kuliah sambil kerja

3 Tips Kuliah Sambil Kerja Developer 

3 Tips Kuliah Sambil Kerja Developer 

Kuliah sambil kerja, solusi hidup mandiri. Banyak dari kita mendambakan ini. Tapi apakah kita sudah punya bekal memadai?

Fahmi Noor Fiqri, lulusan Dicoding, punya cerita yang bisa kita pelajari. Fahmi, mahasiswa program S1 ini menyambi juga jadi seorang backend developer full time. Pekerjaannya, kuliah S1 Ilmu Komputer di Universitas Pakuan, Bogor, merangkap programmer di Logee Trans. 

Kok bisa? Bagaimana ia bisa menyeimbangkan kedua tanggung jawab tersebut? Kita simak ceritanya. 

Kuliah Sambil Kerja: Tugas Seorang Backend Developer 

Sudah 1 tahun 4 bulan terakhir Fahmi menambatkan kariernya di perusahaan logistik digital PT Logee Trans. Badan usaha tersebut spesifik menangani layanan logistik digital berupa marketplace di mana pemilik kargo dapat mencari truk untuk mengirim kargo. 

Sebagai backend developer, tugas utamanya adalah menyediakan sistem yang baik bagi pengguna web dan aplikasi android perusahaan, baik dari kalangan internal maupun eksternal perusahaan. 

Di kantor, sehari-harinya lulusan Dicoding yang satu ini menggunakan Javascript untuk mengelola backend web dan aplikasi android kantornya. Salah satu inovasinya baru-baru ini adalah desain sistem pembayaran online yang bisa dimanfaatkan oleh para customer perusahaan. 

Awalnya Fahmi mahir C# .NET dengan pengalaman 5 tahun. Kini ia berkembang menjadi developer NodeJS. Awalnya tanpa skill sama sekali, tapi karena tuntutan industri, ia pun ikut an dan kini mahir di Javascript. 

3 Tips Kuliah Sambil Kerja 

Awalnya pria 20 tahun ini tak terbayang bisa menjalani kuliah full time sembari bekerja full time. Tetapi Fahmi punya solusinya. Ada 3 hal yang ia terapkan dalam kesehariannya. Tiga prinsip ini lanta membantunya mencapai komitmen kuliah dan kerja tsb secara seimbang: 

#1 Menyukai Bidang yang Dilakoni dalam Kerja dan Kuliah 

“Dari SMA aku memang sangat menyukai dunia komputer. Aku selalu kepo.” (Fahmi) 

Tanpa minat dan keingintahuan yang tinggi pada apa yang kita lakoni -baik di kantor maupun di bangku kuliah- sulit rasanya untuk bertahan di keduanya. Dari rasa serba ingin tahu ini, dorongan untuk ngulik semakin tinggi. Ini baik karena sebagai developer, penting untuk memegang satu kultur utama. Apa itu? Selalu buka diri untuk suka dan terus belajar!  

Termasuk dalam hal komputasi awan alias cloud, Fahmi mengaku 

“Di kampus aku belum pernah kenal siapa pun yang pernah pakai cloud. Mayoritas masih pakai hosting biasa. Padahal backend itu sangat bergantung pada orang-orang yang bisa cloud. Dan di industri, cloud professional ini jumlahnya masih sangat sedikit. Jadi, kebayang kan peluangnya? Gede banget! “ (Fahmi)

Untuk itulah mahasiswa bersemangat ini daftar Beasiswa Azure dari Microsoft yang bekerja sama dengan Dicoding. Beasiswa ini memberikan kesempatan pada Fahmi dan ribuan cloud developer Indonesia lainnya untuk belajar gratis di alur belajar Azure Cloud Developer Dicoding. Tak main-main, kelas yang ditempuh berdurasi total  110 jam! 

Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan baik, Fahmi menuntaskan learning path yang terdiri dari 2 kelas tersebut, yakni kelas belajar Dasar-Dasar Azure Cloud (level dasar) dan Menjadi Azure Cloud Developer (level pemula – menengah)

#2 Pastikan Bidang Pekerjaan dan Kuliah Harus Saling Mendukung

Jika bidang pekerjaan dan kuliah itu sama atau setidaknya saling mendukung, maka hidup akan terasa jauh lebih mudah! Dari pengalamannya sebagai backend developer, Fahmi pun membuat karya sendiri yang ia terapkan di kampusnya.

