Cerita Ahmad Jourji Zaidan, Lulusan Program Intensif Dicoding
Sebagai anak IT, pernahkah kamu diminta untuk menge-hack akun atau telepon genggam orang lain? Atau justru, kamu punya cita-cita jadi hacker? Ternyata, orang-orang di dunia IT memang tidak akan jauh-jauh dari masalah hacking.
Kali ini, pengalaman tersebut datang salah satu lulusan program intensif Dicoding, Ahmad Jourji Zaidan (22) yang lebih akrab disapa Jourji. Ia akan menceritakan kisah perjalanannya sebagai anak IT dengan awal yang unik, yaitu menjadi seorang hacker. Penasaran seperti apa cerita serunya? Simak di bawah ini!
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangSenang Utak-Atik Game hingga Mencoba Jadi Hacker
Ketertarikan Jourji pada dunia teknologi telah tertanam sejak ia masih duduk di bangku SD. Awalnya, minat itu muncul dari hobi bermain game. Kemudian, hobi tersebut berkembang menjadi rasa ingin tahu untuk mencoba mengubah tampilan atau style karakter dalam game tersebut.
Saat SMP, rasa ingin tahu itu semakin tajam. Jourji mulai mengenal dunia hacking dan belajar membuat website sederhana menggunakan HTML dan CSS untuk pertama kali. Ternyata, ketertarikan ini terus berkembang hingga dia mengenyam pendidikan di SMA.
“Menginjak SMA, ketertarikan saya pada dunia hacking sudah lebih menjurus. Saat itu, saya belajar peretasan website. Lewat proses peretasan website itulah saya semakin memahami struktur dan mekanisme kerja sebuah website. Hingga akhirnya, saya mulai mempelajari dasar-dasar pengembangan web secara lebih mendalam,” jelas Jourji.
Selepas lulus SMA, Jourji meneruskan pendidikannya di Universitas Negeri Surabaya, jurusan Sistem Informasi. Motivasinya untuk terus menggeluti dunia IT ternyata sangat sederhana: “Teknologi itu menarik. Teknologi bisa mewujudkan hal-hal yang sebelumnya saya pikir mustahil,” ujar Jourji.

Mencoba Jadi Full-Stack Developer di Luar Kampus
Jourji termasuk salah satu mahasiswa IT yang sangat memperhatikan perkembangan teknologi. Dia melihat perkembangan teknologi semakin cepat dari masa ke masa. Karenanya, dia tidak mau tertinggal. Sebisa mungkin, dia mencari kesempatan lain di luar kampus yang bisa menunjang dirinya untuk upgrade pengetahuan.
Pencariannya berakhir pada program intensif Dicoding. Sebagai mahasiswa, pada saat itu, Jourji melihat peluang dalam program ini.
Ia tertarik mengikuti program intensif Dicoding karena menawarkan pengalaman belajar di luar kampus yang relevan dengan kebutuhan industri dan membuka kesempatan membangun relasi. Ia pun mendaftarkan diri pada program ini dan memilih alur belajar front-end web dan back-end, sesuai dengan minatnya yang ingin menjadi full-stack developer.
Dapat Ilmu Eisenhower Matrix untuk Membagi Prioritas
Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, kegiatan Jourji bukan hanya belajar, dia juga turut andil dalam usaha keluarganya. Ayah Jourji merupakan seorang wirausahawan dan memiliki toko kelontong, sedangkan ibunya merupakan guru non-PNS di Madrasah Ibtidaiyah (MI), sebuah sekolah Islam setara SD.
“Saya juga harus membantu orang tua untuk berdagang dan bekerja freelance. Saya perlu mengatur waktu agar semua tanggung jawab dapat berjalan seimbang,” ungkap Jourji.
Dalam kesehariannya, Jourji harus menentukan skala prioritas antara berdagang, kuliah, bekerja freelance, dan belajar dalam program intensif Dicoding. Di tengah padatnya kegiatan itu, Jourji menerapkan salah satu materi soft skills dari program intensif Dicoding yang ternyata menjadi game changer dalam kesehariannya hingga saat ini.
Dalam program intensif Dicoding, dia diajarkan Einsenhower Matrix, yakni metode menentukan prioritas dalam empat kuadran:
1) Mendesak & Penting,
2) Penting tapi Tidak Mendesak,
3) Mendesak tapi Tidak Penting,
4) Tidak Penting & Tidak Mendesak.
Berkat ilmu tersebut, Jourji bisa menyelesaikan seluruh kewajibannya saat itu, yakni membantu orang tua berdagang, kuliah, bekerja freelance, dan belajar dalam program intensif Dicoding.
“Secara keseluruhan, program intensif Dicoding punya dampak positif yang besar untuk saya. Mentor, instruktur, dan materinya sangat membantu. Penyampaiannya jelas dan mudah saya pahami. Arahannya praktis, dan bisa langsung saya terapkan.”

