Coding itu Sulit! Inilah Kata Para Mahasiswa

Kesulitan belajar merupakan suatu kondisi di mana mahasiswa tidak dapat belajar dengan baik. Ini ditandai dengan adanya hambatan tertentu untuk mencapai tujuan belajar. Kesulitan ini dapat berupa mentransfer pengetahuan dan juga pemahaman yang kurang. Kedua hal tersebut dapat terjadi ketika kegiatan belajar mengajar melalui sistem daring. Sistem ini tengah gencar diterapkan di sekolah dan perguruan tinggi di masa wabah virus corona. Hal ini tentu untuk menghindari kerumunan dalam satu ruangan kelas. Dengan sistem daring yang dilakukan secara tetiba, tak jarang mahasiswa menemui kendala ketika menjalani perkuliahan. Banyak mahasiswa jurusan IT yang mengatakan coding itu sulit, hal ini diperparah dengan jaringan internet yang lambat sehingga membuat mahasiswa gagal paham tentang materi yang diberikan oleh dosen.

mahasiswa terkendala ketika menjalani perkuliahan dan beranggapan bahwa coding itu sulit.

Walau akses pembelajaran coding sudah banyak sekali di internet, tetapi terkadang ada beberapa kendala yang ditemukan seperti berikut:

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Belajar asal dan tidak runtut membuat coding itu sulit

Ketika mempelajari hal baru, mahasiswa akan berusaha mencari referensi sebanyak mungkin, atau mencari sumber informasi yang tersebar di internet. Tak dapat dipungkiri, dengan cara belajar seperti itu para mahasiswa akan mengalami proses pembelajaran yang tidak terstruktur dan menyimpulkan bahwa coding itu sulit. Hal ini dikarenakan, banyak referensi yang hanya membahas pada satu topik dan tidak menyeluruh atau materi menengah ke atas yang sulit untuk dimengerti oleh pemula. 

Pembahasan materi berasal dari bahasa lain

Referensi yang banyak sekali tersebar di internet, mayoritas menggunakan bahasa asing atau bahasa Inggris. Hal ini karena bahasa Inggris merupakan Lingua Franca sehingga bahasa Inggris digunakan sebagai “bahasa pengantar”. Oleh karena itu, referensi lainnya seperti dokumentasi resmi bahasa pemrograman, blog, YouTube, dan lainnya juga masih menggunakan bahasa Inggris. 

Penggunaan bahasa Inggris menjadi kendala karena tidak semua mahasiswa Indonesia bisa berbahasa Inggris. Terlebih lagi mereka harus mempelajari bahasa Inggris terlebih dahulu sebelum mendalami bahasa pemrograman atau mengerti maksud dari referensi-referensi yang dipelajari.

Tidak ada komunitas dan sulit bertanya jika terjadi error

Banyak sekali mahasiswa datang dari segala latar belakang dan tidak semuanya mengerti tentang coding. Sehingga, ketika mereka menemukan permasalahan, mahasiswa kadang bingung untuk mencari tempat bertanya. Sama halnya dengan kendala bahasa, forum-forum pemrograman mayoritas menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk aktif dalam mencari bimbingan, seperti berkenalan dengan mentor, aktif dalam aktivitas pemrograman di kampus, dan lainnya.

Tidak membuat project sendiri untuk validasi, hanya mengikuti tutorial

Ketika mahasiswa dihadapkan dengan kendala-kendala tersebut, tidak sedikit mahasiswa yang hanya belajar dengan cara meniru apa yang diajarkan (copy-paste) tanpa mengetahui bagaimana solusi tersebut diciptakan. Di samping itu, terlalu banyak belajar teori dan tidak mempraktikkannya juga merupakan sebuah kendala yang membuat mahasiswa sulit untuk membuat solusi ketika menemukan permasalahan baru.

Mahasiswa Lelah

Platform Belajar yang Terstruktur

Kesulitan belajar yang dialami mahasiswa sangat beragam dan diikuti oleh beberapa faktor yang dapat menghambat proses belajar. Ada 2 macam faktor yang menyebabkan kesulitan belajar, yaitu faktor internal dan eksternal siswa. Faktor internal bisa berasal dari pemahaman mahasiswa sendiri, sementara faktor eksternal berasa dari lingkungan sekitar mahasiswa.

Dicoding hadir untuk menyelesaikan kedua faktor tersebut melalui pendekatan cara belajar yang lebih efektif dan terstruktur dengan menyediakan berbagai macam latihan serta didukung oleh pengajar profesional. Dicoding sendiri merupakan lembaga kursus dan juga sertifikasi yang berada di Bandung, Jawa Barat dan berfokus pada pelatihan di bidang dunia IT, mulai dari Android, iOS, Machine Learning, Front-End Web, Back-End Web, Cloud, UI/UX, dan Multi-Platform. Untuk melihat kelas-kelas yang disediakan oleh Dicoding, kamu dapat mengeceknya di halaman berikut: Kelas Pemrograman Kurikulum Internasional – Dicoding Indonesia.

Manfaat yang tanpa disadari bagi para mahasiswa dalam menjalani kursus daring adalah mendapatkan serangkaian pengalaman menggunakan jaringan digital untuk berinteraksi, belajar, dan berdiskusi. Hampir serupa seperti mendapatkan pengalaman ketika berkuliah. Kursus daring tidak memerlukan pertemuan tatap muka di lokasi fisik. Selain itu, waktu belajar juga lebih fleksibel dan mendapat pemantauan khusus layaknya kursus offline.

“Dari kelas ini, saya belajar banyak tentang fitur-fitur yang hampir semua aplikasi Android pasti butuhkan. Materi, latihan, dan submissionnya bikin saya semakin terpacu buat belajar lebih dalam dan mendapat best practice dalam pengerjaannya.” Dikutip dari Richard Tanoto, selaku mahasiswa dari Universitas Indonesia yang juga mengambil kursus di Dicoding. Kelas dan materi di Dicoding dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Tak hanya membantu pemahaman mahasiswa saja, tetapi Dicoding pun menawarkan sertifikasi bagi penggiat IT yang ingin memantapkan kariernya menuju dunia kerja.

Jadi tunggu apalagi, untuk kamu mahasiswa yang kesulitan dalam belajar coding. Ayo belajar bersama di Dicoding agar mendapatkan ilmu yang terstruktur, mudah dimengerti dan berstandar global. Semangat para calon developer tanah air Indonesia.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Dibuka: Pendaftaran Bangkit 2023

Program kesiapan karier eksklusif dari Google ini menawarkan pelatihan intensif di bidang teknologi, softskills, dan bahasa Inggris.

Gratis. Daftar sekarang!