OWASP (Open Web Application Security Project) Top 10 terbaru merangkum risiko aplikasi paling kritis yang harus dipahami developer dan security engineer.
Artikel ini menjelaskan tiap kategori dengan contoh serangan, teknik deteksi, langkah mitigasi, rekomendasi alat, dan ceklis implementasi untuk menurunkan risiko produksi secara sistematis.
Mengapa Risiko Aplikasi Web Harus Jadi Prioritas
Aplikasi web hari ini bukan hanya halaman HTML sederhana. Di dalamnya ada front-end pada browser, back-end pada server, API yang berbicara dengan layanan lain, sampai third-party services seperti payment gateway dan analytics. Setiap komponen ini membuka permukaan serangan baru jika tidak dilindungi dengan baik.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangKetika satu celah terbuka, dampaknya bisa berantai. Data breach berarti kebocoran data pelanggan, hilangnya kepercayaan, dan potensi denda regulasi seperti GDPR atau standar industri seperti PCI DSS.
Biaya pemulihan sering kali jauh lebih besar dari biaya pencegahan karena mencakup incident response, forensik, kompensasi pengguna, dan kerusakan reputasi jangka panjang.

Beberapa laporan industri menunjukkan biaya rata-rata data breach global mencapai jutaan dolar per insiden. Insiden besar di e-commerce, layanan keuangan, atau media sosial juga sering berawal dari kelemahan aplikasi web yang tampak “sepele”.
Angka-angka ini memberi konteks bahwa risiko aplikasi web bukan masalah teknis semata, tetapi risiko bisnis yang nyata.
Supaya fokus, tim keamanan perlu pendekatan risk-based prioritization. Kombinasikan faktor likelihood (seberapa mungkin serangan terjadi) dan impact (seberapa parah dampaknya), lalu kalikan dengan nilai aset yang dilindungi, misalnya data kartu kredit atau modul pembayaran.
Dari sini kamu bisa menyusun risk register sederhana: daftar risiko, skor, pemilik risiko, dan rencana mitigasi.
Berbagai stakeholder punya peran berbeda. Developer bertanggung jawab menerapkan secure coding, security engineer mendesain kontrol dan melakukan testing, product owner menyeimbangkan fitur dan risiko, sementara manajemen memastikan anggaran serta prioritas. Tanpa kolaborasi ini, kebijakan keamanan akan berhenti pada dokumen, bukan kode.
Sebagai langkah awal, identifikasi dulu aset paling kritis pada aplikasi web kamu, seperti modul login, pembayaran, dan API publik. Lakukan threat modeling ringan: siapa penyerangnya, apa motivasinya, dan jalur serangan paling mungkin.
Dari situ, tetapkan target mitigasi jangka pendek yang realistis, lalu gunakan OWASP Top 10 2023 dalam bab berikutnya sebagai panduan struktur untuk menyusun prioritas perbaikan.
Memahami Daftar Owasp Top 10 2023 Secara Ringkas
Daftar OWASP Top 10 2023 berisi Broken Access Control, Cryptographic Failures, Injection, Insecure Design, Security Misconfiguration, Vulnerable and Outdated Components, Identification and Authentication Failures, Software and Data Integrity Failures, Security Logging and Monitoring Failures, dan Server-Side Request Forgery (SSRF). Setiap kategori mewakili pola kesalahan umum yang berulang di banyak aplikasi.

Broken Access Control
Broken Access Control terjadi saat pengguna bisa mengakses data atau fungsi yang seharusnya dilarang. Misalnya, penyerang mengubah ID di URL dan kemudian dapat melihat data pengguna lain. Selain itu, penyebab umum adalah authorization hanya di sisi front-end atau logika izin yang tersebar. Akibatnya, bisa terjadi kebocoran data masif dan eskalasi hak akses; karena itu, isu ini biasanya dipetakan ke CWE-284 dan kontrol ASVS V4.0 section 4 (Access Control). Dengan demikian, prioritas mitigasi: tinggi. Indikator awalnya antara lain banyak respons 403 dan akses anomali pada log.
Cryptographic Failures
Cryptographic Failures muncul saat data sensitif tidak dienkripsi dengan benar. Contohnya, menyimpan kata sandi dengan MD5 atau mengirim nomor kartu kredit tanpa TLS. Umumnya, penyebabnya adalah salah pilih algoritma, salah konfigurasi TLS, atau kunci kriptografi yang bocor. Akibatnya, terjadi pencurian kredensial dan penyadapan; sehingga terkait dengan CWE-327, CWE-522, dan kontrol ASVS 7 (Cryptography). Oleh karena itu, prioritas mitigasi: tinggi. Untuk deteksi dini, pantau sertifikat kedaluwarsa, protokol lemah, dan temuan dari SSL/TLS scanner.
