“Minatku pada Programming Berawal dari Proyek Prototipe Jendela Otomatis”

Cerita Muhammad Rizky Asyam Haidar, Lulusan Program Coding Camp powered by DBS Foundation

Bagi Muhammad Rizky Asyam Haidar (22), kesempatan berkarier di dunia teknologi tidak datang begitu saja. Ia percaya bahwa seorang talenta digital harus berani belajar lebih dari yang diajarkan di bangku kuliah. Berangkat dari rasa penasaran terhadap teknologi sejak kecil, pemilik nama panggilan Asyam ini terus mencari pengalaman belajar yang dapat membekalinya dengan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri.

Keputusan itu membawanya mengikuti Coding Camp powered by DBS Foundation. Awalnya, ia hanya berharap memperoleh sertifikat yang dapat mendukung perjalanan akademiknya. Namun, tanpa disangka, program tersebut justru memberinya pengalaman belajar yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia kerja.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Kenal Dunia Pemrograman Lewat Proyek Pembuatan Prototipe Jendela Otomatis

Lahir di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Asyam sudah akrab dengan komputer sejak kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ia senang bereksperimen menggunakan Inspect Element maupun Cheat Engine untuk memahami cara kerja sebuah sistem. Ketertarikannya semakin berkembang ketika SMP, saat ia mulai merakit komputer sendiri.

Memasuki SMK jurusan Multimedia, Asyam mulai mengenal dunia pemrograman dan Internet of Things (IoT). Salah satu proyek yang paling berkesan baginya adalah membuat prototipe jendela otomatis berbasis Arduino. Pengalaman tersebut membuatnya mantap melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknik Informatika, Politeknik Negeri Jember.

Meski telah belajar teknologi di kampus, Asyam merasa masih membutuhkan ruang belajar yang lebih aplikatif, terutama dalam bidang machine learning. Dari sanalah ia mengenal Coding Camp powered by DBS Foundation.

“Saya awalnya ikut Coding Camp karena berpikir sertifikatnya bisa membantu transkrip nilai. Saya tidak berekspektasi lebih, tetapi ternyata pembelajaran yang diberikan sangat menarik dan menyenangkan untuk dijalani,” kenangnya.

Belajar Bahasa Inggris Membuat Asyam Percaya Diri Ikut Sesi Open Mic

Menurut Asyam, pengalaman belajar di Coding Camp berbeda dengan yang ia rasakan di kampus. Selain mempelajari materi teknis, peserta juga memperoleh kesempatan berdiskusi dengan mentor dan sesama peserta sehingga proses belajar menjadi jauh lebih interaktif.

Ia juga menyukai kurikulum yang tidak hanya berfokus pada pemrograman, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris yang dibutuhkan di dunia kerja.

“Saya sangat suka dengan program-program yang dihadirkan. Lengkap, mulai dari technical skills, soft skills, sampai bahasa Inggris. Di dunia perkuliahan, kami sering terlalu fokus pada programming, tetapi di Coding Camp, saya mendapat bekal yang jauh lebih lengkap,” ujarnya.

Kelas bahasa Inggris menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas. Meski awalnya belum percaya diri, Asyam memberanikan diri mengikuti sesi open mic. Baginya, suasana belajar yang menyenangkan membuat peserta terdorong untuk terus mencoba hal-hal baru.

Tantangan terbesar selama mengikuti program adalah mengatur waktu karena jadwal Coding Camp terkadang berbenturan dengan jadwal kuliah. Namun, ia tidak menganggapnya sebagai hambatan berarti.

“Bagian terbaik dari Coding Camp adalah mentor dan grup belajarnya. Kami sering belajar bersama, berdiskusi, bahkan bermain game sederhana tentang machine learning yang membuat proses belajarnya terasa menyenangkan,” katanya.

Menurut Asyam, lingkungan belajar yang suportif membuatnya lebih mudah memahami materi sekaligus memperluas relasi dengan peserta dari berbagai daerah.

Sempat Bangun Aplikasi Mobile untuk Bantu Jemaah Umrah, Asyam Sukses Menjadi Mobile Application Developer

Ilmu yang diperoleh selama Coding Camp ternyata tidak berhenti sebagai pengalaman belajar. Saat mengikuti proses rekrutmen di PT Mukhtara Indonesia Utama, Asyam merasa kemampuan soft skills yang ia pelajari selama program sangat membantunya menghadapi proses wawancara.

Hal itu membuatnya berhasil diterima sebagai mobile application developer. Sebelumnya, ia juga sempat mengembangkan berbagai proyek sebagai web developer sebelum dipercaya membuat aplikasi mobile yang membantu jemaah umrah dalam memperoleh informasi, panduan ibadah, hingga memantau status keberangkatan.

Kini, Asyam telah bertransisi menjadi IT programmer di PT Multi SpunIndo Jaya Tbk. Meski begitu, ia merasa kelas machine learning dalam program Coding Camp membantunya saat mengerjakan berbagai proyek freelance.

“Sebelum ikut Coding Camp, penulisan kode saya masih berantakan. Berkat masukan dari reviewer, sekarang saya jauh lebih terbiasa menulis kode yang rapi dan terstruktur,” ungkapnya.

Baginya, kebiasaan menulis kode yang lebih rapi bukan hanya meningkatkan kualitas proyek, tetapi juga membuat proses bekerja menjadi lebih profesional.

Lulus dari Coding Camp powered by DBS Foundation sebagai Salah Satu Lulusan Terbaik

Setelah lulus dari Coding Camp powered by DBS Foundation, Asyam berhasil meraih predikat graduates with distinction, atau lulusan terbaik, dan semakin aktif mengerjakan berbagai proyek freelance yang memperkaya portofolionya.

Meski demikian, ia percaya bahwa pencapaian terbesar bukanlah penghargaan atau pekerjaan yang telah diraih, melainkan keberanian untuk terus belajar dan berkembang. Kepada para calon talenta digital, Asyam berpesan agar tidak pernah meremehkan diri sendiri dan selalu percaya pada proses.

“Kalau kalian sungguh-sungguh dengan apa yang ditekuni, hasilnya pasti akan datang. Jangan pernah meremehkan diri sendiri atau menjadi pesimis. Percayalah pada progres kalian,” tutupnya.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.