Cerita Muh. Fajri Farid, Lulusan Program Asah 2025
‘Senang belajar hal baru’ adalah empat kata yang paling menggambarkan diri Muh. Fajri Farid (22), seorang Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang berasal dari Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Hal itu tercermin dari kegiatannya yang sangat padat dan kegemarannya untuk menambah wawasan baru.
Mengambil kelas berbobot 22 SKS di kampus tak halangi Fajri untuk ikut serta dalam program Asah demi mendalami react and back-end development with AI. Hasilnya, Fajri sukses jadi salah satu lulusan terbaik, tim capstone project-nya pun menyandang gelar capstone terbaik, dan ia memperoleh kesempatan magang.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangSeperti apa perjalanan Fajri? Mari kita baca cerita lengkapnya!
Berangkat dari Dipercaya untuk Ikut Olimpiade Sains Nasional

Almarhum ayah Fajri merupakan seorang dosen dan konsultan pajak yang sempat menginginkan putra semata wayangnya untuk mengikuti jejaknya di dunia akuntansi. Namun, Fajri memiliki minat yang berbeda. Sejak SMP, ia sudah tertarik pada teknologi.
Mulanya hanya bermain komputer untuk menonton film, ia tak menyangka akan dipercaya untuk mewakili sekolah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Informatika, yang membawanya untuk belajar bahasa pemrograman pertamanya, yaitu C++. Merasa proses belajar selama persiapan OSN menyenangkan, ia berhasil meraih peringkat kedua di tingkat provinsi.
Melihat Fajri bisa menjemput masa depan yang menjanjikan di dunia informatika, ia memutuskan untuk berkuliah Teknik Informatika, Universitas Hasanuddin. Sejak saat itu, perjalanannya di dunia teknologi dimulai.
Belajar di Asah untuk Bantu Garap Proyek Implementasi AI

Dicoding adalah platform pembelajaran teknologi yang tak asing bagi mahasiswa IT seperti Fajri. Ia tahu betul bahwa berbagai program pelatihan teknologi bereputasi pernah dilaksanakan oleh Dicoding. Ingin menjadi talenta digital dengan skills yang selalu up to date, Fajri banyak ikut serta dalam program tersebut.
Berada dalam ekosistem pembelajaran Dicoding membuat Fajri mengenal program Asah. Mulanya, Fajri cukup kritis terhadap program Asah karena program ini bersifat semi scholarship.
“Namun, saat itu, saya tengah mengerjakan proyek yang berkaitan dengan implementasi AI. Hal itu membuat saya merasa Asah dapat menjadi tempat yang tepat untuk memperdalam skills dan berkembang lebih jauh,” ungkapnya.
Akhirnya, setelah bersaing dengan ribuan pendaftar Asah, Fajri berhasil diterima sebagai peserta dalam alur belajar React and Back-End Development with AI.
Manajemen Waktu Membantu Fajri Berprestasi dalam Program Asah

Fajri bercerita bahwa pengalaman belajarnya dalam program Asah sangat dinamis. Dari berbagai pengalaman yang ia lalui, bagian yang paling ia soroti adalah capstone project. Dalam proyek akhir tersebut, Fajri berperan sebagai project manager dan back-end developer.
Ia mengaku bahwa penggarapan proyek akhir ini cukup menantang karena di waktu yang sama, Fajri tengah menjalani perkuliahan di kampus berbobot 22 SKS. Selain itu, Fajri pun mesti mengemban tugas dalam program mahasiswa wirausaha (PMW) di kampusnya yang bernama Recylo, sebuah platform pengelolaan sampah bertenaga AI.
“Saya sempat kewalahan. Namun, saya ingat salah satu materi soft skills dalam program Asah tentang manajemen waktu. Dalam kelas tersebut, saya mengenal metode empat kuadran waktu yang diperkenalkan oleh Stephen Covey. Metode tersebut membuat saya berhasil menyelesaikan seluruh tanggung jawab saya.”
Selain materi manajemen waktu, Fajri merasa mentornya berperan besar dalam kesuksesan belajarnya dalam program Asah. Mentornya, yang ia panggil dengan sebutan Kak Zaenal, senantiasa mengingatkan progress belajarnya dan memberikan arahan. Dedikasi mentornya tersebut membuat Fajri berhasil raih prestasi dalam program Asah, yakni menjadi salah satu lulusan terbaik dan capstone project-nya menyandang gelar best capstone project.
Berkarya sebagai Software Engineer Sekaligus Back-End & AI Engineer Intern

Pengalaman belajar Fajri dalam program Asah berkontribusi banyak saat ia berkarya di Recylo sebagai seorang software engineer. Ia mengaku lebih terbiasa menulis kode dengan struktur yang rapi dan modular, menerapkan validation, memanfaatkan Redis, serta menyusun alur pengembangan dengan lebih terencana.
Selain itu, Fajri pun memperoleh kesempatan untuk menjadi seorang Back-End & AI Engineer Intern di PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. Ia bertugas untuk membangun sebuah sistem dan API untuk proyek chatbot berbasis RAG.
Dari berbagai kelas yang ada dalam program Asah, Fajri mengatakan bahwa kelas Belajar Fundamental Back-End dengan JavaScript adalah yang paling bermanfaat untuknya. Ia merasa materinya cukup menantang dan lebih advanced dibandingkan pengetahuan yang ia miliki sebelumnya.
“Di kelas ini, saya belajar banyak hal penting, mulai dari validasi form untuk memastikan data yang masuk sesuai, hingga normalisasi database agar sistem lebih optimal. Meski submission saya sempat ditolak tiga kali, saya jadi belajar cara memperbaiki kesalahan saya hingga akhirnya tugas saya diterima,” kenangnya.
Skills Teknis Perlu Diimbangi dengan Soft Skills

Tentu banyak talenta digital ingin bisa mengikuti jejak Fajri. Saat ditanya apa motivasi atau tips yang ingin ia bagikan pada siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya, yakni berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik dalam program intensif di Dicoding dan memperoleh kesempatan magang. Selain itu, Fajri juga menekankan pentingnya keberanian untuk mencoba.
“Jangan menunggu merasa ‘siap’ untuk mulai mencoba. Banyak kesempatan datang justru ketika kita masih dalam proses belajar,” ujarnya.
Fajri pun menyampaikan bahwa skills teknis perlu diimbangi dengan soft skills untuk membangun kesiapan kerja. Oleh karenanya, ikut program seperti Asah yang membekali kedua skills tersebut sangatlah penting.
“Terakhir, jangan takut mulai dari hal kecil. Ikuti program belajar, bangun proyek, dan manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar dari prosesnya. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tapi kalau dijalani dengan konsisten, perlahan akan membuka banyak pintu yang sebelumnya tidak kita bayangkan,” tutup Fajri.
