Cerita Guntur Aji Pratama Lulusan Program Intensif Dicoding
Kamu mahasiswa akhir yang saat ini kesulitan cari magang? Hati-hati!. Mencari magang bisa jadi tolak ukur saat kamu mencari kerja. Jadi, kalau kamu kesulitan mencari magang, bisa jadi ada yang salah dengan portfolio, cv, atau skill interview-mu, dan itu bisa berdampak saat nanti mencari kerja.
Berbeda dengan Guntur Aji Pratama (23), setelah lulus dari program intensif Dicoding, Guntur mendapatkan tiga tawaran magang dan kini berhasil bekerja menjadi software engineer di YCP, sebuah perusahaan konsultan yang bergerak di bidang sustainability.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangPenasaran bagaimana cara Guntur mendapatkan tiga magang dan menjadi software engineer? Simak ceritanya di bawah ini!
Dibesarkan Dengan Nilai-Nilai Sebagai Pengusaha: Harus Pintar Cari Peluang!
Guntur lahir dan besar di Surabaya. Ia merupakan anak tunggal dari kedua orang tuanya yang merupakan pengusaha di bidang FnB dan fashion. Dia terbiasa melihat kedua orang tuanya terlibat langsung dalam bisnis untuk mengurus operasional, memikirkan produk, sampai berhadapan dengan pelanggan. Kunci sukses bisnisnya bisa berjalan hingga sekarang adalah: keberanian melihat peluang dan menghadapi tantangan.
Dari keluarganyalah, Guntur menyerap pelajaran yang tidak tertulis: melihat peluang dan menghadapi tantangan itu penting. Hingga akhirnya nilai-nilai itu membantu Guntur menemukan minatnya di bidang Teknologi. Dia pun memantapkan pilihan memilih jurusan Sistem Informasi dan berkuliah di UPN Veteran Jawa Timur.
“Aku diajarin ortu untuk pintar cari peluang. Dari situ, pilih jurusan sistem informasi karena menggabungkan teknologi dan aspek bisnis,” ujar Guntur.

Belajar Bahasa Pertama Sampai Ngobrol dengan Technopreneur
Guntur mulai tertarik pada teknologi sejak SMP. Awalnya bukan pengen terlihat keren, tetapi karena rasa penasaran yang besar. Ia menemukan platform belajar pemrograman dari Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) dan mulai mencoba bahasa pemrograman Pascal. Di tahap itu, mungkin ia belum memikirkan karier. Yang ada hanya perasaan, “Oh, ternyata aku bisa bikin sesuatu dari logika,” ucap Guntur.
Seiring waktu, ia mulai membayangkan hal yang lebih nyata: membuat aplikasi yang bisa membantu kebutuhan sehari-hari. Ia pun belajar Python, membaca buku karya seorang technopreneur, Budi Rahardjo, bahkan pernah berdiskusi melalui email saat menemui materi yang belum ia pahami.
Hingga akhirnya memasuki semester tiga, dia menyadari phase belajarnya akan lebih cepat jika belajar dengan bimbingan yang mampu mengisi gap ilmu perkuliahan & belajar otodidak. Di situlah dia mengenal program intensif Dicoding.

Ketemu Dicoding di Semester Tiga: Saat “Belajar Sendiri” Terasa Tidak Cukup
Di awal 2022, ia menemukan Dicoding lewat Instagram. Ia baru mengetahui program intensif Dicoding bisa konversi SKS. Hal lain yang membuatnya tertarik, Dicoding menggunakan pendekatan kurikulum yang disusun bersama praktisi industri. Sehingga berfokus pada pengembangan aplikasi yang bisa dipakai di dunia nyata.
Guntur akhirnya mendaftar dan diterima di alur belajar Machine Learning dan Front-End Web. Di program ini, ia merasakan ritme belajar yang berbeda. Materinya terstruktur. Ada sesi belajar mandiri dan juga sesi Instructor Led Training (ILT) yang membahas hard skill dan soft skill. Seperti komunikasi profesional, kolaborasi tim, dan praktik pengembangan perangkat lunak yang baik.
Tantangan terbesarnya: waktu terasa sempit untuk memahami semua materi secara mendalam. Namun, justru di situ Guntur “dibentuk”. Ia belajar time managerial dan pelan-pelan terbiasa dengan ritme yang dinamis, mirip seperti ketika nanti sudah bekerja dan harus belajar hal baru sambil tetap menyelesaikan tugas.
Hal yang paling ia syukuri adalah ekosistem yang suportif. Ada mentor, pengajar, fasilitator, dan teman-teman seperjuangan yang saling bantu. Ketika buntu, Guntur memiliki tempat bertanya. Baginya, suasana kolaboratif ini membuat belajar terasa seperti perjalanan bersama, bukan kompetisi.
“Saya jadi punya tech skill dan portfolio yang oke dari program intensif Dicoding. Lebih pede menghadapi proses rekrutmen.” ucap Guntur.

Masuk Dunia Kerja: Dapat Tiga Magang dan Percaya Diri Jadi Software Engineer
Setelah lulus dari program intensif Dicoding, Guntur merasa punya pemahaman teknis yang lebih kuat, pengalaman proyek, dan portofolio yang bisa ditunjukkan. Menariknya, setelah program ini selesai, Guntur mendapatkan tiga kesempatan magang. Bahkan kesempatan pertama ia peroleh segera setelah lulus dari program intensif Dicoding. Dari situ, langkahnya berlanjut sampai akhirnya ia bekerja sebagai Software Engineer di YCP.
Di pekerjaannya sekarang, Guntur bertanggung jawab mengembangkan dan memelihara aplikasi untuk mendukung operasional bisnis, melakukan integrasi sistem dengan berbagai platform, serta riset dan pengembangan framework agar solusi yang dibuat benar-benar cocok dengan kebutuhan perusahaan.
Ia merasakan materi dari program intensif Dicoding sangat terpakai. Kelas Belajar Dasar Git dengan GitHub membantunya kolaborasi dalam tim saat coding. Kelas Belajar Dasar Pemrograman Web, Belajar Membuat Front-End Web untuk Pemula, dan Belajar Fundamental Front-End Web Development jadi bekal saat Guntur membangun user interface yang nyaman dipakai.
Sementara dari sisi data, kelas Memulai Pemrograman dengan Python, Belajar Machine Learning untuk Pemula, dan Machine Learning Terapan melatih cara berpikir analitis Guntur ketika berhadapan dengan data atau mencari pendekatan teknis yang lebih efisien.
Ke depan, Guntur bercita-cita bisa mengembangkan tools dan aplikasi bisnis yang bisa meningkatkan efisiensi kerja serta mendukung strategi bisnis yang telah dibentuk perusahaan. Guntur juga berpesan, bagi talenta digital yang saat ini sedang mencari magang agar bukan hanya berfokus membuat program, tapi juga memperhatikan after-sales support yang bisa diimplementasikan dalam bentuk teknologi.
“Jadilah tech talent yang bukan cuma bikin program. Tapi membangun solusi, mendampingi implementasinya, dan tetap melayani user dari balik layar,” tutup Guntur.

Bagaimana? Kalau kamu masih kesulitan cari magang atau kerja, ini saatnya kamu upgrade diri terlebih dahulu seperti Guntur di program intensif Dicoding.
Daftarkan dirimu di program intensif Dicoding: Asah 2026! Bangun tech skill dan portofolio sesuai industri agar kamu jadi tech talent yang dibutuhkan perusahaan.
Lihat detail kelas dan benefitnya di dicoding.com/asah
