n8n vs Zapier vs Make 2026: Mana Platform Automation yang Paling Worth It?

n8n vs Zapier vs Make adalah perbandingan tiga platform automation populer yang sering dipertimbangkan perusahaan saat memilih alat integrasi dan workflow

Artikel ini akan membahas fitur utama, kemudahan penggunaan, model lisensi, performa, dan total cost of ownership pada tahun 2026, serta panduan praktis untuk memilih yang paling worth it sesuai dengan skala tim dan kebutuhan teknis.

Mengapa Workflow Automation Penting untuk Startup dan Small Medium Business

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Workflow automation adalah otomatisasi alur kerja lintas aplikasi, misalnya menghubungkan form, CRM, email, dan billing tanpa input manual. Dengan begitu, manfaat utamanya adalah efisiensi waktu, konsistensi proses, dan pengurangan error manusia pada tugas berulang.

Sebagai contoh di marketing: setiap lead dari iklan masuk ke form, lalu otomatis di-route ke sales rep yang tepat. Setelah itu, sistem membuat deal di CRM dan mengirim follow-up email yang lebih personal. Alhasil, respons jadi lebih cepat dan pipeline lebih rapi.

Sementara itu, di finance, invoice bisa terbit otomatis dari sistem subscription. Kemudian, invoice terkirim ke pelanggan dan tercatat di software akuntansi. Karena itu, tim finance tidak perlu input ulang dan risiko salah catat menurun.

Selain itu, untuk operasi, data pelanggan di CRM bisa disinkronkan ke ERP. Dengan demikian, stok, pengiriman, dan support melihat data yang sama. Akibatnya, koordinasi antartim lebih lancar dan komplain karena data berbeda-beda berkurang.

Sebaliknya, tanpa automation, data mudah tercecer di banyak tools sehingga muncul data silo. Akibatnya, proses penting seperti follow-up lead atau penagihan sering terlambat karena menunggu input manual. Lebih jauh lagi, tim menghabiskan waktu untuk copy-paste data, sehingga risiko duplikasi dan salah kirim meningkat.

Untuk gambaran ROI kasar, misalnya automation marketing menghemat 2 jam per hari bagi 2 orang. Artinya, kamu menghemat sekitar 80 jam per bulan. Jika tarif efektif Rp100.000 per jam, maka penghematan waktunya setara Rp8 juta per bulan, yang sering kali lebih tinggi daripada biaya tool.

Selain itu, ROI bisa makin besar jika conversion naik 10–20% karena respons lebih cepat. Di saat yang sama, error billing bisa turun sehingga arus kas lebih lancar.

Pada praktiknya, organisasi mulai butuh automation tool saat tim melewati 3–5 orang dan volume transaksi harian meningkat. Terlebih lagi, ketika integrasi antar aplikasi makin rumit, kebutuhan automation biasanya jadi mendesak.

Misalnya, startup yang memproses ratusan lead per minggu atau ratusan invoice per bulan sering membutuhkan automasi lebih serius. Bahkan, jika ada regulasi data yang ketat, opsi self-hosted bisa lebih relevan.

Karena itu, memilih antara n8n, Zapier, atau Make sering menjadi keputusan strategis. Dengan kata lain, ini bukan sekadar soal fitur menarik di permukaan, tetapi soal biaya, risiko, dan kesiapan operasional jangka panjang.

Kriteria Memilih Automation Platform Berdasarkan Kebutuhan

Sebelum memilih antara n8n, Zapier, atau Make, susun dulu kriteria yang jelas. Dari sisi fungsionalitas, cek jumlah konektor resmi, dukungan webhook dan API, serta apakah ada custom code node, seperti Function di n8n atau Code by Zapier. Untuk kasus kompleks, pastikan ada dukungan loop, branching, dan error handling pada level node.

Untuk usability, uji langsung visual editor: mudah atau tidaknya membaca alur, melakukan debug, dan me-reuse workflow. Perhatikan learning curve, kualitas dokumentasi resmi, dan seberapa aktif komunitas (forum, Discord, GitHub). Ini akan sangat berpengaruh pada kecepatan tim belajar dan mengatasi error.

