Memanajemen Diri Sendiri dengan Kanban

Memanajemen Diri Sendiri dengan Kanban

Mudahnya akses terhadap beragam informasi akan mendukung proses belajar siapa pun, selama dia memiliki akses internet. Salah satu gaya belajar yang cukup ngetren di dekade ini adalah gaya belajar otodidak. Ia adalah gaya belajar secara mandiri tanpa mengikuti arahan dari orang lain.

Munculnya banyak programmer otodidak pun juga diprakarsai oleh fenomena belajar otodidak ini. Terlebih lagi, untuk belajar menjadi programmer, seringkali hanya membutuhkan perangkat komputer saja. Alhasil, siapa pun bisa menjadi programmer asalkan ada komputer, akses internet, dan “mau!”.

Seperti mawar yang berduri, semua yang terlihat indah pun ada jebakannya jika kita tidak berhati-hati. Demikian pula dengan mimpi menjadi programmer dengan belajar otodidak, alih-alih jadi programmer, yang ada malah frustasi dan berhenti di tengah jalan.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Dalam belajar otodidak, peran kita tidak hanya sebagai murid saja, melainkan juga berperan sebagai mentor untuk diri sendiri karena harus menentukan apa, kapan, dan di mananya. Maksudnya, kita harus menentukan sendiri “Apa yang mau kita pelajari?”, “Kapan kita mau belajar”, dan “Di mana kita mau belajar?”. Sekali lagi, ini bukanlah perkara mudah.

Selain itu, ketika belajar otodidak juga memiliki potensi besar untuk lost track di saat kita belajar. Acapkali ketika belajar topik A, tetapi kita malah asyik melakukan eksplorasi dan berujung dengan belajar topik B, C, dan D dalam satu waktu. Problem ketidakfokusan dan banyaknya distraksi inilah yang memperlambat proses belajar. Worst case-nya, kita jadi frustasi karena merasa overwhelmed sampai berucap, “Loh, kok banyak banget ya cuma untuk belajar ini”. Tentu kita tidak mau, kan?

Problem lost track sebenarnya bisa kita selesaikan dengan mulai memanajemen diri sendiri. Ketika kita bisa mengatur fokus, memfilter distraksi, dan merencanakan aktivitas dengan baik, seharusnya gaya belajar otodidak menjadi gaya belajar yang asyik karena kamu akan berperan sebagai pilot dengan pesawat yang mampu terbang dengan tujuan mana pun.

Memanajemen diri sendiri dengan Kanban

Memanajemen diri sendiri adalah masalah kebiasaan yang harus dijaga konsistensinya. Bagian tersulitnya adalah mengurutkan prioritas, tidak mengerti fokus saat ini, dan menjaga komitmen yang tinggi. Percayalah bahwa semua orang pasti pernah mengalami hal yang serupa.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa mengatur diri sendiri? Beragam teknik bisa kita pakai, tetapi satu teknik yang akan kita bahas dan dirasa cukup efektif adalah memanajemen diri sendiri dengan Kanban.

Apa itu Kanban? 

Kanban pertama kali muncul di perusahaan Toyota automotive pada tahun 1940 di negara Jepang. Kanban awalnya dipakai untuk mengontrol serta mengatur aktivitas pekerjaan dan inventaris barang dalam suatu proses produksi agar berjalan dengan optimal. Sistem ini mampu mengontrol secara optimal proses manufaktur dari supplier hingga customer.

Bahkan setelah lebih dari 60 tahun, Kanban dipakai di berbagai macam perusahaan. Tidak terikat hanya di manufaktur saja, sekarang Kanban dipakai di banyak proses bisnis, seperti Marketing, Ops, Staff, Sales, bahkan IT.

Pada dasarnya, proses pada Kanban adalah pertambahan secara perlahan terhadap aktivitas yang sedang dikerjakan. Pertambahan ini tidaklah asal-asalan, melainkan berdasarkan alur yang sudah kita set sebelumnya. Biasanya alurnya terbagi menjadi beberapa tahapan, yakni ToDo, Doing, dan Done.

apa itu kanban

Dalam Kanban, tiap aktivitas pekerjaan biasanya disebut dengan card. Setiap card berisi informasi “Apa yang ingin kamu kerjakan?”, misalnya ketika ingin belajar topik tentang variabel maka kita perlu membuat 1 card yang berisi informasi “Belajar Variabel”. Ini berarti, jika ingin belajar 10 topik yang berbeda, kita haruslah membuat 10 card

Alur kerja pada Kanban selalu dimulai dari kiri dengan perpindahannya ke arah kenan. Card yang berada di sebelah paling kiri adalah card yang masih di tahap awal. Lalu, card yang paling kanan menandakan card tersebut sudah masuk tahap terakhir. Tiap card akan dipindah perlahan melewati semua tahapan yang ada, dimulai dari ToDo, kemudian Doing, dan terakhir Done.

