Dari Developer menjadi Tech Entrepreneur: Cerita CEO Dicoding

Tulisan ini merupakan presentasi CEO Dicoding, Narenda Wicaksono, dalam acara Virtual Graduation IDCamp 2019 (18/7 di Youtube)

Perkenalkan saya Narenda Wicaksono dari Dicoding. Pertama saya ingin mengucapkan selamat kepada kawan-kawan yang telah berhasil lulus dari program IDCamp 2019. Dalam 30 menit kedepan saya akan sharing mengenai apa saja peran Anda sebagai developer professional yang bisa dilakukan.

Kebetulan saya sudah pernah menjalani semua peran tersebut. Saya akan sharing mengenai pengalaman saya sebagai developer freelance, bekerja di corporate, atau menjadi tech entrepreneur yang mengembangkan layanan (services) atau mengembangkan produk sendiri seperti saat ini saya di Dicoding. Jangan jadikan pengalaman ini sebagai patokan tapi silahkan diambil pelajarannya.

Awalnya, Freelance Developer

Pertama saya akan cerita mengenai pengalaman saya sebagai freelance developer. Nanti dalam setiap kategori saya akan bercerita mengenai pengalaman saya, apa kriteria agar dapat sukses menjalankan peran tersebut dan tantangan yang saya hadapi. Cerita ini untuk memberikan gambaran kepada teman-teman mengenai role apa yang mungkin cocok bagi masing-masing kalian kelak.

Saya sudah menjadi freelance developer semenjak kuliah. Lebih tepatnya saat sudah bisa memiliki kemampuan coding. Pada awalnya saya hanya membantu kakak kelas menyelesaikan bagian kecil dari project dia. Salah satu pencapaian saya yang saya paling ingat adalah saat saya menyelesaikan website resmi salah satu kota di Jawa Barat. Tapi dengan tarif mahasiswa yah. Hal lain yang saya ingat adalah merasa mendapatkan kepuasan yang bias dari client yang kita berinteraksi saja.

Jadi buat kalian yang masih kuliah atau sekolah itu adalah saat yang paling tepat untuk membangun portofolio. Membangun portofolio ini tidak harus mengerjakan project. Bisa dengan mengikuti hackathon, challenge, atau kompetisi. Lebih baik jika portofolio ini adalah sesuatu yang memiliki user.

Skill komunikasi dan negosiasi mutlak diperlukan. Nah saya jujur kurang tahu bagaimana market di Indonesia saat ini. Namun jika melihat kawan-kawan saya yang masih bertahan menjadi freelance developer mayoritas mereka fokus di market global. Oleh karena itu Bahasa Inggris menjadi kunci. Sebagai gambaran freelancer online dari Indonesia saat ini berjumlah 20K sedangkan US 500K.

Ada beberapa tantangan saat menjadi freelance developer. Jika fokus di market Indonesia maka idealnya memiliki jaringan/relasi yang kuat. Ada keterbatasan dari sisi client karena mayoritas UKM atau individu. Kemudian ada keterbatasan dari sisi budget jika Anda tidak memiliki badan usaha yang legal. Saat menghadapi client yang tidak mengerti IT bisa jadi project yang tidak berujung.

Dulu waktu kuliah saya sempat jadi juara nasional di kompetisi software design Imagine Cup dan sampai dikirim ke India. Saya melihat itu menjadi salah satu titik saya masuk ke dalam corporate.

Memulai Karir di Dunia Korporat

Pada waktu itu startup belum populer. Saya sempat bekerja di Microsoft dan salah satu hal yang saya ingat saat karya saya dipakai oleh Steve Ballmer dalam demo launching produk baru Microsoft. Kemudian setelah 4 tahun saya pindah ke Nokia. 

Pengalaman saya di korporat yang paling saya ingat adalah pilih manager, bukan perusahaan. Karena kalau kalian baru lulus SMA/SMK/kuliah dan sampai menghadapi pilihan beberapa perusahaan maka coba eksplorasi manager tipe apa yang akan menjadi atasan kalian. Karena ini yang akan jadi faktor penentu kesuksesan kalian kelak. Pelajaran lain adalah soal zona nyaman, jadi saat sudah masuk zona nyaman mungkin itu adalah saat dimana Anda harus pindah posisi.

Beberapa kriteria untuk sukses di dunia korporasi adalah harus memiliki disiplin untuk mengikuti peraturan yang sudah diterapkan oleh perusahaan. Kemudian memiliki growth mindset yaitu keyakinan bahwa talenta dapat dibentuk melalui kerja keras, strategi yang tepat, dan input dari yang lain. Produktivitas yang memiliki growth mindset akan lebih baik karena tidak khawatir untuk terlihat pintar. Mereka  yang memiliki growth mindset akan menganggap pekerjaan adalah tantangan dan kesempatan untuk belajar sehingga lebih berkomitmen mengutamakan kolaborasi dan inovasi. 

Tantangannya adalah bagaimana menjadikan growth sebagai salah satu todo. Berada dalam rutinitas pekerjaan seringkali membuat agenda peningkatan skill bukan menjadi prioritas. Padahal ini harus dilakukan secara konsisten dan butuh mendapatkan dukungan resmi karena tidak ada garis finish dalam belajar. Kadang saat kita berada di corporate jadi tidak menyadari jika sedang berada dalam zona nyaman (comfort zone) sehingga kemampuan beradaptasi kita menjadi  turun.

Mulai Membangun Perusahaan Sendiri

Saya sempat membangun 7 perusahaan dan 3 diantaranya adalah perusahaan services. Satu di antaranya sudah tutup. Dua Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang. Namun saya sudah tidak terlibat dalam operasional maupun pemegang saham dalam kedua perusahaan tersebut.