Dari sisi keandalan, cek jika platform punya SLA jelas, retry policy yang bisa dikonfigurasi, dan fitur observabilitas, seperti execution log, metrics, serta notifikasi gagal. Untuk keamanan, lihat dukungan enkripsi data in transit dan at rest, role-based access control, audit trail, serta opsi data residency jika kamu pegang data sensitif.

Terakhir, tentukan kebutuhan deployment: cukupkah dengan cloud managed atau perlu self-hosted menggunakan Docker dan dukungan horizontal scaling. Hitung biaya total, bukan hanya harga per task atau operation, tetapi juga biaya maintenance, observability tambahan, dan potensi biaya transfer data antar layanan.

Untuk mempermudah, buat ceklis sederhana seperti ini, lalu isi untuk n8n, Zapier, dan Make.

Prioritas:
– Must-have: <contoh: self-hosted, RBAC, retry otomatis>
– Nice-to-have: <contoh: template siap pakai, AI helper>
– Optional: <contoh: konektor ke tool yang jarang dipakai>

 

Menguji n8n vs. Zapier vs. Make secara Praktis

Setelah kriteria di tangan, langkah berikutnya adalah menguji n8n, Zapier, dan Make dengan skenario yang sama. Siapkan tiga environment: akun cloud Zapier, akun Make, dan n8n (bisa cloud atau self-hosted pada server kecil). Buat satu dokumen test plan bersama yang memuat skenario, metrik, dan cara pencatatan hasil.

Gunakan alur identik: webhook masuk → transformasi data → create record di CRM → kirim notifikasi. Dalam setiap platform, ukur waktu pembuatan workflow, banyaknya klik/konfigurasi, dan perlukah kamu custom code. Catat juga kebutuhan teknis, seperti pengaturan API key, pagination, dan rate limiting pada setiap langkah.

Saat menjalankan uji, ukur waktu eksekusi end-to-end dan, jika mungkin, rata-rata latency per node dari log masing-masing platform. Perhatikan cara setiap tool menampilkan log, memudahkan rerun job, dan memberi konteks saat sebuah node gagal. Di sinilah perbedaan kualitas debugging experience akan terasa sangat nyata.

Terakhir, dokumentasikan semuanya secara rapi: ambil screenshot editor, simpan atau export workflow, dan buat ceklis pelajaran untuk tim. Dengan dokumentasi ini, kamu bisa menghubungkan hasil teknis uji coba dengan analisis biaya lisensi dan model deployment dalam bab berikutnya sehingga keputusan tidak hanya berbasis rasa nyaman, tetapi juga data konkret.

Perbandingan Biaya Lisensi dan Model Deploy untuk 2026

Gambaran pola harga 2026: mirip, tetapi titik biayanya berbeda

Untuk 2026, pola harga ketiganya relatif mirip. Zapier dan Make umumnya berbasis subscription per akun, lalu dibatasi oleh jumlah task/operation. Sebaliknya, n8n menawarkan opsi cloud dan self-hosted, sehingga struktur biayanya lebih fleksibel.

Selain itu, hampir selalu ada beberapa tier. Biasanya ada paket starter untuk eksekusi rendah, paket profesional untuk tim kecil, dan paket enterprise. Pada tier enterprise, fitur seperti SLA, SSO, dan kontrol keamanan tambahan lebih umum tersedia.

n8n self-hosted: lisensi bisa murah, tetapi ada biaya infrastruktur

Untuk n8n self-hosted, biaya lisensi bisa rendah atau bahkan nol jika memakai Community Edition. Namun demikian, kamu tetap menanggung biaya server dan maintenance. Jadi, “murah” di lisensi sering bergeser menjadi “biaya operasional” di sisi infrastruktur.

Di sisi lain, n8n juga punya model fair-code. Artinya, source-available dan terbuka untuk banyak skenario. Akan tetapi, ada batasan untuk penggunaan komersial tertentu, terutama jika kamu berniat menjual ulang layanan berbasis n8n sebagai produk.

