Cerita Ibu Dini Adistiani, Lulusan Coding Camp powered by DBS Foundation
Di balik setiap murid yang tumbuh, ada guru yang juga tak berhenti belajar. Bagi Ibu Dini Adistiani (38), menjadi guru RPL bukan hanya tentang mengajarkan kode dan logika pemrograman, tetapi juga tentang memastikan dirinya terus relevan dengan perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat.
Terinspirasi dari kedua orang tuanya yang juga berprofesi sebagai guru, Ibu Dini memilih jalan pengabdian yang sama, yakni mendidik generasi masa depan. Melalui Coding Camp powered by DBS Foundation, ia membuktikan bahwa peran sebagai pendidik dan ibu bukan penghalang untuk terus berkembang demi menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.
đź’» Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangTerinspirasi oleh Kedua Orang Tuanya untuk Menjadi Guru

Inspirasi Ibu Dini untuk menjadi seorang guru tumbuh dari lingkungan keluarga yang sangat dekat dengan dunia pendidikan. Sejak kecil, beliau menyaksikan dedikasi kedua orang tuanya dalam mendidik dan membimbing generasi muda. Ayahnya, Bapak Adang Suryana, dan ibunya, Ibu Encih Mintarsih, sama-sama berprofesi sebagai guru.
Melihat ketulusan dan semangat kedua orang tuanya dalam mengajar telah menanamkan nilai-nilai pengabdian, kesabaran, dan kepedulian terhadap pendidikan. Pengalaman tersebut menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi Ibu Dini untuk mengikuti jejak mereka. Baginya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk memberikan manfaat, membentuk karakter peserta didik, serta turut berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karenanya, beliau mantap berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia, Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer.

Ilmu yang Ibu Dini peroleh dari bangku perguruan tinggi mengantarkannya menjadi salah satu guru produktif bagi kompetensi keahlian Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) di SMKN 1 Kota Cilegon. Beliau mengampu mata pelajaran Dasar Program Keahlian Pengembangan Perangkat Lunak (DPK PPL) dan Gim.
“Saya memiliki tanggung jawab besar untuk memperkenalkan dasar-dasar pemrograman serta membentuk murid-murid agar mampu berpikir secara logis dan komputasional di sekolah,” ungkap Ibu Dini.
Menyadari bahwa bidang yang beliau ajarkan berkembang sangat cepat, Ibu Dini memiliki keinginan untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kapasitas dirinya agar murid-muridnya senantiasa memperoleh wawasan yang relevan dengan teknologi masa kini.
“Saya ingin menjadi guru yang tidak hanya mengajar teori, tetapi juga memahami perkembangan teknologi terbaru dan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan industri saat ini. Oleh karenanya, saya melihat program Coding Camp powered by DBS Foundation sebagai kesempatan yang sangat baik bagi saya untuk terus meningkatkan kompetensi diri,” ujar Ibu Dini.
Menyeimbangkan Peran sebagai Guru, Ibu, dan Peserta Coding Camp powered by DBS Foundation

Ibu Dini mengenal program Coding Camp powered by DBS Foundation dari rekan sejawat yang mengajak belajar dan bertumbuh bersama. Kalangan guru SMKN 1 Kota Cilegon telah lebih dulu mengenal Dicoding sebagai platform edukasi teknologi terdepan di Indonesia. Dari Dicodinglah Ibu Dini dan rekan-rekannya mengenal program yang diinisiasi oleh DBS Foundation ini.
Perjalanan belajar Ibu Dini dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation tak lepas dari tantangan. Sebagai seorang pendidik sekaligus ibu dari dua anak yang masing kecil-kecil, ia perlu bisa menyeimbangkan kedua perannya tersebut.
“Mulanya, saya hampir menyerah karena kesulitan mengatur waktu. Namun, karena waktu belajar dalam Coding Camp powered by DBS Foundation masih tergolong fleksibel, saya mampu menjalaninya.”

Ibu Dini mengaku bahwa pengalaman belajarnya dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation terasa nyata karena teori yang telah beliau pelajari perlu diimplementasikan dalam tugas yang disebut dengan “submission.” Tugas tersebut berbasis praktik, sehingga pemahaman Ibu Dini semakin kuat.
Selain itu, proses belajar Ibu Dini juga terasa jauh lebih maksimal karena ada pendampingan dari fasilitator yang merupakan lulusan program intensif di Dicoding. Para fasilitatorlah yang memantau progres belajar Ibu Dini melalui pertemuan mingguan dan komunikasi via WhatsApp.
“Walau terkadang cukup melelahkan, saya percaya bahwa proses belajar dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation adalah investasi untuk masa depan saya dan murid-murid saya. Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan pelatihan ini.”
Mengimplementasikan Cara Belajar dalam Coding Camp powered by DBS Foundation di Kelas

Selesai mengikuti berbagai kelas dalam Coding Camp powered by DBS Foundation, Ibu Dini merasa wawasannya bertambah dan mampu mendukung pekerjaannya mengajar kompetensi keahlian RPL. Beliau bercerita bahwa program ini sangat membantu beliau untuk lebih siap mengajar di tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
“Ilmu yang saya peroleh dari Coding Camp powered by DBS Foundation saya implementasikan saat mengajar mata pelajaran Pemrograman Web di sekolah,” ungkap Ibu Dini.
Beliau menambahkan bahwa kelas Belajar Dasar Pemrograman Web sangat relevan dengan mata pelajaran yang beliau ampu tersebut. Kelas tersebut memberikan pemahaman lebih tentang logika pemrograman, penyusunan proyek, serta praktik coding yang lebih terstruktur. Ibu Dini pun mengungkapkan bahwa materi yang beliau pelajari sangat membantunya dalam menjelaskan konsep pemrograman kepada murid-murid.

Belajar dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation memotivasi Ibu Dini untuk membuat pembelajaran yang lebih kreatif dan berbasis praktik. Beliau mulai mengajak murid membuat proyek sederhana, berlatih coding yang lebih terarah, dan belajar berbasis praktik. Ibu Dini juga melakukan simulasi sebagai klien yang meminta murid menjadi programmer untuk mengerjakan permintaannya.
Sebagai pendidik sekaligus alumni program Coding Camp powered by DBS Foundation, Ibu Dini memiliki harapan agar para guru dapat senantiasa meningkatkan kapasitas diri di bidang teknologi supaya siap membekali siswa dengan kemampuan yang relevan di masa depan.
“Menurut saya, belajar bukan hanya tugas siswa, tetapi juga guru, khususnya guru yang mengajarkan kompetensi teknologi. Alasannya, teknologi berkembang begitu cepat dan kita sebagai pendidik harus senantiasa relevan dengan perkembangan tersebut. Jadilah contoh dalam belajar agar siswa turut termotivasi untuk berkembang,” tutup Ibu Dini.