Pengalaman saya sebagai freelancer disini sangat berharga dalam membangun perusahaan. Namun bedanya disini saya harus membangun brand perusahaan bukan portofolio pribadi. Bergerak sebagai brand tentu harus memiliki payung hukum dan harus patuh dengan peraturan. Lebih ideal jika fokus pada satu sektor client tertentu, sehingga bisa mengimplementasikan best practice secara konsisten.

Membangun perusahaan services ini menurut saya sangat cocok bagi Anda yang menyukai challenge karena variasi dari tantangan yang berbeda di perusahaan yang menjadi client. Konsisten membangun trust sangat dibutuhkan untuk bisa mendapatkan kontrak jangka panjang. Cocok buat yang sudah berhasil menjadi freelancer dan memiliki skill manajemen serta siap untuk berkolaborasi.

Beberapa tantangan yang akan dihadapi antara  lain adalah. Belum ada standar harga dari tarif man days/hour developer di Indonesia. Mendapatkan client yang bisa memberikan kontrak jangka panjang. Selain itu mendapatkan talenta terbaik menjadi tantangan karena kita bertarung dengan perusahaan besar dan unicorn. Menjaga talent agar bertahan menjadi tantangan yang lebih besar lagi. Terakhir tantangan yang saya rasakan adalah menjaga standar kualitas agar seragam.

Fokus pada Dicoding

Sebenarnya saya ada 4 perusahaan yang berbasis produk yang saya kembangkan. Satu perusahaan ditutup. Satu perusahaan saya sudah tidak memegang sahamnya. Satu perusahaan lagi saya masih memegang sahamnya dan masih beroperasi. Pada akhirnya saya memilih untuk fokus dicoding.

Dicoding adalah perusahaan teknologi yang saya bangun dari awal dan sampai hari ini masih saya kawal. Misi Dicoding ingin mencetak developer yang relevan dengan kebutuhan industri. Developer bisa jadi freelancer, bekerja di corporate, atau tech entrepreneur. Tantangan yang kita hadapi saat ini adalah tidak sesuainya lulusan IT dengan kebutuhan atau tantangan industri. Kami berusaha hadir untuk memberikan kurikulum yang update dan akses ke mentor terbaik dari industri.

Kriteria bagi Anda yang ingin Mengembangkan Produk – Tech Entrepreneur

Bagaimana kriteria untuk Anda yang ingin mengembangkan produk. Pertama harus biasa dengan kegagalan (kalau ditolak reviewer baper gak cocok). Jangan takut untuk gagal. Pastikan kalau bisa gagal dengan cepat kemudian bangkit. Progress harus menjadi indicator, bukan jumlah kegagalan.

Kedua harus bisa tahan dengan keinginan sendiri (mobil dijual, rumah karyawan, tanah suci) karena SDM yang utama. Kita harus bisa memberikan yang terbaik untuk mereka jika berharap mereka memberikan yang terbaik untuk user. Harus memiliki visi dan tidak terjebak dalam standar orang. 

Visi diterjemahkan dalam visi yang harus bisa menyelesaikan masalah user. Misi dicoding adalah mengamalkan ilmu. KPI kami adalah kebahagiaan karyawan dan user. Kami berusaha menjemput rezeki yang halal dan berkah.  Jadi dalam kondisi apapun kami bisa melangkah dengan optimis.

Bagaimana dengan tantangan dalam membangun produk. Pertama gak semua orang memiliki yang namanya yakin. Jangan ada keraguan sama sekali jika sudah ingin fokus membangun produk. Kedua modal memang mutlak dibutuhkan.  Hal ini supaya konsisten bisa membangun produk dalam minimal memiliki modal  6 bulan. Lebih bagus lagi kalau punya modal sendiri 12 bulan.

Dukungan adalah faktor penentu. Cari lingkungan yang bisa mendukung. Bersyukur kalau orang-orang terdekat itu bisa mendukung. Edukasi market menjadi salah satu hal yang menantang jika kita masuk kedalam arena yang masih baru. Tapi pandemi ini menciptakan banyak arena baru.

Refleksi untuk Anda yang di Level “Expert” Hari Ini

Buat Anda yang saat ini telah mencapai level expert. Maka dalam 1-2 tahun Anda akan menjadi beginner jika ilmu tersebut tidak dipraktekkan dan tidak di-update. Untuk menjadi yang terdepan dalam teknologi dibutuhkan kemampuan self-learning yang tinggi yang mutlak dibutuhkan untuk menjadi developer di pathway manapun. Anda bisa belajar dimana saja. Namun kami mendesain dicoding untuk membuat Anda memiliki kemampuan self learning. Anda belajar dengan mencoba dan mendapatkan feedback expert. Tidak ada pilihan yang salah antara menjadi developer freelance, menjadi developer corporate, atau menjadi developer yang membangun perusahaan sendiri. 

Tapi kita perlu realistis melihat statistik bahwa entrepreneur di dunia ini hanya ada 5%. Di Indonesia angkanya antara 2-3%. Bagaimana Anda tahu apakah Anda berada di 5%? Ya memang harus dicoba. Tapi mungkin gak semua orang memiliki kesempatan untuk mencoba. Andaikata Anda sekarang sudah bekerja. Bantu mereka bertransformasi supaya tetap relevan. Pandemi ini jelas menciptakan problem tapi juga memberikan opportunity. Problem buat yang tidak mau berubah. Namun disisi lain juga menciptakan opportunity buat yang mau berubah. Karena yang abadi cuma perubahan.

Dari Developer menjadi Tech Entrepreneur – end 

Mau baca buah pikiran tulisan CEO Kami lainnya? Simak:

4 Checklist WFH Penting buat Kamu: Insight dari CEO Dicoding

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Content Editor at Dicoding Indonesia