“Ilmu Pengetahuan adalah Milik Siapa Saja yang Mau Belajar”

Cerita Reizka Fathia – Lulusan Coding Camp powered by DBS Foundation

Banyak orang mengira bahwa karier di dunia teknologi hanya diperuntukkan bagi mereka yang sejak awal menempuh pendidikan di bidang IT. Namun, kisah Reizka Fathia membuktikan sebaliknya. Lulusan SMA jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang kini menempuh studi Matematika di Universitas Indonesia ini berhasil menapaki jalannya sendiri menuju industri teknologi, bahkan hingga berkarier di perusahaan besar sekelas Blue Bird Group.

Perjalanan pemilik nama panggilan Fathia menjadi talenta digital tidak terjadi dalam semalam. Ia melewati proses eksplorasi panjang, rasa penasaran yang besar, serta pengalaman belajar intensif dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation. Bagaimana kisahnya? Mari kita simak perjalanan Fathia.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Ketika Rasa Penasaran Membawa Fathia ke Dunia Teknologi

Fathia lahir dan besar di Jakarta sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak kecil, kedua orang tuanya tidak pernah menuntutnya untuk selalu mendapatkan nilai sempurna. Sebaliknya, mereka menanamkan bahwa belajar adalah tanggung jawab pribadi yang harus dijalani dengan kesadaran dan rasa ingin tahu.

Nilai tersebut membuat Fathia tumbuh sebagai pribadi yang senang mengeksplorasi berbagai bidang. Ketika duduk di bangku SMA, ia mengambil jurusan IPS, sebuah pilihan yang mungkin tidak banyak dikaitkan dengan dunia teknologi.

Namun, jalan hidup sering kali menghadirkan kejutan. Saat melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia dan memilih jurusan Matematika, Fathia mulai menemukan ketertarikannya pada ranah komputasi.

Awalnya, ia tertarik pada pure mathematics dan sempat membayangkan karier di dunia pendidikan. Namun, setelah menjalani berbagai mata kuliah, ia mulai mengenal cabang lain dalam matematika, seperti applied mathematics dan computational mathematics.

“Setelah menjalani beberapa mata kuliah serta pengalaman mengajar, aku jadi semakin tertarik pada area komputasi seperti data science, machine learning, dan deep learning,” ungkap Fathia.

Ketertarikan tersebut semakin kuat ketika ia menyadari bahwa teknologi modern seperti artificial intelligence (AI) sebenarnya dibangun di atas logika matematika yang kompleks.

Mencari Pembelajaran yang Lebih Terarah

Rasa penasaran membuat Fathia mulai mempelajari dasar-dasar web development secara mandiri. Ia mencoba memahami HTML, CSS, dan JavaScript melalui berbagai sumber di internet. Bahkan, ia sempat mengikuti bootcamp web development singkat di kampus.

Meski demikian, ia merasa pembelajaran secara otodidak masih belum cukup. Materi yang luas dan tidak terstruktur membuat proses belajar terasa menantang. Fathia menyadari bahwa ia membutuhkan lingkungan belajar yang lebih sistematis agar dapat memahami teknologi secara lebih mendalam.

Sekitar satu setengah tahun kemudian, ia menemukan program Coding Camp powered by DBS Foundation, sebuah program yang memiliki tujuan untuk mendorong inklusivitas melalui pendidikan literasi keuangan dan digital, yang diinisiasi oleh DBS Foundation. Program tersebut langsung menarik perhatiannya karena menawarkan kurikulum yang terstruktur serta pembelajaran front-end dan back-end yang komprehensif.

“Aku berharap bisa mendapatkan pemahaman yang lebih solid dan menyeluruh di bidang web development,” kenangnya.

Belajar Intensif dalam Coding Camp powered by DBS Foundation, Bahkan Saat Naik Bus Kampus

Pengalaman belajar intensif Fathia dalam Coding Camp powered by DBS Foundation berlangsung selama enam bulan. Selama program tersebut, ia mempelajari berbagai konsep penting dalam pengembangan web, mulai dari logika pemrograman hingga pengembangan back-end.

Setiap kelas tidak hanya berisi materi teori, tetapi juga dilengkapi kuis dan proyek yang mendorong peserta untuk langsung mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Pendekatan tersebut membuat proses belajar menjadi lebih aplikatif dan menantang.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Sebagai mahasiswa yang tetap harus menjalani perkuliahan di kampus, Fathia menghadapi tantangan dalam mengatur waktu antara kuliah dan Coding Camp. Ia bahkan tidak melakukan konversi SKS karena program tersebut tidak sepenuhnya linear dengan program studinya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Fathia memanfaatkan waktu seefektif mungkin, bahkan saat berada di perjalanan menuju kampus. Ia sering membuka materi Coding Camp ketika menaiki bus kampus maupun TransJakarta.

Selain pembelajaran teknis, pengalaman bekerja dalam tim capstone project juga menjadi salah satu momen paling berkesan baginya. Melalui proyek akhir tersebut, Fathia tidak hanya belajar tentang teknologi, tetapi juga tentang kolaborasi, komunikasi, dan kerja tim. Ketiganya adalah keterampilan penting dalam dunia industri.

Berhasil Berkarier di Perusahaan Sekelas Blue Bird Group

Setelah menyelesaikan program Coding Camp powered by DBS Foundation, Fathia merasakan perubahan besar dalam cara ia memahami teknologi. Ia tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga soft skills yang mendukung kesiapan kerja.

Program ini bahkan memberikan pengalaman tambahan seperti kelas bahasa Inggris dengan mentor internasional. Bekal tersebut terbukti sangat membantu ketika Fathia mengikuti proses wawancara untuk posisi di Divisi IT Blue Bird Group.

Materi yang ia pelajari selama belajar dalam Coding Camp powered by DBS Foundation membuatnya lebih percaya diri dalam berdiskusi tentang konsep teknologi, sistem, serta proses pengembangan produk digital.

Kini, Fathia menjalani peran sebagai Product Management Intern di Blue Bird Group. Dalam pekerjaannya, ia mendukung Product Manager dalam berbagai aktivitas, mulai dari koordinasi lintas fungsi hingga penyusunan dokumentasi produk seperti product requirement document (PRD) dan user guide.

Pemahamannya tentang sistem back-end dan alur data membuatnya mampu berperan sebagai penghubung antara kebutuhan bisnis dan solusi teknis.

Menjadi Talenta Digital Perempuan yang Berani Melangkah

Perjalanan Fathia menjadi bukti bahwa latar belakang pendidikan bukanlah batasan untuk berkarier di dunia teknologi. Sebagai perempuan dengan latar belakang non-IT, bahkan lulusan SMA jurusan IPS, ia percaya bahwa kesempatan di bidang teknologi terbuka bagi siapa saja yang mau belajar.

“Ilmu pengetahuan adalah milik siapa saja yang mau belajar. Yang membedakan hanyalah bagaimana kita mengembangkan potensinya,” ujar Fathia.

Ia pun mendorong lebih banyak perempuan untuk berani mencoba menekuni bidang teknologi, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan rasa ingin tahu, kemauan untuk terus belajar, dan keberanian mengambil langkah pertama, Fathia percaya bahwa siapa pun dapat membuka jalan menuju masa depan di industri teknologi. Dan bagi Fathia, perjalanan tersebut baru saja dimulai.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.