Cerita Nazwa Sapta Pradana Lulusan Program Intensif Dicoding
Kamu suka bermain komputer sejak kecil? Kalau iya, apakah sejak dulu kamu sudah bercita-cita berkarier dalam bidang teknologi dan mengutak-atik komputer?
Jika iya, kamu punya kesamaan dengan Nazwa Sapta Pradana (24). Ketertarikannya pada dunia teknologi mulai tumbuh sejak ia memiliki komputer di rumah dan gemar mengeksplorasi perangkat tersebut.
đź’» Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangKini, lelaki muda yang akrab disapa Sapta ini berhasil berkarier sebagai Junior Technical Operations di PT Nodeflux Teknologi Indonesia. Salah satu faktor yang membantunya mencapai posisi tersebut adalah keikutsertaannya dalam program intensif Dicoding, yang turut mengasah hard skill dan soft skill-nya.
Penasaran bagaimana perjalanan Sapta hingga bisa berkarier sebagai TechOps? Simak ceritanya di bawah ini!

Sejak SD Senang Utak-atik Komputer di Rumah
Sapta lahir di Jakarta pada tahun 2001 sebagai anak kedua dari dua bersaudara. Ketertarikannya pada teknologi bukan muncul karena tren, tapi karena hal sederhana: sejak SD ia sudah punya akses komputer di rumah.
Dari situ, ia terbiasa mengutak-atik benda kotak tersebut dan bertanya-tanya, “Ini cara kerjanya gimana, ya?” Rasa ingin tahu itulah yang pelan-pelan membentuk arah hidupnya. Dari ketertarikan itulah, Sapta kemudian bersekolah di SMAN 8 Tangerang Selatan dan melanjutkan kuliah di jurusan Teknik Informatika di Universitas Gunadarma.Â
“Dari kecil aku sudah terekspos dengan teknologi, jadi punya ketertarikan ke situ,” ujar Sapta.
Sebagaimana banyak mahasiswa IT lainnya, ia punya bekal teori dari pembelajaran di kampus. Tapi, tetap ada satu pertanyaan besar: seberapa siap saya bekerja setelah lulus nanti? Terlebih, dunia kerja dalam bidang teknologi bergerak cepat. Skill yang diminta perusahaan terkadang lebih spesifik dibandingkan yang dipelajari di kelas.
Di luar urusan akademik, Sapta juga memegang nilai keluarga yang ia sebut masih ia jaga sampai sekarang: kerja keras, disiplin, dan optimis. Kedua orang tuanya tidak menuntut banyak, mereka menitipkan kepada Sapta untuk menjaga pergaulan.Â
Bagi Sapta, ini adalah guideline yang selalu dia pedomani untuk mengambil keputusan, termasuk keputusan memilih lingkungan belajar yang baik dan mendukung upgrade diri.

Kenal Dicoding dari Kampus Merdeka, Lalu Ikut Program Intensif-nya
Saat mencari program pengembangan skill yang lebih banyak menekankan praktik, Sapta menemukan Dicoding dari listing pada website Kampus Merdeka.Â
Hingga akhirnya, pilihan platform belajarnya pun jatuh pada program intensif Dicoding yang bisa konversi SKS dan punya kurikulum khusus untuk menambah portofolio, yakni capstone project.
“Pertama kenal program intensif Dicoding dari Kampus Merdeka, tertarik karena kurikulumnya yang lengkap-terstruktur,” ujar Sapta.
Hal yang membuat Sapta semakin tertarik dari program intensif Dicoding adalah format belajarnya yang terstruktur. Ia pun memilih alur pembelajaran Multi-Platform App Development.
Bagi mahasiswa yang bingung harus mulai belajar dari mana, program intensif Dicoding bisa menjadi jawaban. Karena kurikulum belajarnya yang terstruktur mendukung mahasiswa belajar dengan jalur yang jelas sesuai pilihan karier, bertahap mulai dari level dasar, pemula, menengah, hingga mahir, serta setiap materi memiliki target yang jelas untuk men-unlock hard skill dan soft skill peserta.

“Enjoy, tapi Challenging”: Belajar Menyenangkan, tapi Butuh Strategi
Sapta menggambarkan pengalaman dalam program intensif Dicoding dengan dua kata: enjoy dan challenging. Enjoy baginya karena materinya menarik, sedang challenging sebab ritme belajarnya yang menuntut konsistensi.Â
Menurut Sapta, tantangan terbesarnya belajar dalam program intensif Dicoding bukan sekadar memahami materi, melainkan soal manajemen waktu: mencari cara belajar efektif supaya semua materi bisa dikuasai sesuai dengan timeline yang diberikan Dicoding.
“Belajar dalam program intensif Dicoding itu enjoy dengan format belajar self-paced learning. Tapi tetep perhatiin deadline,” ujar Sapta.
Masalah waktu ini pasti familier untuk mahasiswa. Kuliah tatap muka, tugas, ujian, bahkan masih diselingi organisasi atau proyek lain. Lalu, bayangkan dunia kerja akan dua kali lebih sibuk dibandingkan itu. Di sinilah program intensif Dicoding berperan dalam mengasah kedisiplinan dan mempersiapkan mahasiswa untuk mampu bekerja sesuai dengan ritme industri. Â
Setelah belajar dalam program intensif Dicoding, Sapta belajar mengatur waktu yang dia punya. Ia juga menyadari kebiasaan kecil yang penting: menyelesaikan pekerjaan tanpa ditunda-tunda walaupun pekerjaan tersebut terlihat mudah. Karena biasanya, pekerjaan yang terlihat kecil akan ditunda hingga menumpuk dan menggunung sehingga mengganggu rutinitas.

Dapat Bimbingan Mentor dan Berhasil Jadi TechOps
Setelah lulus dari program intensif Dicoding, Sapta merasakan peningkatan dalam skill-nya. Hingga akhirnya selepas meraih gelar sarjana, dia diterima bekerja sebagai Junior Technical Operations di PT Nodeflux Teknologi Indonesia. Pekerjaan Sapta singkatnya adalah memastikan service selalu dalam keadaan normal. Mulai dari memantau kinerja aplikasi, server, hingga infrastruktur.
Meski pekerjaannya saat ini sebagai TechOps tidak sejalan dengan materi belajar yang dia ambil dalam program intensif Dicoding, yakni Multi-Platform App, baginya program intensif Dicoding tetap membentuk kesiapan dia untuk bekerja. Ia merasa hal-hal seperti disiplin, kebiasaan menuntaskan tugas, dan logika berpikir yang rapi benar-benar terpakai di kantor.
“Program intensif Dicoding mengasah soft skills saya dan sangat terpakai di dunia kerja,” ujar Sapta.
Ke depannya, Sapta punya rencana menerapkan teknologi dalam sebuah usaha yang dia bangun. Dia harap, ke depannya dia bisa menjadi seorang technopreneur.
Untuk mahasiswa lainnya yang saat ini masih berjuang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan diri untuk mencari kerja, Sapta berpesan agar menikmati segala prosesnya karena usaha tidak akan mengkhianati hasil.
“Trust the process, enjoy the journey!” tutup Sapta.

Kalau kamu sedang mencari program belajar yang terstruktur, berstandar industri, dan bisa membentuk kebiasaan kerja yang nyata, program intensif Dicoding bisa jadi salah satu pilihan yang relevan untuk kamu coba.
Daftarkan dirimu dalam program intensif Dicoding: Asah 2026! Agar kamu punya skill set yang sesuai untuk terjun ke industri seperti Sapta.
Lihat detail kelas dan benefitnya di dicoding.com/asah.
