Morton Heilig, Penemu Augmented Reality

Morton Heilig, Penemu Augmented Reality

Sejak zaman dulu, teknologi sudah menggerakkan kehidupan, terlebih setelah mesin diciptakan dan revolusi industri terjadi. Setelah itu, penemuan komputer juga menjadi poin penting, hingga saat ini bermunculan teknologi yang semakin canggih, salah satunya augmented reality

Mungkin kamu tidak sadar bahwa kecanggihan augmented reality sudah mulai banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kamu mencoba filter di Instagram atau TikTok. Contoh lain adalah ketika kamu tersesat dan ingin mencari jalan yang tepat melalui Google Maps.

Semua itu menggunakan teknologi yang menggabungkan konten digital dengan dunia nyata secara real-time dan disebut dengan augmented reality. Cikal bakalnya adalah mesin bernama Sensorama yang diciptakan tahun 1957 oleh Morton Heilig.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Maka dari itu, secara tidak langsung Morton Heilig pun dikenal sebagai penemu augmented reality. Selain itu, dia juga disebut sebagai bapak dari realitas virtual (virtual reality). Yuk, kita kenali Morton Heilig lebih dalam melalui artikel ini!

Sekilas tentang Morton Heilig

Morton Heilig, Penemu Augmented Reality

Morton Leonard Heilig adalah seorang sinematografer asal Amerika yang lahir pada tanggal 22 Desember 1926. Selama hidupnya, dia menempuh pendidikan di banyak tempat. Tahun 1943, dia mempelajari teknik dasar di Cornell University, lalu tahun 1944 belajar seni di University of Chicago.

Selanjutnya, Morton Heilig mengambil pendidikan seni lukis di Academie Julienne pada tahun 1947. Pada tahun itu pula, dia belajar filsafat di University of Geneva. 

Dia baru benar-benar mempelajari film secara khusus di Centro Experimental di Cinema, Italia, pada tahun 1948 sampai dengan 1950. Setelah itu, Morton Heilig juga mendapatkan gelar masternya dalam bidang ilmu komunikasi di University of Pennsylvania.

Sebagai seniman yang cerdas, Morton Heilig pernah mengajar juga di beberapa kampus, seperti University of Pennsylvania, Columbia University, University of Southern California, dan Cal State University.

Selama hidupnya, dia juga pernah memenangkan banyak penghargaan, beberapa di antaranya adalah hadiah pertama di International Documentary Film Festival, Auteurs Award di Cannes Film Festival, dan Golden Glove Award di Long Island International Film Festival.

Untuk lebih lengkapnya mengenai pengalaman hidup Morton Heilig, seperti daftar penghargaan, penelitian, organisasi, penemuan, dan paten atas namanya, bisa dilihat melalui situs berikut.

Sensorama, Awal Mula Augmented Reality

Sensorama, cikal bakal AR

(a) Paten Sensorama. (b) Iklan Sensorama di tahun 1960-an.
Sumber: IEEE Computer Society

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa teknologi augmented reality bermula dari penemuan Morton Heilig bernama Sensorama pada tahun 1957. Itu merupakan alat yang digunakan untuk membuat penonton merasakan sensasi menonton dengan lebih “nyata”.

Sensorama memanfaatkan seluruh indra, kecuali indra perasa, untuk membuat penonton membayangkan adegan-adegan film seperti mengalaminya secara langsung. Alat-alat untuk memicu indra tersebut antara lain layar stereoskopi berwarna, kipas angin, emitor bau, stereo sound system, dan kursi yang bisa bergerak.

Morton Heilig menciptakan empat adegan dalam penggunaan Sensorama tersebut, yakni mengendarai sepeda, menyetir dune buggy, menerbangkan helikopter di atas Century City, dan jalan-jalan dengan motor di New York City.

Sensorama sendiri adalah sebagian dari rencana besar Morton Heilig, yakni Experienced Theatre, sebuah bioskop yang membuat penonton dapat ikut mengalami adegan dalam film secara menyeluruh.

Artinya, penonton tak hanya melihat dan mendengar saja, tetapi juga bisa mencium aroma dan merasakan suasana (dengan interaksi terbatas) ketika menyaksikan sebuah film. 

Sayangnya, sampai akhir hayatnya di tahun 1997, Morton Heilig tak bisa mewujudkan mimpi besarnya itu. Dia tidak mendapatkan pendanaan yang cukup untuk menciptakan Experienced Theatre. Selain itu, Heilig juga gagal memasarkan Sensorama.

Meski begitu, Sensorama dipatenkan sebagai penemuan Morton Heilig pada tahun 1962 dan Experienced Theatre menyusul pada tahun 1969. Kedua teknologi tersebut kini dianggap sebagai cikal bakal augmented reality (AR) dan virtual reality (VR).

Perkembangan Augmented Reality

Sensorama, cikal bakal AR

Perangkat head-mounted display awal.
Sumber: Encyclopædia Britannica

Setelah Morton Heilig, ada Ivan Sutherland yang mengembangkan sebuah gagasan ketika input sensoris dapat menghasilkan representasi visual. Akhirnya, ini menciptakan kecanggihan baru dalam teknologi.

Tahun 1966, Sutherland terlibat dalam pengembangan perangkat yang dipasang di kepala dengan kacamata dan menghasilkan tampilan tiga dimensi. Alat tersebut dapat membuat penggunanya menyamakan bidang penglihatannya dengan tampilan tiga dimensi yang dihasilkan.

Perangkat tersebut pertama diuji saat pilot menggunakannya untuk simulasi penerbangan. Sinar inframerah pada kamera membantu untuk mencitrakan tampilan, bahkan yang sulit dilihat dan dalam kegelapan sekalipun (seperti malam hari). Sebab peningkatan yang dihasilkan oleh alat tersebut, teknologi itu pun disebut augmented reality (kenyataan berimbuh).

Nah, itu dia biografi Morton Heilig ditambah dengan perkembangan augmented reality secara singkat. Apakah kamu tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut? Tepat! Dicoding punya kelas untuk belajar augmented reality, lho. Kamu bisa cek di sini, ya. Stay curious!


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Dibuka: Pendaftaran Bangkit 2023

Program kesiapan karier eksklusif dari Google ini menawarkan pelatihan intensif di bidang teknologi, softskills, dan bahasa Inggris.

Gratis. Daftar sekarang!