuliah di tahun 2008 tepatnya di kampus UNLA Bandung. Ia memilih kelas karyawan di jurusan Teknik Informatika karena TI adalah minat dan cita-citanya.

Jadi IT Support Selama 8 tahun Lalu Putuskan Berhenti

Karir serius Akhirwan yang pertama adalah IT Support di Trans Studio Bandung (Theme Park), Bandung. Tak tanggung-tanggung, 8 tahun lamanya. Ia kerja sejak 2011, saat masih di semester IV kuliah. Sebagai IT Support ia banyak berkutat dengan jaringan, keamanan, dan tugas-tugas lain terkait pemeliharaan perangkat keras dan server.

Dengan pengalaman kerja sedemikian lama, mudah baginya untuk tetap tinggal di zona nyaman. Tak usah ke mana-mana. Tak perlu upgrade skill apa-apa. “Pekerjaan IT Support dan Data Center itu akan selalu ada,” ia pikir.

Tapi di saat yang sama zona nyaman tersebut juga jadi alarm. Dengan pesatnya digitalisasi, otomasi dan teknologi cloud, apakah benar bidang pekerjaannya akan selalu ada? Seperti apa tantangan lainnya di luar sana? Bagaimana peluangnya? Apakah dirinya siap? Banyak pertanyaan di benaknya. Ia menunggu sebuah titik balik untuk memulai lembaran baru.  

Seriusi Karir Programmer di sisi Back End Developer

Gayung bersambut. Titik balik itu adalah ketika ia lulus dengan baik dan percaya diri dari kelas Belajar Dasar Azure Cloud dan kelas Belajar Dasar Pemrograman Web di Dicoding. Di dalam hatinya, ia yakin bisa. Banting setir ke karir programmer, bukanlah hal mustahil.

“Tahun 2019 setelah lulus kelas Belajar Web dan Dasar Azure Cloud Dicoding, saya memantapkan diri untuk pindah kerja ke perusahaan startup di Bandung, walaupun sebelumnya sempat berpikir apa gak ketuaan jadi web developer?” (Akhirwan)

Meski merasakan bahwa IT Support adalah pekerjaan yang stabil dan menghasilkan, Irwan telah berani memutuskan keluar dari zona nyaman. Programming adalah zona baru yang menurutnya menyenangkan dan sesuai minatnya kini. Antara “menghasilkan” dan “menyenangkan,” ia memilih yang kedua.  

Akhirwan kini berprofesi sebagai Back-End Developer di Halalpedia, sebuah marketplace produk-produk syariah yang berpusat di Bandung.  

Apa pengalaman yang melatarbelakanginya percaya diri banting setir dan diterima kerja padahal sudah kepala 3? Selain belajar otodidak dan belajar dari Dicoding, Irwan kerap menggarap proyek-proyek web secara freelance. 

Kini tekadnya sudah bulat. Ia tak ingin setengah-setengah dalam bekerja. Fokus pada karir programmer saja. Back-end programmming, spesialisasinya kini.

Stack Teknologi untuk Mendukung Profesi Back End Developer

Awalnya ia berkenalan dengan PHP, lalu html (front-end web development), dan kini Cloud. Beasiswa dari Microsoft telah membuka wawasannya  

“Saya dapat banyak ilmu dari kelas Azure. Dulu nggak tahu cloud secanggih ini. Ikutan Azure jadi kebantu banget. Saya jadi tahu setting container, Kubernetes, object storage, dan lain-lain”

Setelah lulus dari kelas tersebut, ia ingin melangkah  ke kelas Menjadi Azure Cloud Developer Expert. Juga berencana mempelajari materi Container, GACP, dan konten Devops terkini lainnya.

Di kantornya Akhirwan banyak terlibat mengurusi pengurusan pembayaran transaksi via Virtual Account dan digital payment lainnya. Bidang tsb rumit tapi menantang, akunya.  Saat ditanya klasifikasi pendapatan saat ini, ia ringkas menjawab sambil tersenyum “Lebih baik. Di atas cukup!”

Tak Ada Kata Terlambat untuk Mulai Karir Programmer

Irwan mengaku kagum dengan anak muda saat ini. Masih belasan tahun tapi jago membuat karya digital. Rekan sejawatnya di posisi DevOps pun berusia 25 tahun.

Alhasil, kadang terbersit malu dan ego dalam pikiran. Kerap mempertanyakan diri sendiri yang sudah kepala 3 tapi baru memulai debut karir programmer.  

“Saya skip pikiran (ego dan malu) tersebut. Here me now. Seorang Back end Developer,” pungkas Akhirwan.  

Beberapa hal yang bisa kita pelajari darinya

  •         Memulai belajar tapi “terlambat?” Ya pasti malu dan gengsi. Tapi sisihkan perasaan tersebut
  •         Malu saja, tak akan mengubah keadaan. Niatkan, seriuskan belajar. Jangan stucked alias mandeg

Tak usah takut ketinggalan karena kita ada di dunia programming. Semua cepat berubah. Apa yang dipelajari di kuliah dan di tempat kerja itu, tentu beda jauh. Tak ada kata terlambat untuk memulai karir programmer, saat kepala 3 sekali pun

Banting Setir Raih Karir Programmer saat Kepala 3: Terlambat?  – end 

Simak cerita inspiratif dari developer lulusan Dicoding lainnya:

  1. Tidak Ada Kata Terlambat: Pindah Karir Programmer
  2. Aan Saepul Anwar, 6 Tahun Jadi Kepala Cabang, Kini Hijrah jadi Android Developer 

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Content Editor at Dicoding Indonesia