belajar kotlin android

Kenapa Anak Sosial Hijrah Belajar Kotlin Android: 3 Alasan.

Kenapa Anak Sosial Hijrah Belajar Kotlin Android: 3 Alasan

Halo Sobat Ambyar! Eh salah.. Hai Android developer! Gimana kabarnya nih? hehe semoga kalian semua dalam keadaan sehat ya gengs. Aamiin!

Kenalin namaku Catur, aku seorang lulusan non IT dari sebuah universitas swasta di Bandung. Tadinya anak sosial, kini aku bersyukur telah menjadi Google Associate Android Developer. 

Kini aku juga bekerja sebagai reviewer di Dicoding. Lah? Yapp aku seorang lulusan manajemen yang bahkan sejak SMA mengambil jurusan ilmu sosial. Kok bisa? Penasaran kan? Hehe ikutin terus artikel ini yah.

Dulu Galau dan Rebahan

Berawal tepat pada saat lulus kuliah, aku sempat merasakan apa yang mungkin dipikirkan oleh banyak orang, kata-kata seperti habis ini mau apa? Nanti kerja dimana? besok mau ngapain? terlintas dalam pikiran di tengah riuh-nya perayaan wisuda kala itu. Namun, “ah pede ajalahh nanti juga kerja”  kata ku sambil meyakinkan diri. Dengan bekal IPK sederhana dan beberapa pengalaman organisasi aku yakin bisa cepat dapat pekerjaan yang sesuai dengan ekspektasi ku, dulu..

Setelah itu aku mulai melamar pekerjaan di berbagai perusahaan yang sesuai dengan bidang dan keinginanku. Hasilnya? Nihil hehe. “Manusia merencanakan tapi Tuhan yang menentukan” dalih ku mencari alasan, padahal kenyataanya aku saja yang terlalu idealis dan kurang punya skill untuk bersaing.

Selama beberapa bulan aku masih produktif mencari pekerjaan namun pada akhirnya “rebahan” adalah aktivitas utama yang mengisi hari-hari ku saat itu. Sampai datanglah seorang kerabat dan memberikan nasehat. Kurang lebih seperti ini. “Kamu itu kerja mau ngapain? Cari uang? Kamu salah besar, masih muda kerja itu cari pengalaman dan ilmu! Banyak orang diluar sana yang kerja hanya untuk uang dan akhirnya mereka tidak berkembang”. Nah dari situlah titik balik untuk bangkit dan merubah mindset ku untuk mau belajar.

Gara-gara Dicoding, jadi Google AAD

Tepat bulan Februari tahun lalu aku diberikan kesempatan magang di dicoding dan mulai belajar pengembangan aplikasi Android dengan Java. Layaknya orang awam yang tidak paham dunia pemrograman, akupun kesulitan dengan pertanyaan seperti “class itu apa sih?”, “String itu apa sih?” , “ini kenapa harus pake semicolon gini sih?”. Wah pokoknya setiap hari tuh penuh dengan tantangan dan rasanya pengen nyerah. Tapi untungnya aku selalu dapat support serta saran dari teman-teman di dicoding. hehe makasih yaa manteman :’)

Beberapa bulan setelahnya akhirnya aku bisa menyelesaikan salah satu kelas di dicoding. Waktu itu masih MADE namanya (sekarang BFAA) dan itu selesai di waktu yang mepet hehehe. Setelah itu langsung deh gas belajar kelas Jetpack untuk persiapan ikut sertifikasi AAD, oh yaa di kelas itu kita bakal diajarin soal apa itu Android Jetpack, Architecture Component,  Testing dan.. pokoknya banyak deh hehe.

Dan yang ditunggu pun akhirnya tiba gaes. Aku mengikuti Sertifikasi Associate Android Developer, dan hasilnya?

 

 

Yahh, “Manusia merencana..” hehe gak gak, aku sadar kenapa aku belum bisa lulus karena kurang persiapan, bukan karena materi yang diajarkan kurang loh yaa, tapi memang aku yang kurang latihan dan beberapa faktor teknis pada saat interview. Tapi kali ini aku ga mau nyerah dong dan atas saran dari rekan aku mulai mempelajari Kotlin.

Apa Itu Kotlin?

Nah sedikit membahas sejarahnya, jadi pada tahun 2010 JetBrains memulai proyek open sources yaitu sebuah bahasa pemrograman dengan pengetikan statis yang berjalan pada JVM ataupun menggunakan kompiler LLVM yang bisa juga dikompilasikan ke dalam bentuk kode sumber JavaScript. 

Lalu kenapa JetBrains menamakannya dengan Kotlin? ini karena Kotlin merupakan sebuah pulau yang berada ditempat yang sama dengan markas Jetbrains. Yaitu di Saint Petersburg, Rusia. Dirilis pada bulan Februari 2016 dengan versi 1.0 dan saat ini sudah mencapai versi 1.3.70.

Mengapa Kotlin?

Karena tergolong proyek open-sources Kotlin dapat bebas kita gunakan secara gratis, kita juga bisa melihat proses pengembangan atau bahkan ikut berkontribusi di dalamnya. Terus kita bisa menggunakan Kotlin untuk pengembangan apa aja sih? Dengannya kita bisa mengembangkan sebuah aplikasi server, website, maupun Android. Bahkan saat ini sedang dikembangkan Kotlin/Native yang memungkinkan developer menggunakan Kotlin untuk pengembangan di platform seperti desktop, Mac OS, dan iOs, menarik gak sih?