Salah satunya adalah aplikasi desktop e-learning di Universitas Pakuan. Karya ini lahir dari tanggung jawabnya sebagai asisten dosen bagi mahasiswa program studi ilmu komputer. “KFlearning” begitu nama android app tersebut, memudahkan semua mahasiswa S1 untuk belajar dan praktikum di laboratorium komputer. KFlearning berfungsi untuk menyediakan lingkungan belajar di laboratorium komputer seperti IDE dan compiler yang digunakan untuk praktikum.

Selain itu, bersama teman-teman di kampusnya, ia juga tengah membuat aplikasi tracking kalori makanan. Saat  WFH seperti ini, tentunya kita ingin terus-terusan ngemil. Bisa berbahaya kan jika tak terkontrol. Kadang suka bergumam penasaran: Sudah berapa asupan kalori?”.  Lewat app buatannya, kita bisa scan barcode makanan. Sistem akan mengakumulasi asupan nutrisi dan memberi kita alarm notifikasi jika sudah terlalu banyak yang kita konsumsi. 

Dalam aplikasi ini, Fahmi mengimplementasi Azure Services dan Azure SQL Database yang dipelajarinya di Dicoding Academy. Arsitektur cloud yang ia pelajari di kelas Menjadi Azure Cloud Developer, nyata terpakai dalam proyek pribadi ini. 

#3 Menjadi Ahli Lewat Sertifikasi 

Saat memutuskan untuk kuliah sambil kerja sebagai developer, jangan tanggung-tanggung. Jadilah developer yang benar-benar serius lewat sertifikasi! Dari beragam sertifikasi di bidang cloud, salah satu yang bisa jadi pilihan adalah sertifikasi AZ-900. Ini adalah sertifikasi dari Microsoft Azure berlevel “foundational” alias dasar yang memverifikasi pengetahuan seseorang perihal konsep Cloud dan layanan Azure.

Demikian halnya dengan Fahmi yang mengambil sertifikasi AZ-900. 

Menurut Fahmi, kelebihan Azure ada pada sisi ekonomis alias efisien dari segi biaya, jika dibandingkan penyedia komputasi awan lainnya.  Dan yang terpenting, semua fitur yang dibutuhkan dalam pekerjaan seorang backend developer sehari-hari, ada di sana. Misalnya Azure AppService, Azure DevOps, Azure SQL Service, Azure Cosmo DB, dan Azure Storage.

Apa kata Fahmi tentang sertifikasi tersebut:

“Dengan sertifikasi AZ-900, CV-ku jadi terdongkrak. Jadi bukti di tempat kerjaku bahwa aku sudah familiar dengan lingkungan Cloud Azure. Apalagi sebelum ambil sertifikasi ini Januari 2021 lalu, aku sudah belajar lebih dulu di Dicoding. Modulnya terstruktur, rapih, semua ada. Kisi-kisi ujian, tercakup semua. Dicoding sangat membuka wawasanku” (Fahmi)   

Tantangan Menjadi Cloud Engineer 

Era WFH membuka banyak peluang untuk bekerja sambil kuliah. Dengan begini, kita sebagai developer, bisa hidup lebih mandiri. Saat lulus kuliah nanti pun, jadi lebih siap menghadapi tantangan sebagai profesional.   

Untuk Fahmi sendiri, kuliah sambil kerja telah membuktikan 1 hal. Cita-citanya menjadi seorang Cloud Engineer dengan keahlian multidisipliner di bidang backend, perlahan terwujud. Penting buatnya untuk selalu membuka mindset belajar. Tak bisa hanya dari 1 sumber tutorial saja. Kenapa demikian?

Tantangan terbesar jadi cloud engineer adalah service yang tersedia, banyak sekali! Bisa overwhelmed alias kewalahan jika tidak mempelajari dengan seksama. Kita juga harus jeli melihat peluang market Cloud di luar yang mainstream. 

Penting juga bagi seorang Cloud Engineer untuk memiliki koneksi alias jejaring yang mendukung. Jika berteman dengan sesama developer dengan minat yang sama, maka selalu ada dorongan untuk berkarya. Meski jenuh, selalu ada pula teman untuk berbagi. Manfaatkan juga discord, Github, blog-blog kesukaan yang jadi referensi, dan lain sebagainya. Inilah ekosistem penting yang akan mendukung skill dan jejaringmu.

Jika berminat, tentu kamu pun bisa kuliah sambil merealisasikan pekerjaan di bidang ini. Ingin kan mampu  menggunakan layanan cloud dengan baik, menghasilkan produk yang efektif sesuai standar dan best practice? 

Mari berusaha dari sekarang! Kami tunggu di learning path Azure Cloud Developer ya!

3 Tips Kuliah Sambil Kerja Developer -end

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Content Editor at Dicoding Indonesia