In This Economy, Realistiskah Kerja Sesuai Passion?

Pada rentang usia 20-an, pergumulan batin Gen Z bunyinya kira-kira seperti ini: “Aku cocoknya jadi apa, ya?”, “Habis lulus, ngapain ya?”, sampai yang paling klasik, “Sebetulnya, passion-ku apa?” Familier? 

“Kerja di bidang yang kamu suka dengan sungguh-sungguh, niscaya kamu akan sukses.” 

Sering kita mendengar kalimat yang menyiratkan bahwa passion ialah awal kesuksesan, tapi apakah benar demikian?

Sejak Kapan Doktrin “Kerja Sesuai Passion” Dimulai?

Saya pun lantas mencari tahu sejak kapan doktrin bahwa bekerja idealnya sesuai dengan bidang yang kita suka (passion) itu dimulai. Ternyata, gagasan “follow your passion” sudah ada kurang lebih sejak tahun 1970-an. 

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Gagasan bekerja sesuai passion pun makin dikenal berkat publikasi Richard Bolles bertajuk What Color Is Your Parachute?. Alasannya, buah pikir Bolles yang dianggap cukup radikal ini membawa angin segar bagi kalangan baby boomer dengan idealisme baru: kan kita memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidup dan karier, jadi pilih saja pekerjaan yang memang kita cintai.

Kalau melihat kondisi Indonesia pada era tersebut, kita bisa memahami mengapa orang-orang kala itu menggembar-gemborkan passion. Bagaimana tidak? Pada tahun 1970-an, ekonomi dan lapangan kerja tumbuh cepat, sementara tenaga terampil masih langka. Pada 1976, misalnya, World Bank (1981) menyebut hanya 0,7% angkatan kerja Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi. Artinya, memiliki keterampilan dan pendidikan tertentu saja sudah membuat seseorang relatif langka di pasar kerja.

Realitas “Bekerja Sesuai Passion” di Era Sekarang

Faktanya, lanskap perekonomian Indonesia dewasa ini jauh berbeda dari kondisi pada masa ledakan ekonomi akibat minyak 1970-an ketika pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan kelangkaan tenaga ahli. Kini, tenaga berpendidikan tinggi berhadapan dengan terbatasnya pekerjaan berkualitas yang mampu menyerap kompetensi mereka. Dengan lulusan sarjana membludak, realitas saat ini menunjukkan proporsi sarjana yang terdorong ke pekerjaan informal terus meningkat, dari 6,7% pada 2018 menjadi 8,9% pada 2025 (World Bank, 2026). 

Alhasil, kurang realistis rasanya kalau terus mencari pekerjaan yang pas, padahal keuangan kita makin kembang kempis. Kalau kita terpaku pada passion atau minat tertentu saat mencari kerja, ada dua kemungkinan: jika beruntung, kita mendapat pekerjaan sesuai minat, tetapi jika tidak, kita bisa jadi bagian dari 52% pemuda Indonesia yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahlian (ILO & OECD, 2025).

Namun, apa iya passion harus menentukan bidang pekerjaan kita? Kalau kata Cal Newport dalam bukunya So Good They Can’t Ignore You, gagasan bahwa passion harus menentukan bidang pekerjaan kita itu salah kaprah. Sebaliknya, passion akan terbangun seiring dengan banyaknya upaya yang kita kerahkan dalam pekerjaan kita, meski mungkin saja awalnya pekerjaan tersebut tidak sesuai minat kita. 

Kita sering menjadikan passion sebagai prasyarat untuk mencoba. Padahal, bagaimana kita tahu bahwa kita tidak menyukai suatu bidang jika kita belum mempelajarinya cukup lama hingga terampil?

Di sinilah peran career capital menjadi penting menurut Newport. Baginya, modal karier yang bisa membuat seseorang meraih “karier yang menarik” berasal dari kemampuan yang tidak hanya bernilai, tetapi juga cukup langka untuk membedakan kita dari orang lain.

Untuk membangun modal karier yang langka, kita perlu memiliki kombinasi kemampuan yang unik. Menurut Newport, career capital dapat terbentuk dari kumpulan kemampuan yang saling melengkapi dan menghasilkan kombinasi kompetensi yang lebih sulit ditemukan pada orang lain.

Ini bukan berarti meninggalkan begitu saja kemampuan yang sudah kita asah, tetapi menyilangkannya dengan keterampilan lain. Alih-alih menganggap eksplorasi kompetensi di luar passion sebagai suatu zero-sum game, mencoba berbagai keterampilan justru memberikan peluang besar bagi kesuksesan karier. 