Menjadi Top 4 Lulusan Terbaik Kampus Merdeka, Jourji Kini Mahir Bikin Aplikasi End-to-End
Bagi Jourji, bagian terbaik dari belajar dalam program intensif Dicoding adalah kualitas materi, bimbingan mentor, dan kesempatan kolaborasi lintas kampus. Selama mengikuti program ini, Jourji termasuk siswa yang berprogres sangat cepat. Akhirnya kerja keras dia berbuah manis, Jourji berhasil meraih peringkat Top 4 Nasional Lulusan Terbaik Kampus Merdeka selama dia mengikuti program intensif Dicoding.
Baginya, materi yang diberikan program intensif Dicoding dinilai sangat relevan dengan kebutuhan industri. Terbukti, selepas mengikuti program intensif Dicoding dengan menyandang predikat Top 4 Nasional Lulusan Terbaik Kampus Merdeka, Jourji diterima bekerja sebagai IT Staff di PT Sinar Rimba Pasifik yang bergerak dalam bidang manufaktur.
Selama menjadi IT Staff, Jourji bertanggung jawab mengembangkan beberapa aplikasi secara end-to-end (full stack), mulai dari perancangan, hingga implementasi. Materi fundamental pemrograman yang dia dapatkan dari program intensif Dicoding membantunya memahami alur pengembangan aplikasi dan cara menulis clean code.
Dia juga merasa bisa berpikir lebih terstruktur dan mampu berkomunikasi lebih baik dengan tim saat bekerja. Hal ini karena kemampuan interpersonal Jourji sudah ditempa dengan baik saat berkolaborasi dengan tim untuk membuat capstone project dalam program intensif Dicoding.
Berbekal pemahaman fundamental programming dari program intensif Dicoding, Jourji bahkan diberikan kepercayaan oleh senior untuk membantu melakukan code review pekerjaan anak-anak magang di kantornya.
“Dari materi front-end web dan back-end, saya belajar fundamental pemrograman. Saya jadi paham clean code dan alur pengembangan aplikasi. Hingga sekarang, saya dipercaya juga menjadi code reviewer para intern di kantor,” ujar Jourji.
Ke depannya masih banyak kenginan yang ingin Jourji capai dalam kariernya di dunia IT. Dia ingin memperdalam kemampuannya dalam bidang software development. Dia harap bisa memahami end-to-end workflow-nya, mulai dari membangun model, training, hingga mengimplementasikannya dalam aplikasi real-world ready.
“Saat menghadapi tantangan, tetaplah tenang. Pahami masalahnya dan pelajari langkah penyelesaiannya. Karena tantangan itu bukan hambatan, melainkan peluang untuk berkembang.” tutup Jourji.

Kisah Jourji adalah cerminan bahwa selalu ada waktu untuk belajar selama kita mau meluangkan waktu tersebut. Jangan jadikan waktu yang sempit sebagai hambatan, tapi jadikan itu tantangan agar kamu bisa berkembang membagi prioritas.
Kamu bisa lo, menjadi full-stack developer seperti Jourji, asalkan kamu paham fundamentalnya, mengerti clean code, dan architecture code.
Pahami fundamental pemrograman dalam program intensif terbaru dari Dicoding!
Daftar di dicoding.com/tempa.
