Riset Penggunaan Aplikasi oleh Kaum Ibu di Indonesia

Tim dicoding telah melakukan riset sederhana mengenai penggunaan aplikasi dikalangan ibu (dengan minimal satu orang anak) yang tinggal di Jabodetabek. 50% dari responden menggunakan iOS dan 49% dari responden menggunakan Android. Hanya 1% dari responden yang menggunakan platform lain. Berikut adalah hasil survey yang dapat menjadi referensi untuk developer dalam mengembangkan solusi untuk menyelesaikan tantangan Bantu Ibu dengan Teknologi dari IBM.

 

Rekomendasi Aplikasi

Mayoritas ibu di Indonesia 67,5% mendapatkan rekomendasi untuk unduh aplikasi dari teman atau keluarga. Sementara 48,2% ternyata mendapatkan rekomendasi dari App Store atau Play Store. Sekitar 39,5% mendapatkan rekomendasi dari social media seperti facebook, twitter, path, atau instagram. Hanya 18,4% yang menyatakan mendapatkan rekomendasi dari website seperti blog atau berita.

1

Kesimpulan dari hasil riset ini adalah setiap aplikasi yang menyasar kaum ibu di Indonesia harus dapat memudahkan untuk share ke teman atau keluarga untuk mendapatkan efek viral.

 

Peruntukan Aplikasi

Mayoritas kaum ibu di Indonesia (57%) menggunakan smartphone hanya untuk pribadi. Namun hal yang menarik adalah 39,5% kadang menggunakan smartphone untuk anaknya. Hanya 3,5% yang memberikan penggunaan smartphone lebih banyak untuk anaknya. Hasil survey ini menunjukkan bahwa aplikasi yang ditujukan ke market anak-anak harus bisa menarik perhatian kaum ibu juga.

 

Jumlah Unduhan Aplikasi

Mayoritas ibu di Indonesia (35,1 %) telah mengunduh 6 – 10 aplikasi dalam smartphonenya. 28,9% telah mengunduh lebih dari 15 aplikasi. Sedangkan 20,2% menjawab telah mengunduh 10 – 15 aplikasi. Sisanya (15,8%) menjawab telah mengunduh 1 – 5 aplikasi.

2
Statistik ini menunjukkan masih besarnya potensi yang bisa dikembangkan dari market kaum ibu mengingat rata-rata aplikasi yang di install dalam setiap device yang beredar di dunia ini berdasarkan data dari tune berkisar antara 30 – 95 aplikasi.

 

Penggunaan Aplikasi Rutin

Mayoritas kaum ibu di Indonesia (55,5%) menggunakan 3-5 aplikasi setiap hari. 21,1 % kaum ibu menggunakan 6-8 aplikasi setiap hari. 14,9% kaum ibu menjawab menggunakan lebih dari 8 aplikasi setiap hari. Hanya 8,8% yang menjawab menggunakan kurang dari 3 aplikasi setiap hari. Data ini tidak terlalu jauh dengan data rata-rata penggunaan aplikasi di dunia. Dapat disimpulkan kaum ibu di Indonesia cukup aktif menggunakan aplikasi sehingga iklan bisa jadi opsi monetisasi yang masuk akal.

 

Kategori Aplikasi Favorit

Bersosialisasi merupakan suatu hal yang paling alamiah dari kaum ibu. Oleh karena itu tidak heran bila social network menduduki rangking teratas (76,3%) aplikasi favorit. Dalam survey ini ada beberapa responden yang meminta aplikasi yang memungkinkan untuk melakukan sosialisasi secara offline. Misalnya aplikasi untuk arisan, kumpul sosialita, kumpul berdasarkan interest, dsb.

3

Travel ternyata menjadi aplikasi favorit nomor 2 (55,3%). Beberapa responden menginginkan aplikasi yang dapat memberikan informasi untuk travel yang bisa mendukung keluarga dan anak-anak. Mengingat belum ada aplikasi yang mendukung family travelling.

Ecommerce sengaja tidak dimasukkan oleh mengingat pemain ecommerce Indonesia yang sudah cukup padat. Namun ada beberapa responden yang memasukan ecommerce dalam kategori “lainnya” dan secara spesifik meminta aplikasi ecommerce berbasis interest, misalnya jual beli barang sosialita atau jual beli mainan anak.

 

Harga Aplikasi Pilihan

Mayoritas ibu-ibu di Indonesia (67.5%) lebih menyukai aplikasi yang gratis. 7,9% menjawab Rp. 3.000 adalah harga yang wajar. Sementara 14% menjawab Rp. 5.000 adalah harga yang ideal. Hanya 10,5% yang menjawab diatas Rp. 5.000 adalah harga yang wajar. Dari hasil ini kita bisa menyimpulkan bahwa iklan atau in app purchase adalah solusi terbaik untuk aplikasi yang ditujukan bagi kaum ibu di Indonesia.

 

Kesimpulan

Semoga hasil riset sederhana ini dapat bermanfaat untuk mendukung kawan-kawan developer mengembangkan solusi terbaik untuk kaum ibu dengan IBM Bluemix. Sudah punya ide mau membuat apa? Ikuti tantangannya sekarang juga disini.

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Co-Founder Dicoding