Ilustrasi TCO 1 tahun: rendah vs menengah (angka kasar)

Sebagai ilustrasi kasar untuk TCO 1 tahun, bedakan dulu skenario volumenya.

Skenario rendah (±5.000–10.000 runs/bulan)
Biasanya cukup dengan paket menengah Zapier/Make. Kisaran biayanya sering berada di beberapa ratus ribu hingga sekitar 2–3 juta rupiah per bulan. Sementara itu, n8n cloud paket kecil ditambah server kecil untuk self-hosted bisa berada di level serupa, atau sedikit lebih murah, tergantung kebutuhan workflow dan konektornya.

Skenario menengah (±50.000 runs/bulan)
Pada volume ini, Zapier/Make sering memaksa naik tier. Akibatnya, TCO 1 tahun bisa masuk belasan hingga puluhan juta rupiah. Sebaliknya, n8n self-hosted dalam satu VM “menengah” kadang hanya butuh biaya server sekitar 400–800 ribu per bulan. Namun, kamu perlu menambahkan biaya waktu DevOps agar perbandingannya adil.

Proyeksi 3 tahun: biaya langganan menumpuk, infra cenderung stabil

Untuk horizon 3 tahun, selisih biasanya makin terasa. Sebab, biaya subscription Zapier/Make akan terus berulang dan cenderung naik saat volume meningkat. Sebaliknya, biaya desain awal dan infrastruktur n8n self-hosted sering lebih stabil.

Meski begitu, stabilitas ini berlaku selama volume tidak melonjak drastis. Jika beban naik tajam, kamu tetap akan membayar scaling: CPU/RAM lebih besar, database lebih kuat, dan observability yang lebih matang.

Lisensi & “boleh dipakai untuk apa”: internal vs resale

Dari sisi lisensi, Zapier dan Make bersifat proprietary. Karena itu, keduanya sangat nyaman untuk penggunaan internal. Namun, kamu tidak bisa “mengemas ulang” layanan mereka sebagai bagian dari produk yang kamu jual ke klien tanpa perjanjian khusus.

Sementara itu, n8n fair-code memungkinkan banyak penggunaan internal secara aman. Akan tetapi, untuk skenario resale atau SaaS berbasis n8n, kamu perlu cek batasan lisensinya secara spesifik. Dengan kata lain, ketiganya aman untuk automasi internal selama patuh terms of service, kuota, dan pembatasan API.

Biaya tidak langsung: sering lebih besar daripada harga paket

Di praktiknya, biaya tidak langsung sering lebih besar daripada yang terlihat di tabel harga. Misalnya, kamu perlu waktu untuk training tim, integrasi awal dengan sistem internal, serta penyiapan monitoring dan alerting. Selain itu, kamu juga butuh strategi backup dan disaster recovery.

Pada n8n self-hosted, ini berarti mengatur logging, snapshot database, dan rencana failover. Sementara itu, pada Zapier/Make, kamu tetap perlu memantau kuota, error webhook, serta rate limit dari pihak ketiga. Jadi, “managed” tidak berarti “tanpa operasional”.

Cara menekan biaya: batching, scheduling, dan strategi hybrid

Untuk menekan biaya, kamu bisa melakukan batching jobs. Artinya, gabungkan banyak operasi kecil menjadi satu run terjadwal. Selain itu, atur scheduling agar tidak menembak API terlalu sering, sehingga task/operation tidak cepat habis dan risiko rate limit berkurang.

Lebih jauh lagi, banyak tim memilih strategi hybrid. Caranya, pindahkan workload volume tinggi ke n8n self-hosted, tetapi tetap pakai Zapier/Make untuk automasi ringan yang butuh time-to-market cepat. Dengan pendekatan ini, kamu bisa mulai dari cloud untuk uji coba, lalu memindahkan workflow yang stabil dan berat secara bertahap. Akhirnya, kamu bisa menghindari commit penuh terlalu cepat, tetapi tetap mengoptimalkan biaya untuk 3 tahun ke depan.

