Tidak Ada Kata Terlambat: Pindah Karir Programmer

Tidak Ada Kata Terlambat: Pindah Karir Programmer – Pernahkah kalian merasa “gini gini aja?” Tidak maju di sebuah tempat karena kurang minat, bakat, atau minim sarana mengembangkan diri. Kalau tetap di situ, mentok. Tapi sayang kalau keluar. Pendapatan, pasti. Usia juga bukan fresh graduate lagi.

Memang, saat sudah kerja beberapa tahun, pindah karir biasanya jadi pilihan terakhir. Zona nyaman memang susah ditinggalkan.

Cerita Andrew Prasetyo, lulusan Dicoding Academy

Tidak demikian dengan teman kita Andrew Prasetyo (27 tahun). Lulusan kelas MADE, KADE, dan MPWA ini sempat bekerja 4 (empat) tahun bekerja sebagai Market Intelligence dan Riset Data di sebuah perusahaan real estate, sebelum akhirnya pindah karir mengajukan permohonan resign dan pindah karir jadi programmer.

Keluar dari zona nyaman yang stabil dan menghasilkan, lulusan Teknik Industri BINUS ini memilih banting setir menjadi programmer dan meniti karir di sebuah startup yang baru 10 (Sepuluh) bulan berdiri.

Kok bisa?

Buat Andrew, begitu sapanya, “Tidak ada kata terlambat.” Ia berujar “Lebih baik menua mengerjakan hal yang kita suka, dari pada menyesal belakangan.”

Apa sih yang kamu suka, Andrew?  

Programming, rupanya. Sempat belajar algoritma di bangku kuliah dulu, Andrew mengaku tak mendalaminya. Setelah lulus dan bekerja di sektor properti, baru ia memantapkan niat untuk belajar otodidak. Apa pasal? “Di pekerjaan dulu saya banyak berkutat di excel. Kok gini-gini aja ya, pikir saya. Setelah saya belajar programming, beda banget. Dunia programming itu luas banget. HTML, CSS, PHP, Database, Javascript, banyak sekali yang bisa dipelajari.”

Berbekal googling, proyek pertama yang digarapnya adalah proyek sosial, yakni web programming untuk tempat ibadah yang ia ikuti. Berkat web tersebut, penyebaran dan komunikasi rencana kegiatan di komunitasnya jadi lebih mudah.

Karir Programmer - teman-teman Ibadah

Andrew (kanan) bersama tim IT di komunitas tempat ibadah, rekan-rekan proyek pertama Andrew sebagai programmer. Bersama, mereka membuat website komunitas

Belum puas, Andrew menyadari ia harus mahir mobile programming yang menurutnya “lagi booming.” Bicara fakta, kini 1 dari 2 penduduk Indonesia, memiliki smartphone atau tablet (Survei APJII 2017). Lebih lanjut, 88% dari pengguna peranti mobile memakai Android (Statista, 2018).Selain trend tersebut, faktor kedua yang memantapkan niatnya adalah lingkungan startup di Indonesia. Menurutnya tumbuh kembang startup di Indonesia kini, sangat menjanjikan.

Menemukan Dicoding untuk Belajar Programming

“Kenapa nggak coba jadi developer aja?” pikir pemuda yang hobinya main badminton ini. Mulailah pemuda asal Tangerang ini menelusuri web-web belajar online dalam dan luar negeri, hingga menemukan Dicoding.

Andrew masih ingat betapa semangatnya saat memulai belajar Kelas Belajar Membuat Aplikasi Pemula. Bermodal Rp 400,000, Andrew mengisi malam-malam usai ngantornya dengan belajar. Tekadnya mendalami programming, konsisten. Ia lanjut menyelesaikan hingga tuntas kelas Menjadi Android Developer Expert, Kotlin Android Developer Expert, dan Membangun Progressive Web Apps. WOW! “Kecuali kelas Aplikasi Pemula, semua modis alias modal diskon atau beasiswa hehe” ucapnya. Belajar programmer menurutnya mudah. Asal ada internet, laptop, bisa ngoding di mana saja.

Letih?

“Ya capek habis ngantor belajar dan begadang. Tapi ya kapan lagi. Mumpung masih muda, masih bisa begadang hehe,” serunya.