Kotlin sendiri menggunakan pendekatan OOP dan Functional, dimana kita bisa memilih salah satu saat menggunakannya atau menggunakan keduanya sekaligus. Ini dikarenakan Kotlin didesain berdasarkan pemahaman pemrograman dari Java Developer serta IntelliJ sebagai IDE utamanya.

Perbedaan Kotlin dan Java.



Sangat intuitif dan mudah dipelajari oleh Java Developer. Sebagian besar bahasa Kotlin sangat mirip dengan Java. Kotlin pun didesain untuk dapat bekerja sama dan bergantung pada kode bahasa Java, seperti berbagai framework yang ada pada Java.

Alasanku Belajar Kotlin Android

Namun pasti ada perbedaan dong, dikarenakan sintaksisnya tidak sama dengan bahasa Java, terus apa aja sih bedanya? Nah, Berikut penjelasan perbedaan dan alasan kenapa aku tertarik belajar Kotlin Android.

#1 Tipe Data yang simpel.

Setelah mulai mempelajari Kotlin, aku merasa kalo bahasa pemrograman ini tuh mudah untuk dipelajari dan lebih sederhana. Syntax di dalam Kotlin mudah untuk dibaca dan bisa dibilang bahasanya lebih “manusiawi”. Misalnya begini, jika pada kode Java kita mengenal tipe data primitif( Int, double, Long dll) dan tipe reference(String). Pada Kotlin, semua tipe data tersebut bertindak sebagai object dan dapat kita sederhanakan menjadi dua tipe variabel yaitu:

  • var untuk tipe data yang nilainya berubah-ubah.
  • val untuk tipe data yang niainya tetap (final).

Mudah untuk di ingat kan? Mirip dengan final pada Java. val atau yang artinya value akan mendeklarasikan sebuah constants atau object yang tidak bisa diganti setelah kita inisialisasikan. Sedangkan var atau variable, kita masih bisa mengganti value dari variabel yang sudah diinisialisasikan tersebut.

#2 Data class.

Terus nih yah, jika pada kode Java kita harus membuat fungsi getter dan setter secara manual untuk mengubah atau mendapatkan nilai dari sebuah properti pada kelas POJO, di Kotlin ada yang namanya data class yang memungkinkan kita untuk membuat suatu object tanpa perlu menuliskan fungsi setter dan getter untuk masing-masing properti, contohnya gini nih :

 

 

Terlihat lebih simpel kan? Kita juga bisa menghindari boilerplate code pada saat menuliskan kode dengan menggunakan bahasa pemrograman Java.

#3 Kotlin Property Access Syntax

Nah alasan ketiga dan gak kalah menarik, Kotlin memiliki Property Access Syntax yang memungkinkan kita untuk mengakses suatu properti tanpa menggunakan getter dan setter seperti yang biasa digunakan pada bahasa Java, Contohnya seperti ini nih gaes :

Kode Java

 

Kode Kotlin

 

Bisa dilihat kan perbedaan kode yang dituliskan menggunakan Java dan Kotlin.  Yang pertama, pada Kotlin kita tidak perlu memanggil findViewById() saat proses binding view. Kemudian seperti yang sudah dijelaskan, Kotlin tidak mengenal getter dan setter untuk mengakses suatu properti. Dan yang terakhir dan paling menyenangkan, semicolon (;) pada Kotlin tidak perlu dituliskan, yeay!

Nah itulah beberapa kelebihan yang Aku rasakan dari bahasa pemrograman Kotlin dan menjadi modal utama ku untuk ikut sertifikasi AAD lagi di Bulan Februari kemarin, doain lulus ya gengs :’)

Dengan berbagai fitur yang menjadi kelebihannya, tidak heran perkembangan Kotlin pada Android sangatlah cepat. Buktinya di acara Google I/O 2019 Tahun lalu, Google mengumumkan Kotlin First! Yaa Kotlin ditetapkan sebagai bahasa pemrograman nomor satu untuk Android.

“Tidak ada yang tak mungkin, yang tak mungkin hanyalah ketidakmauan.”
(Catur)

Itulah beberapa alasan mengapa Kotlin sangat menarik untuk dipelajari, gimana gengs tertarik untuk mempelajari Kotlin? Tenang, dicoding telah menyiapkan kelas khusus untuk kamu yang mau belajar Kotlin secara fundamental dan komprehensif yaitu, kelas Memulai Pemrograman Dengan Kotlin (https://www.dicoding.com/academies/80).

Kenapa Anak Sosial Hijrah Belajar Kotlin Android: 3 Alasan – end 

Baca artikel lainnya:

-Cara Mengerjakan Latihan pada Kelas Memulai Pemrograman dengan Kotlin.
(https://blog.dicoding.com/cara-mengerjakan-latihan)

-Lulus kelas Kotlin Android Developer Expert, BISA.
(https://blog.dicoding.com/lulus-kelas-kotlin)

-Pemuda Bali ini Mengembangkan Aplikasi Layanan Ambulan Desa Berbasis Kotlin.
(https://blog.dicoding.com/pemuda-bali-ini-mengembangkan)

 

Mau jago bikin aplikasi juga? Nah, Dicoding Academy tempatnya: Coba kelas ini ya:

  1. Kelas Belajar Membuat Aplikasi untuk Pemula (https://www.dicoding.com/academies/51)
  2. Kelas Belajar Fundamental Aplikasi Android (https://www.dicoding.com/academies/14)
  3. Kotlin Android Developer Expert (https://www.dicoding.com/academies/55)

 

Belajar mengembangkan aplikasi atau game dengan kurikulum yang telah divalidasi langsung oleh industri dengan Dicoding Academy.

Belajar di Dicoding Sekarang →
Share this:

Code Reviewer at Dicoding Indonesia (Google Associate Android Developer)