hadapi pandemi

Lewat Aplikasi, Developer Ini Turun Tangan Hadapi Pandemi

Lewat Aplikasi, Developer Ini Turun Tangan Hadapi Pandemi  

Rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia tembus 10.000 per 8 Januari 2021. Sejak mewabah di Indonesia dan dunia, penyakit ini belum juga reda. Lebih dari 24.000 penderita meninggal (2.9 %) dan 122.000 lainnya di Indonesia, tengah berjuang untuk sembuh (Data Satgas Penanganan Covid-19, per 10 Januari 2021). 

Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, beberapa negara lain aktif memanfaatkan teknologi. Seperti contohnya Singapura dengan aplikasi TraceTogether, Australia dengan COVIDSafe, Amerika Serikat (Negara Bagian California) dengan aplikasi CA.

Bagaimana dengan Indonesia? Saat ini tersedia 2 aplikasi resmi pemerintah Indonesia yang telah banyak dipakai, yaitu Pedulilindungi oleh Kemenkominfo untuk riwayat tracing kontak dan perjalanan serta BLC oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid untuk cek info – persebaran – dan diagnosa mandiri.  

Di level mikro, developer di berbagai daerah juga aktif mencari cara memitigasi pandemi. Salah satunya adalah Muhammad Fathony asal Semarang, Jawa Tengah. Saat Maret Covid-19 bermula di Indonesia Maret 2020, saat itu pula Fathony (25 tahun) memulai debutnya sebagai programmer di Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo, fasilitas kesehatan terakreditasi “Paripurna” milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 

Hadapi Pandemi lewat 3 Aplikasi 

#1 Dashboard Informasi Covid – 19 

Berkarir tepat di awal pandemi menuntut lulusan alur belajar Front-End Web Developer Dicoding ini berpikir kreatif. Ia ingin karyanya bermanfaat bagi warga Jawa Tengah, khususnya pasien dan pegawai RSUD Tugurejo.  Tempatnya bekerja merupakan salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 di provinsi Jateng. 

Seiring dengan lonjakan jumlah pasien Covid di wilayah Jawa Tengah, ia pun membuat sebuah dashboard informasi Covid-19 yang memuat statistik pasien di RSUD Tugurejo. Tujuan dari dasboard ini adalah memberi informasi perihal situasional kasus Covid-19 kepada calon pasien / pasien / publik secara umum. 

Selain data statistik, dashboard tersebut juga memiliki fitur lainnya, yakni deteksi dini. Ini memudahkan calon pasien mengecek secara mandiri perihal apakah gejala yang mereka alami termasuk indikasi COVID atau bukan. Dan jika iya, langkah medis apa yang perlu dilakukan. Pasien bisa mengisi data dan mengisi form isian perihal kondisi tubuh saat ini. 

hadapi pandemi

Deteksi Dini Covid19 jadi salah satu menu andalan di dashboard Covid-19 karya Fathony. Cek di tautan ini.

Peraih program Fasilitasi BDT dari Kemenparekraf ini mengaku senang bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatnya lewat kelas-kelas berdurasi total 195 jam di alur belajar Front-End Web Developer di Dicoding

“Dengan bantuan program belajar dari Kemenparekraf, saya dapat menggunakan materi cache dan index db untuk dashboard Info Covid-19 di website saya.” 

Belajar dari pengalamannya selama ini, ia ingin terus belajar bagaimana mengelola dan menyajikan informasi sensitif seperti data Covid-19 pada khalayak umum. Tentu dari segi keamanan, ia harus lebih hati dalam menggunakan data user. 

#2 Booking Online Mandiri untuk Pasien Rawat Jalan 

Sebagai RS rujukan penderita Covid-19, Fathony dan tim programmer di sana harus memutar otak perihal bagaimana teknologi dalam dipakai untuk menurunkan potensi penularan di dalam fasilitas kesehatan. Terlebih, hampir setahun ke belakang, tercatat tak kurang dari 350 pasien positif Covid-19 dirawat di sana. Resiko penularan dalam kerumunan pasien di ruang tunggu, tentu mengkhawatirkan. 

