Critical Thinking atau berpikir kritis merupakan hal yang penting bagi seseorang untuk memahami, menganalisis, mengidentifikasi dan mengaplikasikan suatu informasi untuk berbagai permasalahan. Kemampuan ini dibutuhkan di setiap pekerjaan agar individu dapat memecahkan permasalahan yang kompleks dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika bekerja atau belajar.
Namun, saat ini banyak orang menggunakan Generative AI seperti Gemini dan Chat-GPT untuk menyelesaikan permasalahan tanpa menganalisis dan mengidentifikasi solusi yang diberikan oleh AI. Hal ini dapat mengakibatkan berbagai masalah pada penggunanya, salah satunya adalah ketergantungan terhadap AI.
Padahal, Critical Thinking merupakan skill yang paling penting dan tak dapat tergantikan oleh Artificial Intelligence(AI). Hal ini diungkapkan oleh employer the Southern New Hampshire University (SNHU) yang menyatakan bahwa skill ini tidak dapat diambil alih oleh Artificial Intelligence (AI).
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangOleh karena itu, blog ini akan mengulas bagaimana penggunaan AI dapat memengaruhi kemampuan critical thinking, sekaligus membahas strategi agar individu tetap berpikir kritis saat menggunakan teknologi AI.
Definisi Critical Thinking

Terdapat berbagai definisi Critical Thinking yang diberikan oleh para ahli. Namun, secara garis besar, Critical Thinking merupakan kemampuan untuk menginterpretasi, mengevaluasi, dan menganalisis suatu informasi serta memutuskan suatu informasi itu benar maupun salah.
Orang yang berpikir kritis cenderung mengerti cara menganalisis suatu permasalahan, menguji suatu gagasan, serta mengidentifikasi suatu informasi secara logis. Mereka juga tidak mudah percaya terhadap suatu informasi sebagai sebuah fakta (skeptis) dan selalu mengerti suatu permasalahan atau informasi dengan baik.
Permasalahan Penggunaan Generative AI yang Berhubungan dengan Critical Thinking
Saat ini, beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki frekuensi lebih banyak untuk menggunakan Generative AI dalam bekerja cenderung mengalami penurunan kemampuan dalam menerapkan Critical Thinking.
Permasalahan ini menjadi semakin relevan ketika Generative AI digunakan tanpa kemampuan berpikir kritis yang baik. Alih-alih sebagai alat bantu, AI justru menimbulkan beberapa permasalahan dalam proses berpikir dan memutuskan sesuatu. Beberapa permasalahan yang ditimbulkan adalah sebagai berikut.
-
Ketergantungan terhadap AI
Individu yang menggunakan AI secara berlebihan cenderung memercayai segala informasi yang diberikan oleh AI tanpa verifikasi atau evaluasi lebih lanjut. Hal ini berdampak negatif karena individu tersebut bisa saja menggunakan AI sebagai alat untuk mengambil keputusan tanpa mempertimbangkannya lebih jauh.
-
Cognitive Offloading
Cognitive Offloading adalah sebuah fenomena seorang individu cenderung mengandalkan alat lain untuk berpikir atau menyelesaikan sebuah permasalahan. Sebagai contoh, banyak orang saat ini cenderung menggunakan AI sebagai alat bantu untuk berpikir. Jika kebiasaan ini berlanjut tanpa adanya pengecekan atau evaluasi, kemampuan Critical Thinking seorang individu dapat berkurang.
-
Permasalahan dalam Memory Retention
Memory Retention adalah kemampuan seseorang dalam memahami dan mengingat informasi. Saat ini, penggunaan AI dapat mendorong seseorang untuk malas memahami dan mengingat informasi yang ada karena kemudahan untuk mendapatkan data.
Meskipun penggunaan AI dapat menimbulkan beberapa masalah bila digunakan secara berlebihan, bukan berarti AI harus dihindari sepenuhnya. Pada dasarnya, AI dirancang sebagai alat bantu untuk memperkuat proses berpikir, bukan untuk menggantikan proses tersebut.
Agar AI tidak menurunkan daya kognitif, gunakanlah kemampuan Critical Thinking saat berinteraksi dengan AI.
Menerapkan Critical Thinking Saat Menggunakan Generative AI

Pada dasarnya, AI hanya digunakan sebagai alat yang bisa meningkatkan kemampuan berpikir. Saat menggunakan AI, kamu bisa menerapkan beberapa tips berikut agar kemampuan Critical Thinking-mu berkembang.
-
Sikap skeptis pada jawaban AI
Pada dasarnya, Generative AI seperti Gemini dan Chat-GPT memanfaatkan data yang ada pada internet sebagai landasan jawaban. Walaupun demikian, Generative AI masih bisa memberikan informasi yang keliru, fenomena ini dikenal sebagai halusinasi. Oleh karena itu, kamu harus mengevaluasi kelogisan, asumsi, dan relevansi jawaban Generative AI.
Misalnya, kamu minta rekomendasi kafe 24 jam. Lalu AI menyebutkan satu tempat dengan yakin. Tapi saat kamu datang ke sana, ternyata kafenya tutup sejak jam 10 malam. Informasinya terdengar valid, tapi tidak akurat.
-
Memahami permasalahan dan informasi yang ada
Saat menggunakan AI, pastikan kamu benar-benar memahami masalah yang sedang dibahas dan mengevaluasi jawaban yang diberikan. Jangan hanya menerima solusi, tetapi pahami juga logika di baliknya. Dengan begitu, kamu bisa mengoreksi jawaban yang tidak masuk akal atau terindikasi halusinasi, sekaligus melatih kemampuan Critical Thinking-mu.
-
Refleksi dan evaluasi solusi dari AI
Setelah mendapat jawaban dari AI, jangan langsung diterapkan begitu saja. Kamu tetap perlu merefleksikan dan menilai apakah solusi tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhanmu. Di sinilah AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu berpikir, bukan pengambil keputusan.
Penggunaan Generative AI pada dasarnya berpotensi menimbulkan permasalahan terhadap kemampuan berpikir kritis seseorang. Namun, bila seseorang dapat memosisikannya sebagai alat bantu berpikir dan bukan pengganti proses berpikir, Generative AI justru dapat membantu mempertajam kemampuan analisis dalam menyelesaikan permasalahan kompleks.