Injection
Injection terjadi saat input pengguna dieksekusi sebagai perintah, misalnya SQL injection atau OS command injection. Sebagai contoh, parameter pencarian digabung langsung ke query tanpa parameterized query. Biasanya, penyebabnya adalah kurangnya validasi input dan tidak memakai prepared statement. Akibatnya, dampaknya bisa pencurian data, perubahan data, sampai pengambilalihan server; maka dari itu, ini terkait CWE-89 dan kontrol ASVS 5 (Validation, Sanitization and Encoding). Karena risikonya tinggi, prioritas mitigasi: tinggi. Sementara itu, deteksi awal dapat dilakukan melalui WAF, pola error database, dan hasil DAST.
Insecure Design
Insecure Design berfokus pada desain sistem yang sejak awal tidak mempertimbangkan keamanan. Misalnya, fitur transfer saldo tanpa batas harian atau tanpa rate limiting. Pada umumnya, penyebabnya adalah tidak adanya threat modeling dan security requirements dalam fase desain. Akibatnya, tim menghadapi risiko struktural yang sulit diperbaiki di akhir; sehingga dipetakan ke banyak CWE-701 tingkat arsitektur dan kontrol ASVS 1 (Architecture, Design and Threat Modeling). Oleh sebab itu, prioritas mitigasi: tinggi. Indikator awalnya adalah tidak adanya artefak desain keamanan dan abuse case.
Security Misconfiguration
Security Misconfiguration muncul saat konfigurasi default dibiarkan, debug mode aktif di produksi, atau izin terlalu longgar. Contohnya, penyerang dapat mengakses admin console yang tidak diproteksi atau menemukan direktori terbuka. Biasanya, penyebabnya adalah kurangnya hardening dan configuration management. Akibatnya, hal ini membuka pintu ke banyak serangan lain; karena itu, terkait CWE-16 dan kontrol ASVS 19 (Configuration). Dengan demikian, prioritas mitigasi: tinggi. Untuk pemantauan, cek baseline konfigurasi, lakukan scan port terbuka, dan identifikasi layanan yang tidak dikenal.
Vulnerable and Outdated Components
Vulnerable and Outdated Components terjadi saat aplikasi memakai library dengan known vulnerabilities. Misalnya, ada eksploitasi CVE publik pada versi framework lama. Umumnya, penyebabnya adalah tidak adanya dependency management dan tidak memantau security advisory. Akibatnya, dampaknya bisa remote code execution atau kebocoran data; sehingga terkait dengan CWE-1104 dan kontrol ASVS 14 (Dependency). Oleh karena itu, prioritas mitigasi: tinggi. Indikator awal biasanya berasal dari Software Composition Analysis (SCA) dan daftar CVE yang belum ditambal.
Identification and Authentication Failures
Identification and Authentication Failures menyangkut cara aplikasi mengelola login, sesi, dan identitas. Contohnya, credential stuffing terjadi karena tidak ada rate limit, atau sesi tidak kedaluwarsa setelah logout. Biasanya, penyebabnya adalah desain sesi yang lemah, password policy buruk, dan tidak ada MFA. Akibatnya, terjadi pengambilalihan akun; maka dari itu, berkaitan dengan CWE-287 dan kontrol ASVS 2 (Authentication). Dengan demikian, prioritas mitigasi: tinggi. Untuk deteksi dini, pantau percobaan login gagal, pola IP mencurigakan, dan keluhan pengguna terkait akun yang diambil alih.
Software and Data Integrity Failures
Software and Data Integrity Failures terjadi saat aplikasi tidak memverifikasi integritas update, plugin, atau data penting. Misalnya, terjadi supply chain attack melalui paket npm berbahaya yang disisipkan di build pipeline. Umumnya, penyebabnya adalah kurangnya code signing, verifikasi checksum, dan kontrol pada proses CI/CD. Akibatnya, penyerang dapat menyisipkan backdoor ke seluruh pengguna; sehingga terkait CWE-353 serta kontrol ASVS 8 (Data Protection) dan 14 (Dependency). Oleh karena itu, prioritas mitigasi: tinggi. Indikator awalnya berupa perubahan artefak build yang tidak terjelaskan dan hash yang tidak cocok.
Security Logging and Monitoring Failures
Security Logging and Monitoring Failures membuat insiden tidak terdeteksi atau terlambat diketahui. Misalnya, penyerang mencoba ribuan kombinasi login, namun aktivitasnya tidak tercatat dengan baik. Biasanya, penyebabnya adalah logging yang minim, tidak terstruktur, atau tidak terintegrasi ke SIEM. Akibatnya, waktu deteksi dan respons menjadi lebih panjang; karena itu, terkait CWE-778 dan kontrol ASVS 10 (Logging). Dengan demikian, prioritas mitigasi: sedang–tinggi. Untuk pemantauan, evaluasi kelengkapan log, korelasi peristiwa, dan alert yang tidak pernah berbunyi.
