Cerita Dzikri Ibrahim Wahhab, Lulusan Dicoding Bootcamp
Ketika teman-temannya terus menjalani perkuliahan, Dzikri Ibrahim Wahhab (20) justru harus mengambil jeda. Pekerjaannya sebagai operator produksi di Perum Peruri mengharuskannya beradaptasi dengan sistem kerja shift sehingga mahasiswa Teknik Informatika ini memutuskan untuk cuti kuliah. Namun, bagi Dzikri, berhenti sejenak dari ruang kuliah bukan berarti berhenti bertumbuh.
Di sela-sela pekerjaannya, pemuda kelahiran Bandung ini mencari jalan lain agar kemampuan teknologinya tetap berkembang. Dicoding Bootcamp kemudian menjadi pilihannya untuk mengisi masa cuti dengan belajar secara intensif. Keputusan tersebut membawanya meraih predikat Best Capstone Project sekaligus membangun bekal untuk mewujudkan cita-citanya berkarier di industri teknologi.
đź’» Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangMemilih Tetap Bertumbuh di Tengah Masa Cuti

Ketertarikan Dzikri terhadap teknologi baru muncul ketika ia mulai berkuliah Teknik Informatika di Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI). Mulanya, teknologi hanya menjadi bagian dari tuntutan akademis. Namun, semakin banyak belajar, ia melihat besarnya peluang untuk berkembang di industri tersebut.
Perjalanannya berubah ketika memasuki semester tiga. Dzikri mendapat kesempatan bekerja di Perum Peruri sebagai operator produksi. Demi menyesuaikan diri dengan jadwal kerja shift, ia mengambil cuti kuliah. Alih-alih membiarkan kemampuan teknisnya berhenti berkembang, Dzikri memilih mencari kesempatan belajar lain.
Ia mengenal Dicoding Bootcamp setelah rutin mengikuti media sosial Dicoding dan menghadiri acara Badan Ekraf Developer Day 2025. Sebelumnya, Dzikri sempat belum berhasil lolos program Asah 2025 led by Dicoding. Kegagalan tersebut tidak menghentikan keinginannya untuk belajar.
“Saya yakin dengan Dicoding karena kurikulumnya yang sudah teruji, terstruktur, dan relevan dengan industri, sehingga saya merasa ini adalah langkah yang paling tepat untuk mengasah web development skills secara intensif,” ungkap Dzikri.
Belajar di Tengah Padatnya Jadwal Kerja Pabrik

Menjadi pekerja purnawaktu sekaligus peserta bootcamp bukan perkara mudah. Setelah bekerja di pabrik, sebagian besar energi Dzikri telah terkuras. Perubahan jadwal shift secara mendadak juga beberapa kali berbenturan dengan agenda Dicoding Bootcamp. Bahkan, tuntutan pekerjaan membuatnya harus melewatkan acara kelulusan program.
Dzikri menyiasatinya dengan mengatur waktu secara ketat. Porsi bekerja, belajar, dan beristirahat diperhitungkan agar ia dapat menyelesaikan pembelajaran tanpa mengabaikan kesehatan. Di tengah proses tersebut, capstone project menjadi pengalaman yang paling membekas baginya.
“Di capstone project, saya benar-benar merasakan simulasi dunia kerja yang dinamis. Dengan adanya timeline yang ketat dari Dicoding, tekanan, lelah, hingga pacuan adrenalinnya terasa sangat nyata,” ujarnya.
Melalui proyek tersebut, Dzikri belajar mengenali karakter anggota tim, membagi tanggung jawab, menghadapi tekanan, dan bekerja menuju tujuan yang sama. Menurutnya, proses membangun sebuah produk bahkan sudah dimulai jauh sebelum baris kode pertama ditulis.
Mentor dan Capstone Project Membentuk Kesiapan Profesional

Bukan hanya proyek akhir, sesi bersama mentor menjadi salah satu keunggulan Dicoding Bootcamp yang dirasakan Dzikri.
“Pembelajaran dari pengalaman dan perspektif orang lain di sesi tersebut sangat memandu saya saat menghadapi kebingungan, sekaligus membantu saya mengambil keputusan yang lebih bijak dalam proses belajar maupun berkarier,” jelasnya.
Pengalaman tersebut membuat kemampuan adaptasi, kerja sama, kepemimpinan, dan fleksibilitas Dzikri semakin terasah. Dari sisi teknis, alur pembelajaran yang terstruktur juga membantunya memahami tahapan yang perlu ditempuh untuk terus meningkatkan kompetensi.
Pencapaiannya meraih predikat Best Capstone Project pun menjadi salah satu bukti kompetensi yang kini ia bawa untuk mempersiapkan transisi karier ke industri teknologi.
Membawa Cara Berpikir Teknologi ke Lingkungan Kerja

Meski pekerjaannya saat ini berada di bidang produksi manufaktur, Dzikri merasakan manfaat Dicoding Bootcamp dalam kesehariannya. Sebagai operator produksi, ia bertanggung jawab untuk memastikan proses produksi berjalan sesuai standar kualitas, keamanan, dan target perusahaan.
Pembelajaran logika pemrograman membuatnya lebih sistematis ketika menghadapi persoalan operasional. Ia terbiasa memecah persoalan untuk menemukan akar penyebab sebelum menentukan solusi. Soft skills dari Dicoding Bootcamp juga membantunya berkomunikasi dengan rekan kerja dan atasan, mengatur waktu, serta berkoordinasi untuk mencapai target produksi.
Selepas bootcamp, Dzikri melanjutkan kembali pendidikan S1 Teknik Informatika dengan berpindah ke Universitas Buana Perjuangan Karawang agar lebih dekat dengan tempat tinggal dan pekerjaannya. Perjalanannya menuju industri teknologi memang belum selesai, tetapi kini ia membawa fondasi yang lebih kuat untuk langkah berikutnya.
“Dicoding Bootcamp bukan sekadar menawarkan materi pembelajaran yang terstruktur dan relevan dengan kebutuhan industri, tetapi juga menghadirkan ekosistem belajar yang sangat mendukung. Mulai dari bimbingan mentor yang berpengalaman, simulasi kerja tim melalui capstone project, hingga pembinaan soft skills dan jaringan komunitasnya,” tutur Dzikri.
Bagi Dzikri, masa cuti yang semula dapat menjadi jeda justru berubah menjadi kesempatan untuk bergerak lebih jauh. Sebagaimana pesan yang kini ia pegang,
“Fear is not real; it exists only in the mind. Don’t let fear hold back our full potential,” tutupnya.