Salah satu solusinya adalah dengan membuat aplikasi Android Booking Online Mandiri alias “BOOM” yang ditujukan untuk calon pasien rawat jalan. Ragam apresiasi hadir di laman playstore aplikasi anyar yang re-launch Oktober 2020 lalu ini. Beberapa di antaranya: 

Mantaps, tak perlu ngantri dari pagi buat datang ke poli. Tinggal tancap main jari-jari 🙂 inovasi keren.
(nurkholis kholis, 17/10/2020)

Sumpaah ini keren banget, Ga perlu sms atau datang lebih awal ke RS. Cukup dari rumah udah bisa daftar dengan mudah.
(Agung Iman, 15/12/2020)

Peran pegawai berstatus NON-PNS (BLUD) ini dalam aplikasi tersebut adalah membuat  web services-nya. Sementara source code dikelola oleh developer lainnya. Di sini ia menerapkan Service Web untuk meneruskan pengembangan aplikasi tersebut. 

hadapi pandemi

Aplikasi BOOM ini tersedia di playstore. Klik di sini untuk melihat

#3 Absensi Fingerprint Online Pegawai RSUD 

Selama masa pandemi, pegawai di RS kerja bergilir antara kerja di rumah atau di kantor. Untuk memastikan sistem absensi berjalan lancar, lulusan Teknik Informatika STEKOM Semarang ini membuat sebuah aplikasi absensi online. “Apollo,” begitu nama aplikasi android tersebut telah digunakan ratusan pegawai RSUD sejak Juli 2020 lalu. 

Untuk karya digital ini, Fathony sepenuhnya menggarap dari nol. Ia ditantang menciptakan sistem laporan hadir berbasis fingerprint dan online dalam waktu singkat lantas menyanggupinya.  Ia sepenuhnya menggarap web services dan API-nya sendiri hingga menghasilkan fitur dan tampilan menarik sebagaimana terlihat di Playstore. Untuk sebuah proyek solo dalam kurun waktu pengembangan 1 bulan saja, hasilnya tidak mengecewakan! 

Hadapi pandemi

Dibuat dalam waktu sekejap, aplikasi APOLLO jadi andalan pegawai RSUD Tugurejo selama WFH

Ingin Terus Berkarya di Bidang Layanan Kesehatan Publik

Ternyata tak hanya ketiga karya itu saja yang ia tawarkan. Kini ia tengah menggarap 1 aplikasi lainnya yang  bernama “SIMRS” untuk launching akhir tahun 2021. Karya tersebut akan menjadi sistem informasi manajemen rumah sakit, penanganan Covid-19, dan layanan bagi pasien serta calon pasien. 

Menutup wawancara hari itu, Fathony mengaku bersyukur diberi tanggung jawab yang besar serta  kebebasan hasilkan karya yang bantu menghadapi pandemi di level provinsi.

“Ternyata antara ilmu yang saya dapat di Dicoding atas bantuan Baparekraf, nyambung ya dengan pekerjaan sebagai developer selama pandemi. Alhamdulillah. Tak terbayang bisa berkontribusi. Bisa dapat juga rezeki di sini.”  

Sepertinya hati Fathony sudah tertambat dalam dunia medis dan layanan publik. Tak heran, selain sistem terpadu RS yang tengah digarapnya kini, ia bercita-cita mengembangkan app lainnya yang bantu pasien mendapatkan obatnya dengan lebih cepat.  

 “Buat para developer, kalau terjun ke dunia teknologi, jangan setengah-setengah. Ada teknologi baru, pelajari! Ngoding susah? Nikmati! Semua akan terasa lebih enjoy saat kita sungguh-sungguh,” tutupnya bersemangat.

 Lewat Aplikasi, Developer Ini Turun Tangan Hadapi Pandemi

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Content Editor at Dicoding Indonesia