Server-Side Request Forgery (SSRF)
SSRF memungkinkan penyerang membuat server memanggil URL yang mereka kontrol. Contohnya, fitur URL preview diarahkan ke metadata server cloud internal. Umumnya, penyebabnya adalah kurangnya validasi tujuan permintaan dan tidak adanya pemisahan jaringan. Akibatnya, penyerang dapat mengakses layanan internal atau cloud metadata; sehingga terkait CWE-918 dan beberapa kontrol ASVS 9 (Communications). Oleh sebab itu, prioritas mitigasi: sedang–tinggi. Indikator awalnya adalah permintaan keluar ke domain aneh dan akses ke alamat internal yang tidak biasa.
Teknik Deteksi dan Penetration Testing Praktis

Untuk mulai menguji risiko OWASP Top 10, pastikan ada test environment terpisah dari produksi. Gunakan data uji yang mirip produksi, tetapi sudah dianonimkan. Lengkapi dengan scope tertulis, persetujuan penetration testing, dan aturan seperti jam pengujian serta batasan denial of service.
Setelah itu, lakukan threat modeling singkat. Petakan fitur kritis, alur autentikasi, dan titik integrasi eksternal. Dari sini, kamu bisa menentukan test case prioritas untuk kategori, seperti authentication, access control, dan injection.
Gabungkan beberapa teknik deteksi: SAST pada pipeline untuk memindai kode, DAST untuk aplikasi yang sudah berjalan, IAST bila ingin konteks runtime yang lebih kaya, dan SCA untuk memeriksa dependency. OWASP ZAP cocok sebagai DAST dasar, sementara banyak proyek memakai Semgrep atau CodeQL untuk SAST, dan Dependency-Check atau Trivy untuk SCA.
Pentest manual tetap penting. Uji parameter input dengan variasi payload, seperti karakter khusus, pola SQL, dan manipulasi JWT, tapi tanpa mengeksploitasi sampai merusak data. Catat permintaan yang mencurigakan, simpan request/response untuk replay, dan gunakan logging aplikasi sebagai bukti tambahan.
Untuk mengurangi false positive, selalu lakukan verifikasi ulang dengan skenario nyata pengguna dan uji ulang setelah perbaikan. Pantau metrik, seperti jumlah temuan per rilis, waktu rata-rata perbaikan, dan isu berulang; angka ini akan sangat berguna ketika kamu mulai menerapkan praktik secure coding dan DevSecOps dalam bab berikutnya.
Strategi Mitigasi, Secure Coding dan DevSecOps

Hasil pentest dan scanning hanya berguna jika diikuti mitigasi yang konsisten di seluruh lifecycle. Mulai dari prinsip secure coding: lakukan input validation ketat, output encoding untuk mencegah XSS, terapkan least privilege pada akun aplikasi, dan pastikan error handling tidak membocorkan detail sistem.
Untuk risiko otentikasi dan otorisasi dalam OWASP Top 10, gunakan alur auth yang jelas, token-based seperti OAuth2/OIDC, dan selalu cek otorisasi pada layer back-end.
Pada level arsitektur, terapkan API gateway dengan rate limiting, WAF, serta normalisasi header dan payload. Pisahkan layanan yang mengelola data sensitif, log akses dengan baik, dan aktifkan security control, seperti mTLS di jalur antar layanan penting.
Integrasikan ke workflow harian: pre-commit hooks untuk secret scanning, pull request checks wajib lulus SAST/linting, dan gunakan code review checklist yang memuat poin validasi otorisasi, sanitasi input, serta perlindungan data.
Untuk dependency dan supply chain security, aktifkan SCA pada CI/CD, lakukan version pinning, dan batasi third-party libraries hanya dari sumber tepercaya. Terapkan kebijakan allowlist paket, rutin meninjau security advisory, dan gunakan artifact repository internal.
Dalam praktik DevSecOps, lakukan shift-left testing, otomatisasi fix sederhana seperti dependency upgrade, dan jadwalkan training keamanan berkala untuk tim.
Rencananya, mulai dengan pilot di satu tim: aktifkan scanning, perketat review, ukur metrik seperti jumlah temuan dan waktu perbaikan.
Setelah pola kerja stabil, lakukan rollout bertahap ke tim lain, sambil memantau dashboard keamanan dan mengumpulkan umpan balik untuk menyederhanakan alat ataupun proses, yang nanti akan terhubung dengan pembahasan alat otomatis dalam bab berikutnya.