Studi Kasus Automasi Marketing dan Finance dengan Tools Serupa

Untuk marketing funnel, pola umumnya: form lead (misalnya dari Webflow atau Typeform) → data enrichmentlead scoring → notifikasi ke tim sales. Dalam Zapier, kamu bisa pakai templat Zap siap pakai, lalu tambah step ke Clearbit untuk enrichment dan Filter untuk scoring sederhana sehingga setup bisa selesai dalam 1–2 jam. 

Pada Make, scenario lebih fleksibel untuk branching kompleks dan batch processing, cocok jika volume lead tinggi dan scoring butuh banyak kondisi. Pada n8n, kamu bisa taruh custom logic di Function node dan host dekat database CRM internal sehingga latency rendah dan kontrol data lebih ketat.

Contoh lead scoring sederhana pada n8n Function node.


Logika serupa pada Zapier atau Make biasanya butuh beberapa step, sedangkan dalam n8n bisa diringkas jadi satu node dan lebih mudah di-review oleh tim teknis.

Untuk finance, alurnya: invoice generationapproval workflow → posting ke sistem akuntansi. Pada Zapier, integrasi ke Xero, QuickBooks Online, atau Stripe sangat matang, cocok untuk SaaS atau bisnis yang full cloud, tapi kontrol audit trail dan IP allowlist terbatas ke fitur bawaan platform. 

Make unggul untuk orkestrasi multi-sistem, misalnya invoice dibuat di ERP cloud, lalu dikirim ke Slack untuk approval, dan hanya yang berstatus approved yang diteruskan ke modul accounting

n8n lebih kuat ketika kamu perlu integrasi dengan sistem on-premise melalui VPN atau private network karena bisa di-self-host dan disesuaikan dengan kebijakan keamanan internal.

Dalam dua studi kasus ini, pola outcome biasanya konsisten: tim marketing menghemat beberapa jam per hari untuk data cleaning dan follow-up manual, sedangkan tim finance melihat penurunan error input dan duplikasi invoice

Zapier sering menang pada kecepatan rollout untuk tim kecil, Make unggul dalam orkestrasi kompleks dengan banyak cabang, dan n8n unggul di kontrol, compliance, serta integrasi ke sistem tertutup. 

Sebelum go-live, pastikan ceklis seperti ini terpenuhi: semua edge case diuji, logging dan alert diaktifkan, rollback plan disiapkan, serta tim operasional sudah coba skenario nyata selama beberapa hari di lingkungan staging.

Rekomendasi Pilihan Berdasarkan Skala Tim dan Kriteria

Untuk pilihan tool automasi (Zapier, Make, n8n), sesuaikan dengan ukuran tim, kemampuan teknis, dan kebutuhan kontrol data. Selain itu, lakukan POC terukur 2–4 minggu sebelum rollout besar.

Developer tunggal / freelancer: cepat jalan & minim setup

Untuk developer tunggal atau freelancer, prioritasnya biasanya biaya dan speed to market. Karena itu, Zapier sering paling praktis saat kamu butuh cepat dan setup minimal. Apalagi, klien biasanya sudah memakai banyak SaaS populer.

Namun, jika kamu lebih teknis, n8n bisa lebih menarik. Tool ini memberi fleksibilitas tinggi dan opsi self-hosted yang lebih murah. Dengan begitu, kamu bisa menekan biaya saat automasi mulai bertambah.

Small team (1–10): eksperimen cepat & handover mudah

Untuk small team, fokusnya biasanya cost, kecepatan eksperimen, dan kemudahan handover. Karena itu, Make cocok jika tim butuh banyak skenario visual dengan harga yang relatif efisien.

Sementara itu, Zapier pas untuk tim non-teknis yang ingin “langsung jalan”. Di sisi lain, n8n cocok bila ada developer yang siap menjaga infrastruktur. Jadi, pilihan terbaiknya sangat bergantung pada kapasitas teknis internal.

