Dulu Takut Tes Live Coding, Kini Berhasil Jadi IT Perusahaan Besar

Cerita Natan Enggal Swasono Lulusan Program Intensif Dicoding

Banyak mahasiswa merasa sudah belajar coding, tapi tetap takut ketika harus menghadapi realita selepas kuliah: tes coding untuk masuk kerja dan juga membuat portofolio.

Ketika mendengar tes masuk kerja harus live coding, rasa gugup itu pasti muncul. Begitu pun dengan Natan Enggal Swasono (25) yang menghadapi hal tersebut bahkan sejak awal magang.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Namun, dia berhasil mendapatkan magang pertamanya setelah lulus tes coding berkat program intensif Dicoding. 

Hingga kini, ilmu tersebut terus Natan terapkan dan mengantarkannya mendapatkan pekerjaan full-time sebagai IT Support di perusahaan besar, yakni Asuransi Sinar Mas.

Merasa relate dengan cerita Natan yang harus melakukan tes live coding sebelum masuk kerja? Simak ceritanya di bawah ini agar kamu juga bisa lulus tes tersebut seperti Natan!

Dibesarkan sebagai Anak Pendeta: Belajar untuk Berdampak Baik, bukan Sekadar Pintar

Natan adalah anak kedua dari empat bersaudara. Ayahnya seorang pendeta di salah satu gereja di desa di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Nilai keluarga yang ia pegang pun sangat personal: selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap hal. Baik itu bekerja, mengambil keputusan, maupun menjalani proses. 

Dibesarkan dalam keluarga dengan nilai religius yang tinggi nyatanya juga membentuk Natan jadi pribadi yang tinggi empati. Satu pesan yang paling dia ingat hingga saat ini adalah kedua orang tuanya ingin Natan menjadi orang yang bermanfaat, bukan sekadar menjadi orang pintar.

“Ayah dan Ibu selalu berpesan, jadilah berdampak baik bagi orang lain,” ujar Natan.

Meski dibesarkan di keluarga yang religius, Natan tidak menutup diri dari dunia luar. Justru sebaliknya: ia tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia terbiasa membaca, mengamati, lalu bertanya “mengapa” dan “bagaimana”. Hingga akhirnya dia mulai merasakan ketertarikan terhadap teknologi dari hal simpel, membaca berita mengenai teknologi.

Pilih Kuliah Informatika karena Suka Baca tentang Teknologi Sejak SD

Natan kecil yang saat itu masih berada di bangku sekolah dasar sedang gemar-gemarnya membaca berita tentang NASA, astronomi, dan perkembangan teknologi.

Meski ketertarikan ini awalnya tidak langsung mengarah pada keinginan menjadi programmer, Natan kecil ternyata mengawali ketertarikannya pada teknologi karena critical thinking yang dia miliki terhadap manfaat teknologi.

“Saya tertarik pada teknologi karena bisa membawa manusia memahami hal-hal besar, memecahkan masalah, dan membuat sesuatu yang dulu mustahil menjadi nyata,” ujar Natan.

Menjelang lulus dari SMAN Jumapolo, Natan pun mengambil keputusan yang lebih bulat, ingin bekerja dalam bidang teknologi. Dari situlah ia memilih kuliah Informatika di Universitas Kristen Immanuel. 

Di bangku kuliah, ia mulai menyadari bahwa minat saja tidak cukup. Dunia IT luas, dan untuk punya pijakan yang kuat, ia perlu praktik sesuai standar industri, bukan hanya membaca atau menonton tutorial.

Mulai Belajar Front-End dan Back-End Lewat Proyek

Keinginan Natan untuk belajar praktik akhirnya terpecahkan lewat program intensif Dicoding. Dalam program ini, Natan memilih alur belajar pengembang front-end dan back-end. 

Selama program, ia merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan karena mendapat materi baru sekaligus kesempatan mengerjakan proyek. Mulai dari tugas submission individu, hingga capstone project yang dikerjakan bersama kelompok. 

Dari sini, Natan merasakan peningkatan dari skill coding-nya. Ia juga mendapat pengalaman bekerja dalam tim yang sesuai standar industri. Mulai dari membagi tugas, menyatukan ide, dan menyelesaikan target bersama.

Meski perjalanan belajar Natan lancar, dia juga tetap menemukan tantangan. Karena program intensif Dicoding berjalan secara online, Natan mengakui terkadang muncul rasa malas, jenuh, dan keinginan untuk menunda. Bahkan ia pernah mengalami kegagalan mengerjakan tugas submission yang sempat ditolak berkali-kali oleh Dicoding. 

Namun, di situlah Natan merasa “naik level”. Dia belajar mencari akar masalah, memahami letak kesalahan, lalu memperbaiki tugas tersebut sampai diterima. 

“Standar program intensif Dicoding memang tinggi. Tugas saya ditolak empat kali. Tapi ada kepuasan tersendiri ketika lolos, karena berarti tugas saya sudah sesuai standar industri,” tambah Natan.

Lolos Tes Coding hingga Kini Bekerja di Asuransi Sinar Mas

Setelah lulus dari program intensif Dicoding, Natan merasakan peningkatan dalam skill JavaScript yang dia miliki, khususnya skill coding pada bagian front-end development

Pengalaman belajar Natan dalam program intensif Dicoding juga berpengaruh langsung pada langkah kariernya. Ia bercerita, saat awal bergabung di Asuransi Sinar Mas sebagai Intern Pega Developer, ia bisa lolos rekrutmen untuk posisi tersebut berkat proyek dan latihan selama berada di program intensif Dicoding.

“Program intensif Dicoding bahkan membantu saya bisa lolos tes coding untuk bekerja di Asuransi Sinar Mas,” ujar Natan.

Selain itu, sertifikasi yang dia dapat dari program intensif Dicoding ini menjadi nilai tambah tersendiri saat dia mengikuti proses rekrutmen pekerjaan. Dengan memperlihatkan sertifikat yang didapatkannya dari program intensif Dicoding, dia bisa meyakinkan perusahaan bahwa ia pernah menjalani pembelajaran coding yang terstruktur dan bisa bekerja sesuai standar industri. 

Kini, Natan sudah mendapatkan promosi sebagai staf IT Support di Asuransi Sinar Mas. Walau kini perannya berbeda dari developer, ia tetap merasakan manfaat dari program intensif Dicoding, terutama dari kelas soft skill yang mengajarkan untuk mendokumentasikan pekerjaan secara rapi. 

“Sebagai IT Support, dokumentasi itu krusial. Masalah yang sama bisa muncul lagi dan catatan yang rapi membuat penyelesaian jauh lebih cepat,” ujar Natan.

Ke depan, Natan ingin mempelajari cyber security karena kini dia bekerja di industri yang terlibat dengan data diri nasabah. Dia sadar penuh bahwa skill baru ini bisa menunjang kariernya di Asuransi Sinar Mas.

Selaras dengan semangat belajar tersebut, Natan juga berpesan kepada mahasiswa yang sedang berjuang menambah skill untuk terus mengasah kemampuan agar tetap relevan di industri.

“Teruslah belajar hal baru karena teknologi akan selalu berkembang,” tutup Natan.

Ingin lolos bekerja di perusahaan besar seperti Natan? Jangan tunda lagi untuk meningkatkan kapasitas dirimu. 

Bergabunglah sekarang dalam program intensif Dicoding untuk mendapatkan kurikulum sesuai standar industri, bimbingan mentor ahli, dan proyek nyata yang akan memperkuat portofoliomu.

Daftar sekarang dalam program intensif Dicoding: Asah 2026.

Lihat detail program: dicoding.com/asah.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.