Alat Populer dan Automasi Keamanan Aplikasi
Alat keamanan aplikasi umumnya terbagi menjadi beberapa kategori: SAST untuk analisis kode statis, DAST untuk pengujian dari sisi luar aplikasi yang sudah jalan, SCA untuk memindai library pihak ketiga, IAST yang memantau saat aplikasi diuji, serta runtime protection, seperti RASP dan WAF.
Di atasnya, ada orchestration dalam pipeline CI/CD yang mengatur waktu dan cara tiap alat dijalankan.
Contoh yang banyak dipakai: OWASP ZAP dan Burp Suite untuk DAST, Semgrep, GitHub CodeQL, serta SonarQube untuk SAST, lalu Snyk, Dependabot, dan OWASP Dependency-Check untuk SCA.
Umumnya, alat open source unggul dalam fleksibilitas dan biaya, tetapi butuh lebih banyak tuning; alat komersial biasanya punya dukungan lebih baik, integrasi luas, serta dashboard yang rapi.
Saat memilih, fokus pada coverage jenis vulnerability yang relevan dengan OWASP Top 10, tingkat false positive, kemudahan integrasi ke CI/CD, biaya operasional (waktu scan, sumber daya build), serta skema licensing per user, per repo, atau per scan.
Alur praktis dalam pipeline misalnya: build → SAST dan SCA pada tahap awal → unit/integration test → DAST di lingkungan staging → deploy jika risiko di bawah ambang batas yang disepakati.
Untuk automasi remediation, gunakan format laporan standar, seperti SARIF agar hasil scan bisa dikirim ke sistem ticketing (misalnya Jira atau GitHub Issues) secara otomatis, lalu kelompokan berdasarkan komponen dan tingkat kritikal.
Prioritaskan temuan dengan kombinasi severity, kemudahan eksploitasi, dan kedekatan dengan aset penting bisnis. Pantau metrik, seperti lead time to fix, jumlah temuan terbuka per tim, dan tren per layanan; metrik ini akan menjadi jembatan ke ceklis dan contoh kasus serangan dalam bagian berikutnya.
Ceklis Implementasi dan Contoh Kasus Serangan

Ceklis pra-rilis yang praktis bisa kamu jadikan gate sebelum deploy. Minimal berisi: security review oleh engineer yang bukan penulis kode, semua automated scan lulus tanpa blocking issue, dependency scan bersih dari known critical CVE, secrets check memastikan tidak ada API key pada repo, config review untuk environment produksi, lalu approval gate formal dari security atau tech lead.
Setelah rilis atau saat insiden, gunakan ceklis respons. Mulai dari triage cepat: hal yang terdampak, pengguna, dan periksa jika serangan masih aktif.
Lanjutkan dengan severity assessment, eksekusi langkah mitigasi awal (rate limiting, feature toggle, atau rollback), komunikasi ke pemangku kepentingan, penyusunan patch plan, lalu post-mortem terstruktur yang fokus pada akar masalah dan perbaikan proses.
Bayangkan serangan credential stuffing yang mengeksploitasi kelemahan rate limiting dan tidak adanya multi-factor authentication. Alert dari WAF memicu triage, tim segera mengaktifkan IP blocking sementara, menaikkan rate limit, dan memaksa password reset untuk akun berisiko.
Setelah itu, tim menambah MFA, anomaly detection login, dan memasukkan skenario ini dalam latihan incident response.
Template playbook sederhana membantu siapa melakukan apa. Misalnya: incident commander memimpin keputusan, app engineer fokus pada rollback dan hotfix, security engineer mengerjakan forensik dan log, communications owner mengurus pesan ke manajemen dan pelanggan.
Tetapkan SLA per kategori, misalnya critical harus terdeteksi < 5 menit dan mitigasi awal < 30 menit, dengan aturan waktu insiden harus dieskalasi ke manajemen dan tim legal.
Untuk memantau efektivitas ceklis, bangun dashboard keamanan. Metrik penting antara lain jumlah vulnerability terbuka per kategori OWASP, MTTD dan MTTR insiden, rasio build yang gagal karena security gate, serta tren kepatuhan ceklis pra-rilis.
Dengan begitu, kamu bisa melihat jika perbaikan benar-benar menurunkan risiko, bukan hanya menambah dokumen proses.
Penutup
Mengikuti OWASP Top 10 terbaru membantu tim menentukan prioritas perbaikan dan mengadopsi praktik secure development. Dengan ceklis, alat, dan studi kasus yang disediakan, pembaca mendapat panduan praktis untuk mengurangi risiko secara terukur.
Terapkan mitigasi berlapis, otomatisasi scanning pada pipeline, dan pantau metrik keamanan untuk perbaikan berkelanjutan.