Mungkin kamu bertanya, “Okay saya paham perpindahan card-nya, tapi apa arti dari tahapan ToDo, Doing, dan Done?”. Todo berarti semua card yang ada di tahapan ini belum dikerjakan. Doing berarti semua card ada di tahapan ini sedang dikerjakan. Lalu, Done berarti semua card yang ada di tahapan ini sudah selesai dikerjakan

Tahapan-tahapan yang ada di suatu Kanban sebenarnya bisa dikustomisasi sedemikian rupa agar sesuai dengan alur kerja kita. Contoh sebelumnya memang hanyalah 3 tahapan ToDo -> Doing -> Done, tetapi bisa saja kita menambahkan tahapan lain hingga menjadi 4, 5, atau 6. Intinya, Kanban bergantung pada kebutuhan alur yang kita inginkan.

Biar lebih mengerti implementasinya, mari kita buat Kanban untuk belajar programming secara otodidak! 

Gaya Belajar Otodidak dengan Kanban

Dalam belajar programming, sering kali proses belajar kita tidak hanya cukup dengan 1 tahapan, melainkan perlu 2 tahapan, seperti belajar teori dan mempraktikannya. Untuk menjadi programmer andal, teori saja tidaklah cukup karena kita harus banyak praktik coding langsung. Percayalah bahwa praktik langsung akan mengasah kemampuan kita secara eksponensial.

Jadi, mari kita ubah tahapan Doing menjadi Learn dan Exercise. Dari sebelumnya 3 tahapan (ToDo -> Doing -> Done), sekarang kita memiliki alur kerja baru dengan 4 tahapan, yakni ToDo -> Learn -> Exercise -> Done.

Kemudian, tambahkanlah card dengan topik yang ingin kita pelajari. Tak hanya itu saja, kita bisa menambahkan informasi deadline di tiap card-nya. Dengan adanya informasi deadline, kita bisa memprioritaskan to do mana yang seharusnya kita selesaikan terlebih dahulu. Selain itu, informasi deadline juga menambahkan sense of urgency sehingga kita lebih menghargai waktu.

Terakhir, kita juga bisa menggunakan warna yang berbeda untuk membedakan prioritas tiap card-nya. Misalnya warna merah untuk card yang prioritasnya paling tinggi, ini berarti harus segera kita selesaikan. Kemudian gunakan warna hijau untuk prioritas yang lebih rendah. Warna hijau berarti bisa kita selesaikan nanti kalau ada waktu luang. Selain itu, kita juga bisa mengurutkan card berdasarkan prioritas misalnya card berwarna merah posisinya paling atas dan card hijau di bawahnya.

gaya belajar otodidak dengan kanban

Kanban seperti di atas hanyalah contoh saja. Ingatlah bahwa Kanban bisa kita kustomisasi sesuai dengan alur kerja yang diinginkan. Selain dari kustomisasi, apa saja manfaat Kanban lainnya? Mari kita bahas!

Manfaat Kanban untuk Memanajemen Diri Sendiri

Jika kamu masih belum yakin dengan pemakaian Kanban, bacalah beberapa poin manfaat berikut ini.

  1. Memvisualkan alur kerjamu
    Dengan adanya visual yang jelas maka akan membantu memahami progresmu secara lebih baik lagi. Bandingkan Kanban dengan checklist Todos, kamu bisa mendapatkan informasi yang cukup beragam.
    contoh checklist todos kanban
  2. Fleksibel
    Mampu menyesuaikan dengan pergantian kebutuhan. Misalnya ada topik yang sedang kamu pelajari, tetapi ternyata topiknya melebar dan banyak topik lain yang berkelanjutan. Nah, kita bisa langsung membuat banyak card baru dan taruh di tahapan paling kiri (ToDo). 
  3. Menjaga fokus
    Fokus bisa kita jaga karena terlihat jelas posisi card saat ini berada di tahapan mana sehingga kita tahu card mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Misalnya, ketika ada card yang sudah masuk ke tahapan Doing maka card inilah yang harus menjadi fokus kita. Bahkan kita bisa membatasi maksimal hanya 2 sampai 3 card saja yang boleh berada pada status Doing, pembatas ini biasanya disebut dengan WIP (Work-In-Progress).
    fokus dua card kanban

Apakah kamu sudah cukup tercerahkan tentang Kanban beserta manfaatnya? Intinya, manfaat yang telah dibahas hanya dalam scope manajemen diri sendiri. Masih banyak manfaat lainnya dari Kanban, misalnya kolaborasi Kanban dengan kolega kerja untuk scope membuat proyek aplikasi secara tim. Namun, mungkin itu bisa menjadi topik lain yang akan kita bahas di kesempatan lainnya, jadi tunggu saja kelanjutannya di blog Dicoding.

Terakhir, Kanban bisa kamu implementasikan di kamar kalian sendiri menggunakan whiteboard dan sticky notes warna-warni. Selain itu, kalau kamu lebih sering online maka banyak website yang menyediakan layanan Kanban, salah satunya adalah Trello. Kami merekomendasikan Trello karena memiliki banyak fitur dan juga gratis jika kamu gunakan secara pribadi. Nah, kalau pembaca memiliki rekomendasi tersendiri, silakan tulis di kolom komentar, ya!


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Beasiswa Kelas Pemrograman

Dapatkan beragam informasi terbaru mengenai beasiswa dan informasi menarik lainnya melalui Newsletter Dicoding. Subscribe sekarang!