Apa manfaatnya kelas-kelas tersebut?

“Kelas Dicoding membuat saya percaya diri untuk pindah karir. Sertifikatnya menolong saya saat wawancara di tempat kerja yang sekarang. Bersyukur sekali, saya diterima,” ucapnya.  

Menurut Andrew fitur terbaik di Academy adalah “Code review” karena dengannya, “Saya jadi tahu detail kode yang best practice kaya gimana, bisa ngomong langsung dan dapat saran.” Selain itu, ia punya masukan juga Dicoding, Ia menyarankan agar kami menambah konten video, atau bahkan video rekaman coding, live. Saran yang bagus. Thanks Andrew!

Saat ini, memang belum semua materi yang dipelajarinya dapat sepenuhnya diaplikasikan di tempat kerja. “Baru yang web,” jelasnya. Tapi ke depannya, tentu saat Alamat.com -tempatnya bekerja sekarang- membutuhkan, Andrew sudah siap dengan skill Android mobile programming yang ia kuasai.

Karir Programmer di Startup Baru

Saat ini Andrew bertanggung jawab sebagai Software Quality Assurance. Ia memastikan software berjalan sesuai dengan requirement product manager. Ia melakukan testing dan filtering pada pekerjaan 5 developer rekannya. Pria yang hobinya belajar ini berbagi kantor dengan belasan staf berusia belia. “Seru!”

OK, ceritakan detail dong. Bagaimana rasanya kerja di startup?

“Beda ya sama di perusahaan besar. Atmosfer kerjanya bagus. Apalagi startup saya unik ya, bisa bantu user nemuin tempat-tempat trending di sekitar. Ya kedai UMKM, restoran franchise, taman hiburan. Mindahin ( user engagement) dari online ke offline. Saya bersyukur saya terlibat dari nol di sini. Kami baru 10 bulan. Situsnya pun masih beta.”

karir programmer - teman-teman di alamat.com

Bersama teman-teman di startup alamat.com yang mempopulerkan tempat-tempat trending ke user, seperti restoran dan pusat aktivitas lainnya.

Bahagia Nomor 1

Menutup pembicaraan kami, Andrew punya pesan untuk rekan-rekan sepertinya yang kadang galau menentukan karir. “Bahagia itu nomor satu. Karir itu harus bikin kita bahagia. Ini penting, karena karir itu kita kerjakan sampai tua.”

Lalu saat memutuskan pilihan, ia percaya bahwa lingkungan yang positif itu penting. Kita perlu support dari orang-orang terdekat. Begitu yang ia rasakan saat berani memutuskan keluar dari zona nyamannya di perusahaan yang pertama. Keluarga dan kekasihnya sangat mendukung.  

Menatap karir programmer ke depan, Andrew menyimpan segudang harapan. Ia ingin belajar AI, Machine Learning, dan Blokchain. Ia mengaku sudah menuntaskan kelas Blockchain di Dicoding Academy dan ingin terus belajar menguasai teknologi update lainnya. Dalam lima tahun, ia ingin memegang peran Chief Technical Officer sambal menyambi freelance programmer.

karir programmer - BDC

Aktif di 9 kelas Academy, Andrew terpilih mengikuti BEKRAF Developer Conference tahun lalu

Sukses ya Andrew. Salut untuk keputusan pindah karir programmer kamu yang berani.

Mau belajar programming dan punya karir programmer juga seperti Andrew? Manfaatkan kelas GRATIS dan berbayar yang tersedia di https://www.dicoding.com/academies/

Simak juga cerita lulusan Dicoding Academy lainnya berikut ini:

“Kenali Passion sedari Dini: Catatan Seorang Developer Android” https://www.dicoding.com/blog/kenali-passion-sedari-dini/

“Dulu Terpaksa kini Jatuh Cinta,” https://www.dicoding.com/blog/ade-julita/

“Junia Firdaus: dulu Loper Koran kini Android Engineer,”  https://www.dicoding.com/blog/junia-firdaus/

Data:

Statista: Market share of mobile operating systems in Indonesia from January 2012 to December 2017

Infografis Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia: Survey 2017 Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Editor @ Dicoding