Spesifiknya, Newport melihat bahwa ketika kombinasi tersebut semakin langka sekaligus bernilai, career capital kita pun semakin besar. Dengan modal karier tersebut, peluang untuk memperoleh karier dengan lebih banyak pilihan, kendali, dan kesempatan berkembang ikut terbuka.

Career Capital dalam Diri Alumni Dicoding 

Saran Newport untuk membangun karier ini nyatanya bukan hal yang asing lagi. Menengok data dari salah satu program Dicoding, yaitu Bangkit, terbukti bahwa 29% pesertanya datang dari kalangan non-tech. Artinya, mereka telah sadar untuk membentuk keunggulan di pasar kerja melalui modal karier atau kombinasi unik atas skill seseorang.

Kasus nyatanya adalah Shandy Putraniar Budianto, salah satu peserta Pijak dari bidang Manajemen Aset Publik di PKN STAN. Lebih lanjut, ia menggabungkan kompetensi bidang pemerintahan/keuangan publik dengan teknologi. Ia menyebut tujuan profesionalnya sebagai upaya menjembatani tata kelola sektor pemerintahan dengan AI agar menghasilkan solusi yang lebih efisien, akuntabel, dan berbasis data.

Mildan Falah, salah satu lulusan Dicoding Bootcamp, juga datang dari latar belakang non-IT. Saat sekolah menengah ia bersemangat mengambil jurusan otomotif, lalu beralih mempelajari akuntansi di bangku kuliah. Namun, melalui Dicoding Bootcamp, Mildan mengeksplorasi kompetensi lain dengan belajar programming hingga akhirnya berkarier sebagai web developer. 

Perjalanan dua lulusan tersebut menunjukkan bahwa latar belakang awal tidak harus membatasi arah karier. Pengalaman dari bidang yang berbeda justru dapat menjadi bagian dari career capital yang terus dibangun. Keduanya menunjukkan bahwa passion atau hal yang kita minati tidak melulu jadi titik awal. Passion justru bisa tumbuh setelah kita mencoba, membangun kemampuan, dan menemukan nilai dari apa yang kita kerjakan.

Dicoding Bangun Negeri: Caramu Menemukan Keunikan dalam Dirimu

Jadi, kalau kamu sedang mencari “ceruk” atau keunikan untuk membangun modal karier, coba padukan kemampuanmu dengan kompetensi di luar zona nyamanmu, misalnya teknologi. Dari perpaduan keterampilan itu, passion juga bisa tumbuh.

Melalui Dicoding Bangun Negeri, Dicoding memberi ruang eksperimen bagi siapa pun yang berada di institusi pendidikan untuk mengeksplorasi keterampilan baru di bidang teknologi. Jadi, kamu tidak perlu meninggalkan bidang yang sedang ditekuni. Justru, kamu bisa mulai bertanya, “Keterampilan teknologi apa yang dapat memperkuat kemampuan yang sudah saya punya?”

Bisa jadi jawabannya adalah analisis data untuk mahasiswa komunikasi, AI untuk mahasiswa hukum, atau pemrograman untuk mahasiswa ekonomi. Kita tidak pernah tahu kombinasi mana yang kelak menjadi keunggulan kita sebelum benar-benar mencobanya. 

Kalau career capital dibangun dari kemampuan yang langka sekaligus bernilai, Dicoding Bangun Negeri bisa menjadi salah satu pintu untuk mulai membentuk kombinasi tersebut.

Dicoding Bangun Negeri adalah program pelatihan keterampilan digital gratis untuk pelajar, mahasiswa, dan pendidik aktif dari berbagai jenjang dan jurusan, termasuk yang berlatar belakang non-IT. Melalui program ini, Dicoding ingin memperluas akses belajar teknologi bagi pemula dan membekali mereka dengan keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan industri.

Syaratnya, kamu memiliki email institusi seperti ini: (nama kampus/sekolah).edu, .sch.id, .ac.id, madrasah.id, ponpes.id, belajar.id, atau guru.kemdikbud.go.id. Dicoding memberikan secara gratis kesempatan belajar teknologi dari nol melalui dua kelas di platform Dicoding. Setelah menyelesaikannya, kamu bisa mendapat kelas lanjutan dengan potongan harga hingga 90% untuk kelas dasar dan 70% untuk kelas menengah-mahir.

Kelas-kelas dasar yang diberikan secara cuma-cuma oleh Dicoding mencakup berbagai learning path, seperti AI, Data Science, Python, Front-End Web, Back-End Python, dan masih banyak lagi. Pembelajarannya fleksibel karena dilakukan secara self-paced yang dilengkapi modul, ujian/proyek, forum diskusi, dan sertifikat kelulusan yang bisa diintegrasikan dengan LinkedIn kalian.

 

Menarik, bukan? Langsung saja cek detailnya dan daftar di dicoding.com/dbn

 


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.