Dian Erdiana, full-stack developer lulusan Asah 2025.

Putra Petani asal Majalengka yang Sukses Wujudkan Mimpi

Cerita Dian Erdiana, Lulusan Asah 2025

Sejak kecil, Dian Erdiana (27) sudah akrab dengan kerasnya hidup. Ia melihat langsung bahwa kedua orang tuanya bekerja tanpa henti. Berpindah dari sawah, pabrik, hingga pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga. 

Di tengah keterbatasan tersebut, ada satu pesan yang terus ia pegang hingga hari ini, yaitu untuk mengubah masa depan dengan pendidikan.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Pesan itu tidak hanya menjadi nasihat, tetapi juga titik awal perjalanan panjang Dian dalam menemukan jalannya di dunia teknologi. Dari seorang lulusan SMK Teknik Mesin yang sempat bekerja di Jepang hingga akhirnya menjadi full-stack developer profesional, langkah Dian dipenuhi dengan keberanian untuk memulai kembali dari nol.

Bagaimana perjalanan Dian hingga bisa sampai di titik ini? Mari kita simak kisah inspiratifnya.

Tumbuh dalam Keterbatasan, Dibesarkan dengan Nilai Kehidupan

Dian lahir di Kabupaten Majalengka sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani padi dengan penghasilan yang tidak menentu.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sang ayah juga berjualan dan bahkan melakukan pekerjaan tambahan, seperti “ngobor”, yaitu mencari hewan di malam hari untuk dijual. Sementara itu, ibunya bekerja sebagai buruh pabrik genteng serta membantu di sawah saat musim tanam dan panen.

Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, pendidikan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Meski kedua orang tuanya tidak sempat menyelesaikan pendidikan dasar, mereka memiliki harapan besar terhadap Dian.

“Bapak dan Mimi selalu mendorong saya untuk bisa bekerja dengan menggunakan ‘otak’ bukan ‘otot’. Mereka tidak ingin saya merasakan lelahnya bekerja dengan otot seperti yang mereka alami,” kenang Dian.

Pesan tersebut membuatnya memahami bahwa pendidikan dan kemampuan berpikir adalah jalan untuk mengubah masa depan.

Sempat Bekerja Kasar di Jepang Selama Tiga Tahun

Ketertarikan Dian terhadap dunia teknologi sebenarnya sudah muncul sejak SMP. Ia gemar menulis puisi dan cerpen di blog pribadi, bahkan menggunakan ponsel sederhana untuk menuliskannya.

Dari situ, ia mulai mengenal HTML untuk mengatur tampilan blog. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tidak bisa mengambil jurusan Rekayasa Perangkat Lunak saat SMK karena tidak memiliki laptop. Akhirnya, ia masuk jurusan Teknik Mesin.

Setelah lulus, Dian mendapat kesempatan bekerja di Jepang sebagai trainee selama kurang lebih tiga tahun. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi titik refleksi besar dalam hidupnya.

“Di sana saya sempat bertanya pada diri sendiri, kenapa saya ada di sini? Dari situ saya sadar bahwa saya punya potensi yang harus dikembangkan,” ungkapnya.

Keputusan besar pun diambil. Ia memilih pulang ke Indonesia dan memulai kembali dari nol.

Memulai dari Nol dan Melanjutkan Studi ke Perguruan Tinggi

Setelah kembali ke Indonesia, Dian menghabiskan waktu untuk mengeksplorasi berbagai bidang, mulai dari digital marketing hingga desain grafis. Namun, ia akhirnya kembali pada satu hal yang membuatnya benar-benar tertarik, yaitu membangun website dengan kode.

Ketertarikan itu mendorongnya untuk belajar pemrograman secara mandiri. Ia pun sempat mengikuti salah satu program yang membekalinya dengan kemampuan pengembangan full-stack. Tak lama setelah itu, ia mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai full-stack developer di PT AMK.

Kariernya terus berkembang hingga ia kemudian berkarier sebagai full-stack developer di Talenta Indonesia Raya, sebuah biro psikologi yang berbasis di Jakarta. Selain berkarier secara purnawaktu, ia pun melanjutkan studi di Universitas Siber Muhammadiyah, program studi Sistem Informasi.

Mengasah Diri Lebih Jauh melalui Program Asah

Meski sudah bekerja sebagai developer, Dian merasa bahwa belajar tidak boleh berhenti. Ia kemudian bergabung dengan program Asah untuk memperkuat fondasi teknisnya, khususnya dalam bidang React dan back-end development.

Baginya, program ini bukan sekadar belajar ulang, tetapi juga proses kembali ke dasar untuk memperdalam pemahaman.

“Pengalaman belajar di Asah bagi saya satu kata: luar biasa,” ujarnya.

Dian menilai bahwa program Asah memiliki sistem pembelajaran yang terstruktur, didukung mentor yang responsif, serta materi yang relevan dengan kebutuhan industri. Tidak hanya itu, ia juga mendapatkan insight langsung dari para praktisi berpengalaman melalui sesi live. Hal ini membuat pembelajaran terasa lebih kontekstual dan aplikatif.

Menyeimbangkan Waktu di Tengah Kesibukan

Mengikuti program Asah bukanlah hal yang mudah bagi Dian. Saat itu, ia harus membagi waktu antara pekerjaan penuh waktu, kuliah, dan proses belajar dalam program tersebut. Tantangan tersebut semakin besar ketika ia harus menjalani operasi amandel dengan masa pemulihan yang cukup panjang.

Namun, ia tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Dian menerapkan prinsip growth mindset dengan memecah masalah menjadi bagian-bagian kecil dan menentukan prioritas setiap aktivitas. Ia bahkan memiliki jadwal harian untuk memastikan semua tanggung jawabnya tetap berjalan.

“Progres tetaplah progres, sekecil apa pun itu,” ungkap Dian, menjelaskan prinsip yang selalu ia pegang.

Dampak Nyata Asah dalam Karier Profesional Dian

Setelah menyelesaikan program Asah, Dian merasakan perubahan signifikan, baik dari sisi teknis maupun soft skills. Ia menjadi lebih percaya diri saat menyampaikan ide, lebih terstruktur dalam berpikir, dan lebih matang dalam mengembangkan sistem.

Dalam pekerjaannya sebagai full-stack developer, ia mulai menerapkan berbagai teknologi yang dipelajari, seperti Redis dan RabbitMQ untuk meningkatkan performa sistem. Hasilnya, sistem yang ia kembangkan menjadi lebih efisien, scalable, dan sesuai dengan standar industri.

Tak hanya itu, peningkatan kemampuan tersebut juga membuka peluang baru dalam kariernya, termasuk kesempatan kerja yang lebih luas. Keberhasilan yang diraihnya ini membuatnya percaya bahwa setiap orang memiliki potensi yang sama untuk sukses, terlepas dari latar belakangnya.

Done is better than perfect. Yang penting terus bergerak maju, sekecil apa pun langkahnya,” tutupnya.

Kini, Dian telah berhasil mewujudkan harapan kedua orang tuanya yang seumur hidup bekerja dengan “otot.” Mereka berharap putranya dapat menjadi profesional yang berkarier dengan mengedepankan kemampuan berpikir.

Harapan terdekatnya adalah dapat kembali ke negeri Sakura berbekal sertifikat kemampuan bahasa Jepang setingkat N2 yang telah dikantonginya, pengalaman kerja, serta ijazah S1. Dian percaya bahwa ia dapat meraihnya.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.