Cerita Deatrisya Mirela Harahap, Lulusan Program Intensif Dicoding
Banyak mahasiswa IT yang merasa terbebani dengan ekspektasi bahwa mereka harus selalu jago coding. Padahal, dunia teknologi jauh lebih luas dari sekadar menulis baris kode dan peluang karier bagi lulusannya sangatlah beragam.
Hal ini dibuktikan oleh Deatrisya Mirela Harahap (24), perempuan asal Pasuruan yang kini sukses berkarier dalam bidang data. Bagi anak pertama dari dua bersaudara ini, kunci utama sebagai anak IT bukanlah menguasai semua bahasa pemrograman, melainkan memahami fundamental yang kuat.
Berbekal pemahaman logika yang matang, Dea membuktikan bahwa ia bisa dengan mudah beradaptasi hingga kini menjabat sebagai Quality Assurance Data and System. Penasaran seperti apa perjalanan Dea? Simak ceritanya di bawah ini!
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar Sekarang
Terinspirasi Film Hacker dan Sering Melihat Ibu Bekerja
Ketertarikan Dea pada teknologi muncul sejak ia duduk di bangku SMP, tepat saat ia harus memilih jalur pendidikan antara SMA dan SMK. Awalnya, Dea berkeinginan untuk cepat bekerja sehingga dia memilih untuk masuk SMK.
Saat masih bingung memilih jurusan SMK yang pas, Dea menonton film Hacker yang membuka pikirannya tentang dunia teknologi. Dia ingin memahami cara sebuah aplikasi bisa dibangun dari nol. Di situlah titik baliknya memilih untuk bersekolah di SMK 1 Purwosari jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.
Pilihan Dea sempat diragukan oleh kedua orang tuanya. Pasalnya dunia teknologi masih didominasi oleh laki-laki. Namun, Dea bisa meyakinkan kedua orang tuanya.
Dia berucap bahwa selain ingin menggali cara membuat aplikasi seperti dalam film Hacker, dia juga ingin bisa mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan komputer. Sama seperti pekerjaan yang dilakukan ibunya setiap hari sebagai staf, bergelut dengan komputer.
Orang tuanya pun menyetujui pilihan Dea dan nyatanya Dea tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia berhasil menjadi juara kelas dan menyelesaikan tugas akhir dengan hasil yang membanggakan. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang D4 Teknik Informatika di Politeknik Negeri Malang untuk memperdalam kemampuannya dalam bidang teknologi.
“Orang tua sempat ragu, perempuan kok pengen utak-atik isi komputer. Justru itu niat saya, membuktikan perempuan juga bisa di bidang teknologi,” ucap Dea.

Membangun Fundamental Lewat Program Intensif Dicoding
Saat menempuh perkuliahan, Dea merasa perlu mengembangkan diri di luar materi kampus. Ia pun direkomendasikan mengikuti program intensif Dicoding oleh dosennya. Akhirnya, dia mendaftar serta mengambil alur belajar Front-end dan Back-end Development.
“Saya pilih program intensif Dicoding dari rekomendasi dosen, karena belajarnya terstruktur, aplikatif, fleksibel, dan bisa konversi sampai 20 SKS,” ucap Dea.
Selama mengikuti program, perjuangan Dea tidak selalu mulus. Dea diharuskan memiliki tingkat disiplin tinggi agar bisa lulus dari program intensif Dicoding. Mulai dari memenuhi kriteria submission yang detail hingga men-submit tugas mengikuti tenggat waktu yang ketat.
Namun, dia dapat mengatasinya dengan menerapkan manajemen waktu yang disiplin, terlebih Dea juga mendapatkan kelas soft skill yang mengajarinya manajemen waktu dengan baik. Dari situlah, Dea selalu mengerjakan tugas lebih awal agar memiliki cukup waktu untuk mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki hasil pekerjaannya.
Pengalaman belajar dalam program intensif Dicoding juga terasa berbeda bagi Dea karena ia bisa berinteraksi langsung dengan para coach melalui sesi technical briefing. Melalui sesi tersebut, Dea leluasa mendiskusikan kesulitan materi sekaligus memperdalam pemahamannya secara praktis.