Growing SMB (10–100): skala, kontrol data, governance

Saat masuk fase SMB yang bertumbuh, prioritas bergeser. Biasanya yang paling penting adalah scalability, kontrol data, dan governance. Oleh sebab itu, n8n self-hosted sering lebih ekonomis dalam jangka panjang, terutama jika volume dan kompleksitas integrasi meningkat.

Meski begitu, Make bisa menjadi jembatan yang baik. Terutama jika kamu butuh visual builder yang kuat, tetapi belum siap membangun tim DevOps penuh. Dengan pendekatan ini, kamu tetap bisa bergerak cepat tanpa mengorbankan struktur.

Enterprise: compliance, security, dan kontrol maksimal

Untuk enterprise, kontrol, compliance, dan security jadi prioritas utama. Karena itu, n8n self-hosted atau enterprise plan relevan jika kamu perlu on-premise, audit log detail, dan integrasi SSO.

Namun, Zapier atau Make masih bisa dipakai sebagai satellite tooling untuk tim tertentu. Akan tetapi, pastikan penggunaannya sesuai kebijakan TI dan standar keamanan internal. Dengan kata lain, toolnya boleh berbeda, tetapi governancenya harus konsisten.

Langkah awal: POC 2–4 minggu yang terukur

Langkah awal yang aman adalah proof of concept selama 2–4 minggu. Pertama, pilih 1–3 alur yang paling bernilai. Misalnya, lead routing atau invoice sync.

Lalu, tetapkan KPI yang jelas. Contohnya: waktu yang dihemat per minggu, error rate, dan estimasi penghematan biaya lisensi atau tenaga. Dengan begitu, keputusan setelah POC jadi berbasis data, bukan intuisi.

Keputusan setelah POC: scale atau pivot

Setelah POC, kamu perlu memilih: scale atau pivot. Scale jika KPI tercapai, maintenance bisa diprediksi, dan tim merasa nyaman memakainya.

Sebaliknya, pertimbangkan pivot ke tool lain bila biaya melonjak saat volume naik. Selain itu, pivot juga masuk akal jika fitur krusial tidak tersedia. Terakhir, jika vendor lock-in mulai terasa mengganggu, evaluasi ulang sejak dini.

Sebelum rollout luas: checklist operasional

Sebelum rollout luas, siapkan checklist operasional. Pertama, pastikan monitoring berjalan (log dan alert untuk failed runs). Kedua, lakukan backup workflow dan kredensial secara teratur.

Selain itu, tetapkan access control yang jelas. Kemudian, lakukan training singkat untuk pemilik proses bisnis. Terakhir, jadwalkan evaluasi 30/90/180 hari agar kamu bisa menilai stabilitas dan biaya riil.

Terakhir: pilih satu, uji, lalu dokumentasikan

Pada akhirnya, pilih satu platform terlebih dahulu. Setelah itu, lakukan uji coba terukur dan dokumentasikan hasilnya. Catat apa yang berhasil, apa yang menyulitkan, dan berapa biaya sebenarnya. Dengan demikian, keputusan jangka panjangmu lebih akurat dan value automasi bisa maksimal.

Penutup

Setelah membaca, pembaca akan mendapatkan kerangka keputusan praktis untuk memilih antara n8n, Zapier, atau Make berdasarkan kebutuhan teknis, budget, dan preferensi deployment. Dengan begitu, kamu bisa memilih yang paling worth it secara lebih objektif, bukan sekadar ikut tren.

Selain fitur, pertimbangkan juga biaya jangka panjang, skalabilitas, serta opsi self-hosted. Dengan kata lain, keputusan terbaik biasanya datang dari kombinasi kebutuhan hari ini dan rencana 12–36 bulan ke depan.

Karena itu, gunakan ceklis dan studi kasus di atas untuk uji coba sebelum benar-benar komitmen. Setelah uji coba, evaluasi hasilnya terhadap KPI agar keputusan akhirnya lebih aman dan mudah dipertanggungjawabkan.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.