Menjadi Lulusan Terbaik dengan Portofolio Nyata
Konsistensi dan ketekunan Dea akhirnya membuahkan hasil. Dea berhasil lulus dari program intensif Dicoding dengan predikat lulusan terbaik. Baginya, pencapaian ini menjadi bukti bahwa ketelitian dalam memenuhi setiap kriteria tugas benar-benar memberikan dampak nyata.
Selain memperoleh sertifikat, Dea juga mengantongi portofolio dari berbagai submission yang ia kerjakan selama program. Portofolio tersebut menunjukkan kemampuan praktisnya secara langsung, bukan sekadar pemahaman teori. Materi seperti Programming Logic 101 dan Basic JavaScript membantunya membangun cara berpikir yang lebih sistematis serta terstruktur.
Diskusi dengan peserta dari berbagai kampus juga memperkaya perspektif Dea dalam memecahkan masalah. Semua pengalaman itu membuat CV-nya semakin kuat saat ia mulai melangkah ke dunia kerja profesional dalam bidang teknologi.
“Dari tugas dan submission yang dikerjakan, saya jadi punya hasil nyata yang bisa ditunjukkan, bukan hanya sekadar teori,” ujar Dea.

Menjalani Karier dalam Bidang Data dengan Pola Pikir Developer
Kini, Dea berhasil bekerja sebagai Quality Assurance Data and System di PT Kencana Tiara Gemilang (KTG Indonesia), sebuah perusahaan manufaktur yang berada di Jawa Timur.
Meski pekerjaanya sebagai Quality Assurance Data and System tidaklah menulis kode, ternyata ilmu fundamental programming yang dia dapat dari program intensif Dicoding justru sangat membantu pekerjaannya saat ini.
Materi fundamental seperti logika pemrograman, yang diajarkan program intensif Dicoding memudahkan Dea dalam menyusun rumus dan query data. Ini jauh lebih efektif dibandingkan proses manual menggunakan spreadsheet.
Hasilnya dari pemahaman logika pemrograman yang mantap, Dea juga mampu menciptakan sistem automasi dashboard untuk kantornya. Inisiatif hebat ini akhirnya membuka jalan bagi Dea mendapatkan promosi sebagai QA Data and System, posisi barunya saat ini.
“Berkat materi logika pemrograman, saya berhasil bikin sistem automasi di kantor. Logika pemrograman ternyata bisa kita pakai bukan cuma buat ngoding,” ucap Dea.
Melalui perjalanannya, Dea membuktikan bahwa ilmu fundamental programming akan selalu relevan, apa pun peran yang dijalani. Ia pun berpesan kepada talenta digital lainnya agar tidak takut mencoba berbagai hal. Menurutnya, justru dari proses eksplorasi itulah seseorang bisa menemukan peran yang paling sesuai di dunia teknologi.
Dea juga turut berpesan bagi para calon talenta digital untuk jangan takut mencoba banyak hal dalam bidang teknologi. Selama memiliki fundamental yang kuat, kita bisa berpindah-pindah ke role apa pun dalam bidang teknologi.
“Kuatkan fundamental, maka skill-mu akan terpakai di role apa pun di bidang teknologi,” tutup Dea.
![]()
![]()

Ingin memperkuat fundamental programming seperti Dea? Jangan lewatkan kesempatan untuk menempa hard skill dan soft skill kamu melalui program intensif Dicoding, Tempa led by Dicoding.
Ada tiga alur belajar yang bisa kamu pilih: Artificial Intelligence, Mobile Development, dan Web Development.
Lihat materi belajar lengkapnya di dicoding.com/tempa.
